
Ardian merasa bersalah karena sudah membuat Lita mengingat kehidupan pahitnya.
"Hmm ma..maaf aku tidak tau" ujar Ardian pelan merasa bersalah.
Lita kembali tersenyum menatap keduanya, "Tidak apa-apa, kamu tidak salah sama sekali kok" ucap Lita dengan senyumnya.
"Ah yah Lita kata Dokter kamu bisa beristirahat selama beberapa hari di sini agar kamu cepat pulihnya, sekali lagi aku minta maaf yah karena aku kamu jadi harus di rawat" ujar Cika kembali dengan wajah merasa bersalahnya.
Lita menggeleng, "Tidak apa-apa, dan aku mau pulang saja nggak enak rasanya kalau di rumah sakit terus" ujar Lita.
"Eh, tapi-"
"Please yah, aku nggak betah banget soalnya kalau di rumah sakit" pinta Lita menatap memohon Cika dan Ardian.
"Eh, baiklah. Kak tolong tanyakan Dokter apa Lita bisa rawat jalan saja?" pinta Cika ke Ardian.
"Hah, baiklah. Tunggu dulu" Ardian pun pergi keluar untuk bertemu Dokter.
Beberapa saat kemudian. Ardian kembali ke ruangan itu.
Melihat Ardian kembali, Cika langsung bertanya ke Kakaknya itu. "Bagaimana Kak? Bisa?" tanya Cika dengan menaikkan satu alisnya.
Ardian mengangguk, "Hmm kata Dokter, Lita sudah bisa pulang, asal banyak istirahat dulu di rumah selama beberapa hari."
Cika dan Lita sama-sama mengangguk paham.
"Baguslah kalau begitu, jadi terimakasih yah Cika. Kamu bisa pulang duluan, aku bisa naik kendaraan umum untuk pulangnya" ujar Lita dengan ramahnya.
"Eh, tidak. Kamu biar aku dan Kak Ardian yang antar pulang, kamu bilang saja dimana rumah kamu. Masih ada yang kamu butuhkan? Kalau tidak kita bisa pulang sekarang, dan aku serta Kak Ardian yang antar kamu" ujar Cika tegas.
"Nggak ada lagi kok, kalau begitu maaf yah merepotkan kamu" ucap Lita merasa sedikit bersalah.
"Tidak apa-apa, ayo."
Cika, Lita serta Ardian pun pergi meninggalkan Rumah Sakit itu.
Di perjalanan
"Dimana rumah kamu Lita?" tanya Cika yang duduk di samping Ardian di kursi depan.
"Eh, hmm itu aku tinggalnya di kolong jembatan yang di depan sana, sedikit lagi" ujar Lita pelan.
"Ha!!" Ardian dan Cika langsung terbelalak mendengar ucapan Lita. Walaupun melihat dari pakaian Cika yang hanya seadanya, tapi Ardian dan Cika tak menyangka kalau dia tidak punya rumah yang layak untuk di tempati.
"Ka..kamu serius Lit?" tanya Cika kaget. Karena bagaimana pun Lita adalah wanita yang masih muda.
__ADS_1
"I..iya, ada yang salah yah? Kamu jadi tidak mau temenan sama aku yah karena aku orang miskin bahkan rumah pun tak ada" tanya Lita dengan wajah sedihnya.
Cika langsung menggeleng mendengar ucapan Lita, sungguh Cika tidak mempermasalahkan itu karena bagi Cika dalam pertemanan ia tak pernah melihat dari harta atau siapa orang itu, semuanya tergantung akan sifat orang itu.
"Bukan seperti itu Lit, aku hanya sedikit kaget saja kamu kan masih muda banget. Daripada kamu tinggal di jalanan seperti itu, bagaimana kalau kamu tinggal di Mansion aku saja?" tanya Cika.
Ardian kaget mendengar ucapan Cika, karena belum tentu Andrew sang pemilik Mansion mau menerima Lita yang baru mereka kenal, Andrew kan sangat mengantisipasi orang-orang yang tinggal di Mansionnya.
Ardian memberhentikan mobilnya lalu menarik turun Cika dengan pelan.
"Dek, bagaimana kamu bisa langsung menawari dia untuk tinggal di Mansion?! Kamu tau kan Kak Andrew itu sangat tidak suka jika ada orang asing tinggal di Mansion, itupun kalau ada pekerja Kak Andrew pasti akan memilih dengan sangat teliti" ujar Ardian kaget dengan perkataan adiknya.
Cika menggeleng lemah, "Ta..tapi kan dia udah nolongin Cika, masa Kak Andrew tidak terima, dia juga bisa jadi pelayan saja di Mansion daripada kan kasihan dia juga masih muda tidak punya rumah, sekalian kan Cika membalas jasa dia" ujar Cika pelan sembari menunduk.
"Hah hais baiklah, Kakak akan bantu kamu bujuk kutub itu, tapi ingat beritahu Lita aturan keras di Mansion!!" tegas Ardian yang akhirnya menyetujui karena tidak tega melihat wajah lusuh adiknya.
"Wah, baik Kak siap. Kakak memang the best deh" puji Cika dengan raut wajah senangnya.
Mereka berdua pun kembali masuk ke mobil lagi.
"Maaf yah Lita kamu harus menunggu kamu bicara" ujar Cika ke Lita saat baru masuk ke dalam mobil.
"Tidak apa-apa kok Cika, seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau mengantar aku" ucap Lita dengan senyumnya.
"Oh yah, mau nggak kalau kamu tinggal di Mansion ku daripada di sini kan? Yah walaupun kamu harus jadi pelayan tidak apa-apa kan?" tanya Cika.
"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke Mansion aku saja" ujar Cika.
Lita hanya mengangguk antusias.
Mobil pun melaju kembali, tapi kali ini menuju ke Mansion milik Andrew. Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di Mansion milik Andrew.
"Wah, Mansion kamu besar banget Cika" puji Lita dengan mata berbinar nya melihat Mansion megah ini.
"Tapi sebenarnya Mansion ini bukan milik aku" ujar Cika.
"Eh, terus milik siapa?" tanya Lita dengan menaikkan satu alisnya.
"Milik Kakak sepupu aku, nanti juga kamu tau. Ayo aku ajak kamu ke dalam, kamu hanya perlu ingat jangan mencampuri urusan Keluargaku terutama Kakak dan Kakak ipar yang punya Mansion ini" peringat Cika.
Lita mengangguk paham.
Ketiganya pun keluar dari mobil dan masuk ke Mansion. Saat sampai di dalam ternyata semuanya sedang berkumpul bercerita-cerota dan bergurau di ruang keluarga.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab semuanya, sembari menoleh ke arah Cika dan Ardian yang baru pulang.
"Bagaimana event nya sayang? Sudah selesai?" tanya Ana kepada anaknya.
"Ekhem itu sebenarnya Cika tapi hampir di tabrak motor-"
"Apa!!" semuanya kaget mendengar perkataan Cika.
"Terus kamu gimana? Ada yang luka?"
"Kenapa kamu tidak bilang kalau hampir di tabrak sayang?"
"Kamu tidak apa-apakan Cika?"
Tanya mereka khawatir.
"Ekhem, sudah bertanya nya dong kalau kalian serbu gitu gimana Cika jawabnya" ujar Cika saat mendengar pertanyaan beruntun yang di arahkan kepadanya.
Semuanya pun diam berhenti bertanya.
"Jadi, bagaimana keadaan kamu sayang? Kamu tidak apa-apakan?" tanya Ana lagi dengan khawatir ke anaknya.
"Iya, Mom tenang aja Cika baik-baik saja kok. Untung Lita nolongin Cika, jadi Cika tidak apa-apa yang luka itu Lita" ujar Cika sembari melihat ke arah Lita.
"Eh" smuanya pun ikut menoleh ke arah Lita dan baru sadar kehadiran Lita.
Lita hanya tersenyum sembari menunduk kepalanya sedikit merasa malu dan sedikit canggung.
"Dia yang nolongin kamu sayang?" tanya Ana memastikan.
Cika mengangguk, "Iya, Mom. Jadi, hmm boleh kan dia tinggal di sini jadi pelayan juga tidak apa?" tanya Cika penuh harap.
"Eh, itu sesuai keputusan Kakak kamu" ujar Ana sembari melirik Andrew yang hanya diam dan asyik mengelus perut istirnya sedari tadi.
"Kak Andrew boleh yah?" pinta Cika.
Andrew melirik ke arah Cika, "Tanya Kakak ipar kamu bagaimana, kalau dia setuju aku juga setuju-setuju saja" ujar Andrew enteng dengan melimpahkan semua keputusan ke Aidah.
Aidah sedikit terkejut mendengar suaminya, tapi ia hanya menghela nafas.
"Kakak ipar?" Cika memperlihatkan wajah puppy eyesnya ke Aidah.
"Tidak apa, dia bisa kerja di sini. Asalkan dia bisa mematuhi seluruh aturan di Mansion ini" ujar Aidah tersenyum manis ke Cika.
"Yeayy, makasih Kakak ipar, Kakak ipar memang the best" ujar Cika senang.
__ADS_1
"Cih tadi bilang aku the best, sekarang Kakak ipar baik sama dia juga di bilangin the best" gumam Ardian menatap sinis adik sepupunya itu.
Cika pun mengajak Lita ke Mansion khusus pelayan yang ada di belakang Mansion Andrew itu, tapi terhubung lewat taman belakang.