
Sesuai dengan rencana mereka, Renald yang akan masuk sendirian ke dalam gubuk kumuh yang sudah nampak rusak-rusak dimana tempat persembunyian Maxim berada, karena awalnya memang Renald yang di telfon dengan Maxim di suruh untuk datang sendirian ke gubuk itu. Sementara yang lain di luar sana akan membasmi para anak buah yang sudah di bayar oleh Maxim tentu itu sangat mudah karena orang suruhan Maxim hanya sekitaran lima orang saja.
Renald pun berjalan masuk ke dalam gubuk itu dengan tatapan tajamnya. Saat masuk ia sudah langsung dapat melihat adiknya yang tengah disekap dengan kaki serta tangan yang diikat, Risya ditaruh di lantai beralaskan tanah saja. Tangan Maxim nampak memegang sebuah pisau yang diletakkannya tepat di depan leher Risya.
Renald tambah menatap tajam saat melihat keadaan adiknya dengan kepalan tangannya menahan emosinya.
"Lepaskan adikku!!" tegas Renald dengan tatapan tajamnya menatap Maxim.
"Heh, anda pikir segampang itu?" ucap Maxim dengan senyum smirknya menatap Renald.
"Kakak tolongin Risya, Risya takut hiks hiks hiks" akting Risya pura-pura ketakutan bahkan saking mendalaminya tubuhnya ikut bergetar seperti orang ketakutan.
"Ck diam kamu!!" gertak Maxim dengan nada kerasnya ke Risya, tapi jangan salah semua hanya aktingnya saja.
Risya pun pura-pura meringkuk ketakutan tidak berbicara lagi, tetapi tetap menangis.
Renald tambah mengepalkan erat tangannya itu melihat Maxim menggertak adiknya.
"Beraninya kamu!! b*jingan!!" Renald pun ingin mendekat, tapi langsung dihentikan oleh Maxim.
"Diam di tempat kamu atau aku bunuh dia!!!" ancam Maxim dengan tambah mendekatkan pisau yang ada di tangannya ke leher Risya, walaupun tidak sampai menyentuh atau menyakiti Risya.
"Ck, to the point apa yang kamu mau jangan bertele-tele!!" tanya Renald yang sudah emosi.
Maxim tersenyum smirk lebar mendengar ucapan Renald yang ia tunggu-tunggu dari awal.
Maxim pun berdiri berjalan mendekat ke arah Renald dengan tatapannya yang tak kalah tajam disertai smirknya.
"Menurut kamu, apa yang bagus saya minta setelah apa yang kamu lakukan dengan si Andrew b*jingan itu?!" bukannya memberitahu apa keinginannya, malah balik bertanya dengan tatapan tajamnya sembari memainkan pisau di tangannya.
"Ck mana saya tau, jangan bertele-tele deh bilang sekarang lalu bebaskan adikku!!" kesal Renald.
Renald membelalakkan matanya sedikit kaget melihat tiba-tiba Andrew, Kelvin, dan Endra sudah ada di dalam lewat lubang yang ada di sela-sela gubuk itu, untung saja mereka bertiga kurus walaupun dengan tubuh yang berotot tetapi bisa lewat. Endra pun nampak membekap mulut Risya agar tidak ribut sehingga membuat Maxim sadar akan kehadiran mereka bertiga.
__ADS_1
"Ckck kalau saya bilang mau nyawa kamu dan seluruh nyawa anggota keluarga Lewis!!" ujar Maxim dengan senyum smirknya.
"Heh, kamu pikir bisa! Kamu terlalu memandang tinggi dirimu!!" ucap Renald kembali dengan ikut tersenyum smirk.
Sementara Renald mengalihkan perhatian Maxim, Kelvin diam-diam mendekat ke arah Maxim dan langsung ingin menangkap Maxim, tetapi ternyata Maxim langsung mengelak hingga tidak tersentuh.
"Ck ternyata kalian yang lain sudah masuk cih" Maxim mengepalkan tangannya melihat itu, hampir saja dirinya terlena dengan pembicaraannya dengan Renald hingga tidak merasakan kehadiran orang lain lagi.
"Heh, kamu bisa juga tua bangka" ujar Kelvin dengan senyum smirknya yang nampak menyeramkan.
Piuttt, Maxim bersiul menyuruh untuk para anak buah bayarannya yang dibayarnya dengan uang yang jumlahnya hanya sedikit yang sempat ia ambil sebelum kabur itu untuk masuk.
"Heh, sampai berapa kali pun kamu bersiul mereka tidak akan datang lagi!!" ujar Kelvin lagi.
"Benar, kamu tidak akan bisa memanggil mereka lagi karena kami sudah basmi" ujar Andrew yang ikut-ikutan berkata dengan senyum smirknya juga.
"S*ALAN!!" Maxim mengepalkan tangannya mendengar hal itu.
'Dasar anak buah tidak becus tidak berguna, padahal aku sudah bayar dengan uang sisa ku!!' batin Maxim dengan emosinya karena anak buah yang di bayarnya itu malah kalah dengan Andrew dan para bawahannya.
"Heh, cih sampai mati pun aku tidak akan nyerah sama orang-orang seperti kalian ck" ucap Maxim dengan tegas serta nada kasarnya. Bahkan Maxim mel*dah di lantai beralaskan pasir di gubuk itu.
Renald sungguh sudah tidak tahan lagi melihat perilaku manusia b*adab menurutnya di depannya ini. Baru saja Renald ingin melayangkan tembakannya, tapi langsung terhenti karena ada seseorang yang mendahuluinya.
Dor, suara tembakan menggema di gubuk yang sudah nampak rusak itu. Tembakan itu dilayangkan oleh Kelvin yang sudah geram dengan tingkah pria paruh baya di depannya ini.
"Aahkk" teriak Maxim kesakitan karena berhasil di tembak lengannya.
"S*alan kalian!!!" teriak Maxim emosi dengan memegang lengannya yang kesakitan habis ditembak oleh Kelvin.
Maxim pun dengan tangan lainnya melayangkan tembakan ke arah Kelvin yang baru saja menembaknya dengan menahan sakit di lengannya.
Kelvin dengan gesitnya menghindari peluru yang dilayangkan kepadanya itu. Andrew yang ada di belakang Kelvin pun dengan gesit juga menghindari peluru itu.
__ADS_1
Sementara itu di belakang semuanya Risya yang melihat Endra yang membekap mulutnya tengah menatap ke arah Andrew dan yang lainnya berada langsung menggigit tangan Endra agar bisa terlepas.
Krauk, suara gigitan Risya.
"Ahhk s*alan" umpat Endra kaget karena tangannya tiba-tiba digigit dengan Risya.
Endra menatap tajam dan kesal Risya yang sudah menggigitnya. "Ck tidak usah pakai gigit juga kali!!" kesal Endra.
"Cih, rasain itu!!" sinis Risya.
Maxim tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung melayangkan pelurunya lagi, tetapi kali ini ke arah Renald yang sempat menoleh saat mendengar umpatan Endra.
Andrew membelalakkan matanya melihat itu. Andrew pun langsung berlari ke arah Renald dan mendorong Renald yang malah ceroboh.
Kelvin kaget dengan apa yang dilakukan Andrew itu. Sedangkan, Renald yang di dorong langsung tersadar kaget dengan apa yang dilakukan Andrew yang tiba-tiba mendorongnya.
"Sstt" Andrew meringis sedikit karena merasa sedikit sakit di lengannya. Untung peluru itu tidak menancap di lengan Andrew, hanya tergores saja akibat peluru itu.
Kelvin tanpa aba-aba langsung melayangkan tembakannya ke arah tangan Maxim dengan emosi melihat apa yang di lakukan Maxim itu dengan calon kakak iparnya yah walaupun baru pikirannya saja.
"Aahkk" Maxim kembali berteriak dengan kaget karena tiba-tiba tangannya di tembak hingga membuat pistol milik Maxim itu terjatuh ke tanah.
"Endra tangkap dia!!!" perintah Andrew dengan tegasnya saat melihat hal itu. Walaupun dengan lengannya juga yang sedikit sakit akibat tembakan dari Maxim itu.
Endra pun langsung buru-buru mendekat ke arah Maxim lalu mengamankan tua bangka itu.
Kelvin langsung mendekat ke arah Andrew dengan cemas.
"Tuan Andrew tidak apa-apa kan?" tanya Kelvin khawatir.
Begitupun dengan Renald yang menatap cemas Andrew karena kecerobohannya membuat adik iparnya itu hampir saja membuat peluru itu menancap di lengan Andrew.
"Kamu tidak apa-apakan Andrew? Maaf" tanya Renald dengan perasaan bersalahnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa hanya lecet sedikit, sebaiknya kita kembali kita harus mengamankan dia dulu!!!" jawab Andrew dengan tegas.
Semuanya mengangguk paham, kecuali Risya yang menatap kesal Maxim karena Maxim menipunya katanya ia tidak akan melukai kakaknya Renald, tapi apa itu tadi hampir saja kakaknya terluka akibat ulah Maxim.