
"Heh lo cepat kerja sana!!" gertak seseorang di tempat itu yang memang selalu mengawasi orang-orang yang bekerja di tempat itu.
Renald yang mendengar gertakan itu pun langsung ikut bergabung dengan yang lainnya, Renald mulai membantu mengangkat-angkat bahan serta tetap mengawasi sekitar tempat itu. Renald saat ini sebenarnya sungguh merasa kasihan kepada orang-orang yang tidak bersalah itu, apa lagi melihat merek banyak terluka dan lukanya masih nampak bahkan ada yang darahnya belum kering habis di siksa oleh pengawas di sana tapi tetap harus bekerja, bahkan ada juga yang sudah tua bahkan yang Renald lihat sudah kurus sekali hanya nampak tulang-tulang tetapi harus tetap di paksa untuk bekerja mengangkat barang-barang yang beratnya minta ampun.
Renald mendekat ke salah satu pria yang sudah tak muda lagi, yang sudah Kakek-Kakek di tempat itu.
"Kek, sini biar saya saja yang angkat" ujar Renald karena tidak tega.
Kakek itu menatap sayu Renald dengan mata yang seperti panda serta wajahnya yang sudah nampak tirus.
"Ti uhuk tidak uhuk usah nak uhuk Kakek bi uhuk bi..bisa angkat sendiri uhuk" jawab Kakek itu pelan dengan batuk-batuk dan tubuhnya yang nampak gemetar.
Tanpa bertanya lagi, Renald langsung mengambil benda di tangan Kakek itu yang akan Kakek itu bawa karena sungguh merasa tak tega. Renald pun mencarikan lalu mengambil salah satu benda yang agak ringan dari benda yang ingin di bawah Kakek itu dan memberikannya kepada Kakek itu.
"Ini saja yang Kakek bawa, sebaiknya Kakek pilih bawaan yang ringan saja jangan yang berat-berat" ujar Renald pelan setelah memberikan benda itu kepada Kakek.
Kakek itu mengangguk dengan senyum kecilnya yang nampak di wajah tirusnya itu.
"Ma..makasih uhuk nak" ujar Kakek itu sedikit terharu dengan kebaikan Renald, karena sebelumnya yang lain hanya cuek saja kepadanya.
Renald mengangguk dengan tulusnya. Renald pun segera pergi mengangkat benda itu ke tempat yang seharusnya.
'Ck tega sekali mereka memperlakukan orang-orang yang tidak bersalah seperti ini, bahkan Kakek seperti tadi saja mereka perlakukan seperti itu!!' batin Renald geram.
Renald juga sesekali mengintip barang-barang bawaan yang di suruh mereka angkat itu, dan ternyata barang yang berat itu berisi kayu-kayu, buah-buahan dan hewan-hewan yang agak besar, serta yang ringan-ringan itu adalah obat-obatan terlarang, ataupun hewan-hewan kecil yang ada di hutan itu.
__ADS_1
'Apa mereka memproduksi obat-obatan terlarangnya di sini?!' batin Renald yang sekali-kali menatap ke arah Mansion besar yang ada satu di hutan itu. 'Berani sekali mereka, apa mereka tidak takut kalau ketahuan maka itu bisa saja mereka akan di penjara lama bahkan di hukum mati karena perbuatan mereka' batin Ranald lagi dengan geramnya.
Renald sungguh rasanya ingin membongkar semuanya saat ini agar mereka semua mendapatkan balasan yang setimpal. Tapi, Renald tau ia tak boleh gegabah yang nantinya ia bisa saja ketahuan. Tidak lupa Renald pun mengabadikan setiap jejak di tempat itu sebagai bukti, dengan menggunakan smartphone seperti jam yang transparan jika tidak tersentuh sidik jari Renald.
*****
Berbeda dengan yang dilakukan Renald, berbeda pula di Mansion Andrew.
Di dalam kamar milik Andrew dan Aidah. Aidah kini tengah mondar-mandir dengan wajah khawatirnya, walaupun dengan pelan karena usia kandungannya sudah lumayan besar.
"Sayang sudah dong mondar-mandirnya, tidak capek apa?? Kasihan juga tuh anak kita ikut olahraga kamu mondar-mandir mulu dari tadi" sahut Andrew dengan gelengan kepalanya yang melihat tingkah istrinya itu.
Aidah menatap suaminya itu dengan wajah cemas. "Mas Bang Renald nggak akan kenapa-kenapa kan?? Bagaimana kalau Bang Renald malah langsung ketahuan terus di tangkap terus ha" Aidah menutup mulutnya dengan wajah kaget dan tambah khawatir dengan pikirannya saat ini.
"Hah sayang, kamu ini. Waktu aku beritahu masalah Renald mau pergi kamu malah bijaksana tapi sekarang kenapa malah gini?" tanya Andrew dengan gelengan kepalanya serta senyum kecilnya merasa lucu dengan tingkah istrinya yang memang pikirannya selalu berubah-ubah semenjak hamil.
Aidah cemberut mendengar itu, karena apa yang dikatakan suaminya semuanya memang benar.
"A..Aidah hanya khawatir saja Mas, jadi jangan ledek Aidah!" cetus Aidah dengan wajah cemberut nya.
Andrew malah tambah tersenyum melihat tingkah istrinya ini.
"Iya deh, tapi udah jangan kepikiran terus kamu yakin, berpikir positif serta berdo'a saja untuk Renald. Lagian Mas dan lainnya akan selalu pantau Renald kok sayang, jadi jangan kepikiran lagi yah" hibur Andrew dengan lembutnya ke istrinya itu. "Tuh lihat baby-baby kita kan kasihan udah capek karena kamu mondar-mandir mulu" lanjut Andrew lagi.
"Hah, iya Mas, maaf. Maafin Mom juga yah baby" ujar Aidah dengan helaan nafasnya kepada suami dan anak di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Baby-baby sayang, bukan baby" sanggah Andrew.
"Ish Mas mah belum pernah di periksa juga masalah itu" sindir Aidah.
"Hehe tapi Mas yakin deh anak kita itu kembar sayang" ngotot Andrew. "Iya kan baby"nya Daddy" lanjutnya sembari mengelus perut istrinya itu.
"Huh, iya deh terserah Mas" jawab Aidah mengalah, karena kalau tidak mungkin mereka akan berdebat seharian.
*****
Sementara itu di sisi lainnya, seorang pria yang usianya tak muda lagi nampak sedang menelfon seseorang yang misterius.
"Selalu awasi perempuan itu!!" titahnya kepada seseorang yang ada di sebrang telfon.
"Baik King A, bagaimana dengan masalah ini apakah kita perlu ikut campur?" tanya seseorang yang ada di sebrang telfon.
"Tidak perlu, cukup awasi saja. Mereka harus bisa menghadapi ini, karena seperti yang kita tau mungkin saja nanti mereka bahkan mendapatkan lawan yang bahkan lebih hebat dari ini, jadi mereka harus bisa melewatinya sendiri, apalagi jika aku sudah pergi siapa lagi yang akan melindungi mereka jika bukan diri mereka sendiri" ujar King A atau Kakek Arsen dengan wajahnya yang nampak sedih.
"Tu..Tuan jangan berkata seperti itu, Tuan pasti akan selalu sehat-sehat saja" ujar seseorang yang disebrang telfon itu juga dengan nada sedikit sedihnya mendengar ucapan Kakek Arsen.
"Ah sudahlah, jangan bahas masalah itu cukup kerjakan apa yang aku perintahkan!!" ucap Kakek Arsen lagi.
"Hah, siap King A tentu" jawabnya tegas.
Panggilan pun langsung di akhiri oleh Kakek Arsen.
__ADS_1