Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kesayangan Keluarga Mertua


__ADS_3

Keesokan harinya. Di sebuah Mansion mewah yaitu Mansion milik Andrew.


Saat ini di salah satu kamar di Mansion itu, seorang wanita nampaknya sedang membujuk suaminya dengan wajah memelasnya.


"Mas, ayolah Aidah ikut yah ke kantor. Aidah janji nggak akan banyak gerak, lagian kan Mas ada jagain Aidah? Boleh yah?" ujar wanita itu yang ternyata adalah Aidah yang sedang menatap memelas suaminya, berusaha membujuk suaminya itu yang melarangnya untuk kembali bekerja padahal dirinya sudah betah bekerja lagi dan ia pun juga baru bekerja beberapa bulan masa langsung keluar lagi begitu saja. Kehamilannya juga belum besar jadi ia masih bisa untuk bekerja stabil.


Andrew menghela nafas dengan segala bujuk rayu istrinya itu, apa lagi saat melihat wajah memelas istrinya yang baginya terlihat sangat imut. Kalau seperti ini terus bagaimana dia bisa tega untuk menolak? Tentu Andrew tidak tega untuk itu.


"Hah, baiklah sayang. Tapi ingat kamu nggak boleh capek, kamu nggak boleh banyak gerak kemana-mana dulu!!" tegas Andrew.


Aidah langsung mengangguk setuju dengan riabgnya, "Siap Mas, Aidah janji" ujar Aidah mempraktekkan seperti hormat kepada Andrew dengan senyum gembiranya.


Andrew juga ikut tersenyum melihat senyum gembira istrinya.


"Baiklah, ayo siap-siap dulu" ajak Andrew.


"Siap Mas."


Aidah pun pergi siap-siap, sementara Andrew membantu menyiapkan pakaian istrinya. Mungkin, jika ada yang tau bakalan bilang kalau apa yang Andrew lakukan seharusnya dia tidak lakukan karena akan membuat istrinya bisa-bisa tidak menghormatinya sebagai kepala keluarga, tapi bagi Andrew memperlakukan istrinya bak ratu sangat penting untuknya, apa lagi saat ini istrinya sedang hamil buah hatinya tentu Andrew akan melakukan apa saja demi menjaga dan melihat senyum indah di bibir manis istrinya itu.


Setelah Aidah siap, mereka berdua pun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Perusahaan.


"Selamat pagi sayang" sapa ketiga wanita yang tak lagi muda itu saat melihat Aidah yang baru saja sampai di meja makan bersama Andrew.


"Selamat Pagi juga Mom, Tan" sapa balik Aidah dengan senyumnya kepada Mama mertua dan Tante dari suaminya itu.


"Mari sayang, duduk dulu" Selani dengan gercepnya membantu menantunya itu untuk duduk di kursi meja makan. Sedangkan Ana dan Nita langsung menyiapkan makanan khusus ibu hamil yang sudah mereka siapkan untuk Aidah, lalu menaruhnya di depan Aidah.

__ADS_1


"Itu buatan Tante Ana dan Tante Nita khusus buat kamu sangat cocok untuk ibu hamil, kamu makan yang banyak yah sayang" ujar Tante Ana dengan senyum senangnya menatap Aidah.


Aidah terharu melihat keantusiasan dan kebaikan keluarga suaminya itu. "Makasih Mom, Tan. Kalian baik banget" puji Aidah dengan senyum harunya. "Aidah pasti akan makan semua yang Tante buat. Pasti semuanya enak ini" lanjutnya dengan mengacungkan jempolnya kepada Ana dan Nita.


"Baiklah sayang, makan pelan-pelan saja."


Berbeda dengan ketiga wanita yang tak lagi muda itu, seorang wanita yang masih muda yang sudah duduk di kursi meja makan sedari tadi malah salfok (salah fokus) dengan pakaian Aidah yang memakai kemeja kerja bukan pakaian untuk sehari-hari.


"Kakak mau kemana pakai baju seperti itu?" tanya Cika yang sedari tadi diam dan hanya menatap Aidah di perlakukan bak ratu oleh Mom dan Tantenya.


Aidah yang baru saja mau menyendokkan makanan langsung menoleh ke Cika saat mendengar pertanyaan Cika, "Eh, Kakak mau pergi kerja sayang" jawab Aidah dengan senyum manisnya ke Cika.


"Apa!!" Semuanya kaget dan langsung menatap horor Andrew.


Andrew menghela nafas melihat tatapan horor keluarganya itu yang di arahkan kepadanya.


"Kenapa pergi kerja sayang? Apa anak ini yang suruh kamu? Kamu nggak usah takut kami semua ada di pihak kamu!!" ujar Selani dengan menatap serius menantunya itu.


"Apa cucu keras kepala Kakek memaksa kamu? Bilang sama Kakek biar Kakek ikut hajar dia, jangan takut!!" tegas Kakek.


Semuanya pun juga bertanya ke Aidah masalah itu. Aidah langsung menggeleng mendengar semua pertanyaan keluarga suaminya itu. Tapi, Aidah terharu karena mereka membela dirinya.


"Bukan semuanya, tapi Aidah yang minta sendiri untuk ikut bekerja lagi ke kantor" ujar Aidah.


"Tapi, kenapa sayang? Lebih baik kamu di Mansion saja hmm, apa ada yang kurang di Mansion ini sampai kamu mau bekerja lagi? Bilang saja kepada kami!" ujar Tante Ana yang khawatir dengan Aidah jika ikut ke kantor, apa lagi bekerja kembali.


Aidah langsung menggeleng mendengar pertanyaan Tante dari suaminya itu, "Bukan Tan, semuanya lengkap kok. Tapi, Aidah udah senang dan nyaman bekerja seperti itu beberapa bulan ini. Izinin Aidah yah bekerja lagi, kalian tenang saja Aidah nggak akan banyak gerak kok, apa lagi kan ada Mas Andrew di sana yang bisa jaga Aidah" ujar Aidah memperlihatkan wajah memelasnya kepada semuanya.

__ADS_1


Semuanya menghela nafas mendengar penjelasan dari Aidah, apa lagi menatap wajah Aidah yang memelas itu.


"Baiklah sayang kamu boleh kerja. Tapi, ingat kamu nggak boleh capek, kalau ada apa-apa tanya Andrew saja!" tegas Selani mengizinkan, karena ia juga tau bagaimananya sebab waktu Ayahnya dulu koma ia yang harus menggantikan Ayahnya itu untuk bekerja memimpin Perusahaan, dan juga Mafia yang di bangun Ayahnya untuk sementara waktu dengan di bantu oleh Erik.


"Benar apa kata Selani cucu menantu. Dan untuk kamu Andrew, jaga baik-baik cucuku ini, awas saja kalau sampai lecet sedikit saja!!" tegas Kakek Arsen, menatap tajam Andrew.


Selalu begini, keluarganya pasti akan selalu membela Aidah dan akan menjadikannya kambing hitam untuk di marahi kalau saja sampai Aidah lecet sedikit pun. Tapi, Andrew hanya dapat menghela nafasnya karena sejatinya Andrew juga senang karena keluarganya memperlakukan istrinya dengan sangat baik, keluarganya pun menyayangi istrinya itu.


"Iya Kek. Tanpa Kakek minta pun, Andrew akan sigap selalu menjaga istri Andrew" jawab Andrew tegas.


"Baiklah, mari makan semuanya."


Mendengar itu, semuanya pun mengangguk dan makan bersama dengan pembicaraan canda gurau melengkapi makan bersama itu, di meja makan itu nampak suasananya sangat harmonis.


Setelah sarapan itu, Andrew dan Aidah langsung pamit untuk ke Perusahaan. Tapi, sebelum berangkat Aidah dan Andrew, terutama Andrew mendapatkan titah tegas dari keluarganya untuk menjaga Aidah dengan baik-baik. Andrew pun menjawab dengan tak kalah tegasnya titah dari keluarganya itu.


*****


Saat ini sudah menunjukkan pukul 10:15, tapi sampai sekarang Aidah hanya di suruh untuk membacakan dan mengingatkan jadwal Andrew saja. Aidah saat ini duduk di kursinya dengan wajah di tekuknya menatap suaminya yang tengah fokus mengerjakan berkas-berkasnya.


"Mas, ada yang bisa Aidah bantu lagi?" tanya Aidah menatap memelas suaminya.


Andrew yang mendengar itu menoleh, "Nggak ada sayang, lihatin jadwal Mas saja dan beritahu Mas jika sudah waktunya" ujar Andrew kepada istrinya itu.


Wajah Aidah tambah di tekuk mendengar itu, sudah sedari tadi ia mempertanyakan perihal yang sama, dan suaminya itu juga sedari tadi menjawab itu juga setiap Aidah bertanya.


Ceklek, pintu ruangan itu terdengar terbuka dari luar.

__ADS_1


Andrew dan Aidah langsung mengalihkan perhatiannya ke pintu itu.


"Siapa yang berani masuk tanpa mengetuk dulu!!" Andrew menatap tajam ke arah pintu yang baru saja terbuka itu, apalagi setelah melihat siapa yang datang itu.


__ADS_2