
Setelah meeting itu, Andrew dan Aidah kembali keruangan Andrew yang ada di lantai teratas gedung itu.
"Sayang, kenapa kamu kesini? Aku sudah suruh pelayan untuk katakan sama kamu supaya kamu nggak usah capek-capek ke Perusahaan dulu. Apa pelayan itu tidak memberitahu kamu?!" tanya Andrew serius.
"Hais jangan salahkan pelayan, lagian pelayan di Mansion sudah beritahu Aidah kok Mas. Aidah aja yang masih pengen ke sini, soalnya di Mansion juga bosan karena semuanya lagi pergi ada urusan semua" ujar Aidah dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hah, baiklah. Kamu bisa lakukan apapun yang mau kamu lakukan, hari ini kamu tetap saja libur tidak usah mengerjakan sesuatu" ujar Andrew dengan helaan nafasnya, sembari mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Ishh kan Aidah masih jadi sekretaris Mas, lagian Aidah bosan tau kalau tidak ada pekerjaan apapun gitu. Ayolah Mas, berikan Aidah pekerjaan nggak usah berat-berat juga nggak apa-apa yang penting ada" ucap Aidah dengan wajah memelasnya menatap suaminya itu.
Kalau sudah begini, Andrew hanya bisa menghela nafas dan mengangguk setuju.
"Baiklah, nanti aku suruh Endra berikan pekerjaan yang tidak terlalu berat untuk kamu" ujar Andrew yang lagi-lagi tak bisa menolak permintaan istrinya itu hanya bisa menurutinya saja.
Aidah mengangguk dengan senyumnya penuh semangat mendengar persetujuan dari suaminya.
Drrtt drrtt, suara telfon. Ternyata suara telfon itu berasal dari telfon milik Andrew.
Andrew yang mendengar itu langsung melihat siapa yang menelfonnya.
"Siapa Mas?" tanya Aidah sedikit penasaran siapa yang menelfon suaminya itu.
"Kakek Arsen" jawab Andrew singkat. "Kalau gitu, Mas angkat dulu yah." Andrew berdiri ingin menjauh, tapi langsung ditahan oleh Aidah.
"Kenapa harus menjauh? Kenapa nggak disini aja bicaranya?" tanya Aidah heran.
"Nggak ada apa-apa sayang, hanya ini masalah laki-laki jadi kamu tak perlu tau" Andrew mengelus kepala istrinya lagi dengan lembut, lalu pergi sedikit menjauh dari Aidah dan mengangkat telfonnya.
Aidah menatap curiga suaminya. 'Kalau masalah laki-laki memangnya kenapa coba? Emang masalah laki-laki itu apa, sampai harus bicara menjauh?' batin Aidah dengan tatapannya yang terus mengarah ke suaminya dan bibirnya juga yang mengerucut.
Sementara itu Andrew baru saja mengangkat telfon dari Kakeknya.
__ADS_1
"Ada apa Kek?" tanya Andrew kepada Kakeknya yang ada di sebrang telfon.
"Bagaimana dengan alat itu?? Kapan baru kita bisa mulai rencananya? Karena saat ini Maxim sudah mulai mengambil pergerakan yang lebih ganas lagi. Kakek juga sarankan ke kamu agar jangan biarkan cucu menantu untuk sendirian untuk saat ini!!!" tanya Kakek dengan peringatannya juga ke cucu kandung satu-satunya itu.
"Hah, masih butuh waktu tiga hari lagi Kek, jadi sabar dulu karena alat ini harus di uji coba dan harus melalui pemeriksaan ketat terlebih dahulu baru bisa di gunakan. Iya, Kek Andrew paham, Andrew pasti akan selalu jaga istri Andrew" jawab Andrew dengan nada tegasnya di akhir kalimat.
"Hmm baiklah, kabari Kakek dan lainnya jika sudah selesai nanti kita bahas lagi. Kakek juga sudah memikirkan strategi lainnya yang dapat membantu untuk menyelesaikan tugas ini!" ujar sang Kakek dengan serius, Kakek Arsen pun juga menghela nafasnya lega mendengar cucunya akan menjaga dengan baik cucu menantunya itu.
"Iya Kek, Andrew paham. Kalau begitu sudah dulu Kek, Aidah udah dari tadi tuh natap Andrew mulu" ujar Andrew yang sedikit merinding melihat tatapan istrinya yang terus menatap horor kepadanya.
"Baiklah, salam untuk cucu menantu Kakek" ujar Kakek lagi.
"Iya Kek siap." Panggilan pun berakhir.
Setelah panggilan berakhir, Andrew langsung berjalan menghampiri istrinya yang sedari tadi menatap dirinya itu.
"Ekhem, sayang sepertinya Mas harus mengerjakan beberapa berkas dulu" ucap Andrew dengan senyum canggungnya karena di tatap terus oleh istrinya.
Tanpa menunggu jawaban dari Aidah, Andrew berbalik ingin pergi ke mejanya.
Glek.
Mendengar itu Andrew langsung berbalik kembali ke arah istrinya, "Hahaha itu bukan hal penting kok sayang. Itu hanya masalah antar laki-laki saja" jawab Andrew ngeles dengan tawa kecil canggungnya.
"Haiss sudahlah kalau Mas tidak mau jujur, kalau Mas tidak mau jujur berarti Mas harus turutin keinginan Aidah lagi!" ujar Aidah dengan wajah cemberutnya.
"Memangnya apa yang kamu mau lagi sayang? Kamu taukan Mas pasti akan lakukan apapun itu selagi Mas bisa" ujar Andrew yang kembali duduk di samping istrinya.
Aidah kembali senang mendengar ucapan suaminya, "Kalau gitu Aidah mau peluk raja hutan" cetus Aidah dengan wajah berbinarnya menatap suaminya itu.
"Hah, raja hutan?" tanya Andrew dengan bingungnya.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aidah mau peluk singa sang raja hutan" cetus Aidah lagi dengan berbinar.
"Apa!!" Andrew membelalakkan matanya mendengar permintaan istrinya itu. "Sayang, itu sangat berbahaya. Yang lain saja permintaannya" lanjut Andrew setelah menetralkan kekagetannya.
Aidah menggeleng dengan wajah di tekuknya, "Anak kita maunya peluk singa Mas bukan yang lain" ujar Aidah dengan menatap sedih suaminya.
Raut wajah inilah yang selalu membuat Andrew tidak bisa untuk menolak.
'Nggak Andrew, kamu nggak boleh setuju ini berbahaya' batin Andrew berusaha menguatkan dirinya agar tidak menyetujui.
"Ta..tapi sayang itu berbahaya tau" ujar Andrew berusaha menolak.
"Kalau berbahaya kenapa Mas dulu juga pelukan sama singa?!" tanya Aidah dengan wajah ditekuk nya.
"Ha? Dari mana kamu tau?!" bukannya menjawab Andrew malah balik nanya dengan wajah kagetnya.
"Huh, tadi pagi sebelum Aidah kesini Aidah lihat foto waktu Mas pas masih muda Mas pelukan dengan singa, tapi Mas tidak apa-apa tuh malah Mas terlihat ceria di foto itu" jawab Aidah dengan polosnya.
Andrew menghela nafasnya mendengar ucapan istrinya itu. Karena memang waktu dulu karena kesibukannya di latih keras oleh Ayahnya membuat Andrew tidak punya teman di luar sana, hingga teman Andrew hanya binatang-binatang buas yang sudah bersamanya sejak binatang itu masih kecil. Tapi, masalahnya binatang itu hanya akan jinak dengan Andrew seorang, dan akan sangat ganas jika di dekati oleh orang lain. Bahkan orang-orang yang disuruh untuk menjaga binatang itu pun akan memberikan makanan lewat barang tidak lewat tangan langsung karena bisa jadi dia yang akan jadi santapan hewan buas itu, sangat berbeda dengan Andrew yang langsung bahkan masuk ke kandangnya.
"Iya sayang, karena singa itu peliharaan Mas dia sudah jinak dengan Mas" ujar Andrew dengan helaan nafasnya.
"Wah peliharaan Mas, kalau gitu bagus dong. Masih ada kan sampai sekarang? Mas naruhnya di mana?" tanya Aidah dengan berbinar.
"Mas taruh di salah satu Mansion Mas. Tapi, tetap saja kamu tidak bisa sayang!" tegas Andrew.
"Kenapa Mas? Bukannya raja hutannya sudah jinak dengan Mas?!" tanya Aidah dengan wajah kecewanya.
"Karena hewannya hanya jinak sama Mas sayang" ucap Andrew berusaha membujuk istrinya.
"Yaudah kan Mas ada nemenin, Aidah janji deh kalau hewannya lihat ganas ke Aidah, Aidah pasti akan langsung ngejauh nggak jadi deketin tapi kalau enggak yah tetap deketin. Boleh yah Mas, ini permintaan anak kita loh, Mas mau anak kita ileran?!" bujuk Aidah juga dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
Andrew tidak bisa berkata-kata lagi mendengar dan melihat wajah memelas istirnya itu, "Baiklah-baiklah, tapi janji loh kalau hewannya menatap kamu garang kamu harus mau dengerin apa kata Mas!!" tegas Andrew.
Aidah mengangguk dengan antusiasnya serta wajah berbinarnya, "Iya Mas, siap. Aidah janji."