Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Penyergapan


__ADS_3

"Tuan Maxim, gawat sepertinya ada orang yang menerobos tempat kita!!" lapor bawahannya dengan wajah cemasnya.


"Apa maksud kamu ha?!!" Maxim menarik kasar leher baju bawahannya itu dengan tatapan emosi.


"Di... di luar, ada beberapa helikopter menuju ke sini!!" lapornya dengan terbata-bata dan takut.


"Apa!!!" Maxim terkejut mendengar hal itu.


Bruk, Maxim melepaskan dan mendorong secara kasar bawahannya itu hingga terjatuh dengan kasar ke lantai.


Sementara itu Maxim buru-buru ke arah jendela dan melihat hal yang di laporkan bawahannya itu. Dan benar seperti yang anak buahnya itu katakan bahwa ada beberapa helikopter yang sudah mendekat ke arah Mansionnya.


"S*alan!!" bruk brak, Maxim melemparkan secara kasar barang-barang di dekatnya dengan emosi.


"Tuan, gawat!!!" teriak seorang bawahannya yang lain yang buru-buru masuk menemui Maxim dengan wajah cemasnya.


Maxim berbalik, "Ada apa ha!! Mau melaporkan helikopter itu gue udah tau!! dasar kalian semua tidak becus!!" maki Maxim dengan emosi.


Bawahannya itu buru-buru menggeleng, "Saya tidak ingin melaporkan masalah helikopter itu Tuan, tapi para budak kita saya tidak tau di mana mereka semua, tiba-tiba menghilang!" ujar bawahannya itu dengan wajah cemas dan takutnya.


Bruk, pakk. Sebuah benda keras menghantam kepala bawahan yang melapor itu hingga mengeluarkan darah, Maxim lah pelakunya. Tapi, bawahannya itu hanya bisa menutup matanya menahan sakit yang dirasakannya itu.


Maxim mengepalkan tangannya dengan penuh emosi, kentara sekali dari raut wajahnya yang sangat memerah karena emosinya.


Sementara itu di luar sana, Andrew dan Ardian baru saja mendarat tepat di depan Mansion milik Maxim yang berdiri di tengah hutan itu.


"Andrew dan Ardian akhirnya kalian datang juga" sahut Renald saat melihat Andrew dan Ardian turun dari helikopter bersama dengan para polisi dan tentara yang berada di helikopter lainnya.


"Dimana dia?!" tanya Ardian serius.


"Dia di dalam" jawab Renald dengan tak kalah seriusnya.


"Kalau begitu ayo kedalam!! Tunggu apa lagi!" ajak Ardian kepada keduanya.


Andrew tersenyum smirk mendengar ucapan Ardian.


"Kamu salah, dia sudah ada di luar" ucap Andrew ambigu.

__ADS_1


"Maksud kamu Andrew?" tanya Renald dan Ardian bersamaan dengan wajah bingung mereka.


"Ikut aku!!" Andrew pun berjalan duluan ke arah belakang Mansion tersebut.


Hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah tempat seperti ada lubangnya.


"I..ini" Ardian menutup mulutnya kaget melihat tempat itu.


"Dia ada disini!" ujar Andrew dengan wajah seriusnya.


"Lah, darimana lo tau Andrew? Bukannya lo baru pertama kali kesini?! Lo cenayang yah?!" tanya Renald dengan wajah kagetnya. Karena, Renald selama 2 Minggu di sini saja ia tidak tau tempat ini, dan tiba-tiba Andrew baru saja datang, malah lebih tau tempat ini.


"Ya nggak lah, ya kali" sinis Andrew mendengar ucapan Renald itu. "Aku juga taunya ini dari Kakek Arsen tau!" ujar Andrew memberitahukan darimana dirinya tau tempat ini.


"Oh pantesan" Renald mengangguk paham mendengar ucapan Andrew.


"Terus ini gimana, kita turun ke bawah?" tanya Ardian dengan wajah bingungnya.


Andrew menggelengkan kepalanya. "No, aku juga sudah diberitahu sama Kakek Arsen dimana tempat keluarnya nanti, ayo ikut aku!" Andrew pun kembali jalan duluan memandu Renald dan Ardian. Tapi, selain mereka bertiga ada tiga orang juga aparat yang ikut menemani mereka. Karena, aparat lainnya membantu mengamankan lokasi di Mansion dan mengumpulkan bukti-bukti yang ada serta membebaskan para budak yang jadi sandera selama ini.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di ujung dari lorong tersembunyi tadi.


Semuanya pun mengangguk paham, mereka masing-masing memegang senjatanya, sembari bersembunyi di balik pohon-pohon besar yang masih ada di tempat itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu yaitu Maxim beserta asistennya keluar dari lorong bawah tanah tersembunyi itu.


Andrew beserta yang lainnya saling melirik satu sama lain. Lalu tembakan dari salah satu aparat pun di layangkan ke arah Maxim.


Dor, suara tembakan.


"Aahk" teriak seseorang kesakitan akibat terkena peluru, teriakan itu berasal dari asisten Maxim.


Saat Maxim ingin tertembak, ia langsung menjadikan tameng asistennya hingga sang asisten lah yang terkena peluru tersebut.


Dor, dor, dor, tembakan lainnya di layangkan ke arah Maxim yang berusaha untuk kabur itu.


Salah satu dari ketiga peluru yang dilayangkan ke arah Maxim itu pun hanya satu yang terkena tepat di lengan kiri Maxim. "S*alan" pekik Maxim dengan wajah marahnya. Maxim terus berlari sekencang mungkin sembari menghindari peluru itu agar tidak terkena kembali.

__ADS_1


Andrew dan lainnya tak tinggal diam mereka juga terus mengejar Maxim, sembari terus melayangkan peluru ke arah Maxim yang mencoba kabur itu. Beberapa peluru terkena ke bagian tubuh Maxim.


Maxim pun langsung tiba-tiba membuang sesuatu yang menyebabkan lokasi itu dipenuhi asap yang tebal, membuat penglihatan Andrew dan yang lainnya bermasalah tidak dapat melihat Maxim. Maxim tak tinggal diam, ia memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin agar bisa kabur dari tempat itu.


Saat asap itu menghilang. Andrew dan lainnya terpekik kesal dengan kejadian itu karena Maxim berhasil kabur.


"S*alan" pekik Renald saat melihat Maxim sudah berhasil kabur.


"Sebaiknya kita berpencar saja untuk mencarinya, aku yakin dia pasti belum jauh dari sini!!" ujar Andrew dengan wajah sangat seriusnya.


Semuanya pun mengangguk paham, mereka akhirnya berpencar mencari keberadaan si Maxim itu.


Setelah berpencar lama mereka tidak juga mendapatkan dimana keberadaan Maxim itu berada.


"Kalian sudah dapat dimana dia?" tanya Ardian.


Andrew, Renald dan kedua aparat lainnya itu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Ardian.


"Aah s*alan tuh b*jingan, pergi kemana dia sih!! Kalau kita tidak bisa dapat dia itu masih bahaya!" ujar Ardian lagi dengan wajah kesalnya.


"Sebaiknya kita pulang dulu ini sudah malam, kita bisa mencarinya besok lagi. Aku yakin dia tidak akan bisa kabur jauh dari tempat ini!!" ujar Andrew serius.


Semuanya mengangguk setuju mendengar ucapan Andrew, karena tidak mungkin juga mereka akan menginap di tempat ini. Mungkin hanya akan ada beberapa aparat yang akan menjaga semua barang bukti yang di dapatkan itu.


******


Semnatara itu di tempat yang berbeda.


Di sebuah rumah kumuh, seorang pria tengah terkapar dengan memegang perutnya yang sedang sangat sakit, bukan hanya perut tapi seluruh tubuhnya rasanya mati rasa.


"S*alan kenapa mereka bisa tau tempat gue!!" Maxim mengepalkan tangannya geram dan marah.


"Awas lo sstt, lo pa..pasti akan gue balas Andrew s*alan!!" umpat Maxim dengan amarahnya, walaupun merasa sangat sakit di seluruh tubuhnya.


Kreet.


"Tu...Tuan siapa?!" tanya seorang anak laki-laki yang umurnya masih sekitaran 10-11 tahun itu kaget ketika melihat tiba-tiba ada seseorang di dalam rumahnya.

__ADS_1


Maxim menoleh saat mendengar suara itu, Maxim pun menatap tajam anak laki-laki itu.


__ADS_2