
Saat ini Andrew menelan salivanya kasar menatap pohon Mangga yang lumayan tinggi di depannya.
"Ayo Mas manjat" pinta Aidah menatap penuh harap dengan mata berbinarnya ke suaminya itu.
Tadi, saat Aidah meminta itu Andrew mau tidak mau harus menuruti permintaan istirnya. Tapi, mereka sempat mengerjakan sebagian tugas kantor dulu, lalu ke tempat ini untuk memanjat Mangga muda untuk Aidah. Untung saja, ada seseorang yang punya pohon Mangga dekat Perusahaan jadi Andrew memutuskan untuk memanjat pohon di rumah itu saja, Andrew sudah bernegosiasi akan membayar mahal tapi pemilik rumah itu malah menggratiskan dan mengizinkan Andrew mengambil berapapun yang istrinya yang lagi ngidam itu inginkan.
Andrew menoleh menatap kembali istrinya. Andrew seperti merasa silau melihat wajah istrinya itu, seperti ada cahaya saja di wajah istrinya yang sedang menatap penuh harap padanya.
"Kenapa masih diam di bawah Mas?" tanya Aidah heran, karena suaminya tidak naik-naik juga ke atas pohon. "Atau jangan bilang Mas tidak tau manjat yah?" tanya Aidah yang sepertinya tepat sasaran.
"Eh, si..siapa bilang! Mas tau kok! Ini mau manjat" Andrew pun menatap kembali pohon Mangga itu.
Andrew pun mulai menaikkan kakinya satu dengan perasaan was-wasnya. Ia memegang erat di batang pohon lalu mulai menaikkan kaki satunya lagi, Andrew mencoba untuk memanjat. Tapi, sayang Andrew langsung terjatuh padahal baru saja naik beberapa centi.
Aidah kaget melihat suaminya jatuh, ia pun langsung menghampiri suaminya itu. "Mas tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Aidah khawatir.
"Mas nggak kenapa-kenapa kok sayang, tenang saja" jawab Andrew dengan gelengan kepalanya. Andrew pun berdiri dengan di bantu Aidah.
"Mmm kalau Mas tidak bisa tidak usah, Aidah dan anak kita pasti bisa memaklumi kok" jawab Aidah dengan senyumnya, tapi wajahnya yang nampak lusu bisa terlihat nampak sangat jelas di mata Andrew.
Mana mungkin Andrew mau mengecewakan istri dan anaknya begitu saja, bukankah dalam kamus Andrew juga tak ada kata menyerah karena ia juga bahkan sudah pernah merasakan sakit saat latihan dulu jauh dari hanya jatuh dari pohon saja.
"Siapa bilang sih Mas tidak bisa, itu tadi hanya pemanasan saja kok sayang. Mas pasti bisa" ujar Andrew dengan penuh semangatnya.
'Kamu pasti bisa Andrew, bukankah ini hanya pohon saja!!' batin Andrew menyemangati dirinya sendiri.
Andrew pun kembali manjat dan yah dia terjatuh lagi ke tanah, Aidah semakin tak tega dengan suaminya itu.
"Mas sudah lah, ayo kita belli saja" ajak Aidah karena merasa tidak tega, keinginannya tadi yang sangat besar entah hilang kemana setelah melihat suaminya sudah dua kali jatuh dari pohon.
"Tenang sayang, kamu nggak perlu khawatir ini biasa kok apa lagi Mas laki-laki. Kamu tunggu Mas, duduk saja di gasebo di sana" ujar Andrew dengan menunjuk sebuah gasebo yang ada di halaman rumah itu.
"Tapi-"
"Sayang" potong Andrew.
"Hah, baiklah. Kalau Mas tidak bisa dan capek bilang sama Aidah biar kita pulang saja. Tapi, semangat yah Mas" ujar Aidah merasa tidak enak dengan suaminya, tapi tetap memberi semangat kepada suaminya sebelum ke tempat gasebo untuk duduk menunggu suaminya mengambilkan Mangga untuknya.
"Siap, makasih sayang" ujar Andrew dengan senyum lembutnya.
Andrew pun menatap penuh semangat kali ini pohon Mangga di depannya itu.
"Kamu pasti bisa Andrew!!" gumamnya penuh semangat.
Andrew pun mencoba kembali naik ke pohon Mangga yang lumayan tinggi itu, dan Andrew kembali terjatuh.
Beberapa menit kemudian, setelah beberapa kali jatuh akhirnya Andrew berhasil naik mendapatkan satu Mangga muda. Andrew memegang sambil berteriak ke istrinya dengan senang, "Mas udah dapat sayang" ujar Andrew dengan melambaikan tangannya yang memegang Mangga itu dengan senangnya.
__ADS_1
Aidah ikut tersenyum senang dan haru dengan perjuangan suaminya.
"Iya Mas, Mas memang hebat. Yasudah, ayo turun" ujar Aidah, sembari berjalan ke arah pohon tempat di mana suaminya masih di atas setelah bersusah payah memanjat.
Andrew pun mengambil dua lagi, jadi Andrew hanya mengambil tiga buah saja. Setelah memetik itu, Andrew pun langsung turun dengan sangat hati-hati takutnya nanti jatuh.
Saat sampai di bawah, Andrew langsung memberikan tiga buah mangga itu ke istrinya dengan senang.
"Ini sayang Mangganya" ujar Andrew memberikan Mangga itu ke tangan istrinya dengan senyum senangnya. Karena perjuangannya tadi tidak sia-sia.
Aidah mengambil itu dengan senang dan haru juga.
"Makasih banyak Mas, Mas memang suami ter the best" ujar Aidah dengan haru dan senangnya, karena suaminya rela beberapa kali jatuh ke tanah bahkan pakaian suaminya pun sudah kotor hanya untuk memenuhi keinginannya.
Sepasang suami istri yang sedari tadi melihat tingkah Andrew dan Aidah dari salah satu sudut rumah itu menatap mereka dengan haru dan senang juga. Mereka adalah pemilik dari rumah dan pohon Mangga itu.
"Pak, mereka sangat saling mencintai yah, Mama bisa melihat betapa besarnya cinta mereka" ujar seorang wanita pemilik rumah itu yang tak lagi muda dengan senyum indahnya.
"Iya Ma, mereka persis seperti kita juga dulu waktu kamu sedang hamil. Tapi, sayang anak kita tidak bisa di selamatkan" ujar pria yang tak lagi muda itu yang berada di samping istrinya dengan raut wajah sedihnya ketika mengingat anaknya tak dapat di selamatkan. Anak yang mereka tunggu-tunggu tak dapat di selamatkan, bahkan sampai sekarang pun mereka tak di karuniai anak lagi.
"Pak jangan sedih lagi, mungkin ini sudah takdir yang kuasa" hibur istrinya, walaupun dirinya juga sedih mengingat hal itu.
"Iya Ma, Papa paham" ujar pria paruh baya itu dengan merangkul sayang istrinya.
Andrew dan Aidah yang sudah mendapatkan Mangga itu pun, menghampiri sang pemilik rumah yang sedari tadi menatap mereka berdua.
"Eh, iya nak. Ada apa? Kalian sudah mendapatkan buah Mangganya yah?" tanya Bapak paruh baya itu.
"Sudah Pak, Makasih yah Pak Bu karena sudah mengizinkan saya untuk memanjat dan memetik buah Mangga di pohon Bapak dan Ibu" ujar Andrew dengan senyum senangnya. Andrew mengeluarkan uang beberapa ratus ribu dan menyerahkannya kepada pria paruh baya itu, "Ini Pak, ada sedikit rezeki mohon di terima yah."
Bapak paruh baya itu langsung menolak dan mengembalikan uang itu ke Andrew lagi. "Bapak sudah bilang dari awal nak tidak usah, kami sangat ikhlas memberikannya kepada kalian, apalagi untuk istri kamu yang sedang ngidam. Bapak dan Ibu berharap pernikahan kalian langgeng terus sampai maut memisahkan" ucap Bapak paruh baya itu dengan senyum tulusnya.
"Iya benar nak, Ibu hanya ingin imbalannya jaga istri dan kandungan istri kamu baik-baik itu saja" ucap Ibu paruh baya itu juga dengan tulusnya.
Andrew dan Aidah merasa tersentuh dengan kebaikan Bapak dan Ibu paruh baya di depan mereka ini.
"Aamiin yah Pak, makasih do'anya. Dan tentu Bu, saya pasti akan selalu menjaga istri saya dengan segala kekuatan saya" jawab Andrew dengan senyum senangnya.
"Makasih banyak yah Bapak dan Ibu, semoga kebaikan Bapak dan Ibu dibalas berkali-kali lipat" ujar Aidah dengan senyum senang dan harunya.
"Iya nak, jaga kandunganku baik-baik yah" ujar Ibu paruh baya itu lagi dengan menggenggam tangan Aidah.
"Ibu mau pegang perut Aidah?" tanya Aidah pelan, karena melihat mata ibu itu menatap ke arah perutnya.
"A..apa boleh nak?" tanya Ibu paruh baya itu pelan.
"Tentu Bu" Aidah dengan ramahnya menaruh tangan Ibu itu di perutnya yang masih kecil.
__ADS_1
Ibu paruh baya itu dengan senangnya mengelus-elus perut Aidah yang masih kecil itu dengan pelan.
Suami dari Ibu itu menatap istrinya juga senang senang, ia tau pasti kalau istrinya pasti juga sangat rindu dengan anak mereka yang harus meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Oh iya Bu, Ibu tinggal di sini hanya berdua dengan Bapak yah atau dengan anak ibu?" tanya Aidah pelan.
Ibu itu langsung terdiam mendengar pertanyaan Aidah, Aidah pun merasakan tangan Ibu itu terdiam di perutnya setelah ia menanyakan hal itu.
"Hmm maaf kalau saya lancang bertanya begitu, sa-"
"Tidak apa-apa nak. Ibu memang hanya berdua dengan Bapak di sini, karena Ibu tidak punya anak, Ibu dulu sempat hamil satu kali tapi sepertinya Tuhan lebih sayang dengan anak Ibu makanya mengambil ia lebih dulu dari kami" potong Ibu itu berusaha tersenyum menatap Aidah.
Deg~
Aidah menjadi merasa tidak enak setelah mendengar ucapan Ibu itu.
"Maaf yah Bu, Aidah tidak tau. Maaf sekali lagi" ujar Aidah merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa nak, lagian semuanya hanya masa lalu. Ibu juga sudah terbiasa tinggal dengan Bapak berdua saja" ujar Ibu itu dengan tegarnya.
"Dan yah kalau kamu ngidam pengen makan Mangga kamu kesini saja yah jangan sungkan sama Ibu dan Bapak, kalau lagi ada waktu kamu juga bisa kesini sekalian nemenin Ibu" lanjut Ibu paruh baya itu dengan senangnya.
Aidah terharu mendengar ucapan Ibu itu. "Makasih Bu, Aidah usahain akan sering ke sini kalau tidak sibuk. Karena kantor milik Mas Andrew juga ada di sekitar sini, jadi gampang nanti kalau mau kesini ya" ujar Aidah dengan senangnya.
Tringg, bunyi pesan handphone Andrew.
Andrew langsung melihat siapa yang mengirimkannya pesan. Setelah membaca pesan itu, Andrew langsung menatap istrinya lalu menatap kedua paruh baya di depannya itu.
"Maaf yah Pak, Bu. Sepertinya kamu harus pulang dulu, kami usahakan akan mampir kesini lagi, makasih sebelumnya Mangganya" ujar Andrew berpamitan.
"Baiklah nak, tidak apa-apa. Sering-sering yah datang, nggak usah sungkan" jawab Bapak itu dengan senyumnya.
"Aidah juga pamit dulu yah Pak, Bu" Aidah memeluk wanita paruh baya itu dengan senangnya, karena Ibu itu sangat baik dan ramah orangnya.
Akhirnya Andrew dan Aidah pun pulang ke Perusahaan kembali.
Di dalam mobil.
"Siapa yang chat Mas?" tanya Aidah dengan menaikkan satu alisnya.
"Endra sayang, katanya Mas ada pertemuan penting siang ini" jawab Andrew dengan tetap fokus menyetir mobil.
"Oh iya astaga Aidah sampai lupa karena asik bicara dengan Bapak dan Ibu tadi" cetus Aidah dengan menepuk jidatnya.
"Tapi, Mas Bapak dan Ibu tadi sangat baik yah dan ramah. Semoga kita juga bisa tetap mesra dan langgeng seperti Bapak dan Ibu tadi" ujar Aidah dengan senangnya melihat bagaimana tetap romantisnya Bapak tadi kepada istrinya.
"Aamiin kalau bisa lebih romantis sayang" ujar Andrew dengan senyum senangnya. "Mas akan usahakan selalu berbuat romantis untuk istri tercinta Mas ini" lanjut Andrew dengan menggenggam tangan istrinya lalu mengecup tangan itu dengan memakai satu tangan karena tangan satunya sedang dipakainya menyetir mobil.
__ADS_1
Aidah tersenyum senang dan haru dengan suaminya itu.