
Keesokan harinya, pagi hari yang cerah. Seorang wanita nampak melamun di atas tempat tidurnya dengan wajah di tekuknya.
Tok tok tok
"Sayang ini Mama, Mama masuk yah" teriak seorang wanita paruh baya, lalu membuka pintu dan masuk ke kamar itu.
Saat sampai di depan kasur, wanita paruh baya itu menghela nafas melihat anaknya yang melamun, sejak keluar dari rumah sakit anaknya ini terus melamun, itulah membuat wanita paruh baya itu merasa khawatir dengan anaknya itu.
Ia kemudian duduk di samping anaknya, lalu mengelus sayang suara rambut anaknya itu.
"Bella ada apa hmm? Mama kan sudah bilang sayang, kamu nggak usah fikirin kejadian sebelumnya, lupakan itu" ujar wanita paruh baya yang ternyata Mama Bella itu dengan penuh perhatian dan lembut ke anaknya.
Ucapan dari Mamanya itu membuat lamunan Bella terbuyar kan, ia menoleh ke arah Mamanya dengan wajah sedihnya. "Ma, kenapa ini harus terjadi dengan Bella?!" lirih Bella dengan wajah sedihnya.
Mama Bella tak kalah sedih melihat kesedihan dari anaknya itu. "Hustt Mama kan sudah bilang nggak usah di fikirin masalah itu lagi ok. Mama dan lainnya akan selalu ada untuk kamu sayang, apa pun yang kamu mau pasti Mama akan turuti asal jangan sedih lagi hmm" ujar Mama Bella lembut penuh perhatian, sembari menghapus setetes air mata yang sudah mulai meluncur keluar dari balik kelopak mata anaknya itu.
"Ma, Bella mau balas dendam!!" tegas Bella dengan wajah penuh tekad dan amarahnya saat ini. Wajah sedih yang baru sepersekian detik di tampilkannya itu saat ini berubah menjadi wajah yang penuh tekad dan marah.
"Baiklah sayang Mama ikut dengan kamu saja, tapi sekarang makan dulu hmm Mama udah bawain makanan kesukaan kamu loh" bujuk Mama Bella sembari mengambil piring yang di bawahnya masuk yang di taruhnya di atas nakas samping tempat tidur.
"Mama janji yah!!"
"Iya, sayang. Apasih yang Mama tidak berikan untuk anak Mama ini. Asalkan kamu juga janji mau makan dan perhatikan kesehatan kamu!"
Bella mengangguk mendengar ucapan Mamanya, lalu membuka mulutnya lebar.
Mama Bella itu pun tersenyum melihat anaknya mau makan lagi. Mama Bella menyuapi anaknya dengan penuh antusias dan bahagia.
******
Sementara itu di Mansion Andrew.
__ADS_1
Saat ini semuanya tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan sebelum melaksanakan kegiatan dan kesibukan masig-masing.
Lita seseorang yang di bawah Cika kemarin sudah mulai bekerja mulai pagi ini. Saat ini ia tengah membantu menyajikan makanan di meja makan.
Lita dengan antusiasnya menyajikan makanan ke piring Cika, Ardian lalu ingin menyajikan ke piring Andrew yang berada di samping Ardian, tetapi langsung di tahan oleh Aidah.
"Tidak usah Lita, biar saya saja" ujar Aidah dengan senyum ramahnya.
"Eh, maaf Nyonya. Saya kira Nyonya lagi hamil, jadi kesulitan untuk menyajikan makanan, makanya saya gitu" ujar Lita pelan dengan menunduk.
"Benar juga kata Lita Kakak ipar, ya walaupun perutnya belum besar, tapi Kakak ipar nanti capek, biar Lita saja" cetus Cika dengan polosnya menyetujui perkataan Lita.
Aidah ingin angkat bicara, tapi langsung di tahan oleh Andrew.
"Tidak usah, biar saya saja. Karena saat ini istri saya sedang hamil, jadi saya yang akan menggantikan tugasnya" tegas Andrew, lalu dengan santainya mengambil makanan sendiri dalam satu piring dan dengan romantisnya menyuapi istrinya langsung di depan semua orang.
Kakek serta Tante, Om dan Ardian hanya terkekeh geli melihat tingkah romantis Andrew yang sangat beda dari dulu yang tertutup, jangankan bertingkah romantis untuk bicara saja ia sangat irit.
"Ekhem, Lita kamu bisa kembali ke dapur, ada Mbak Ratna yang bisa membantu di sini" ujar Selani dengan senyumnya, tapi matanya menatap tajam Lita.
"Glek, Ba..baik Nyonya, saya permisi kalau begitu" ujar Lita menunduk hormat, lalu pergi buru-buru dari meja makan itu.
Semuanya pun kembali melanjutkan sarapan mereka dengan bercanda riang. Beda halnya di dapur, seorang wanita yaitu Lita terdiam mendengar mereka semua tertawa riang di meja makan.
Puckk, "Hei, kenapa melamun Lita?" tanya seorang pembantu lainnya yang berada di dapur itu, sembari menepuk pundak Lita.
Lamunan Lita terbuyar merasakan tepukan pundak dari orang lain. "Eh, tidak apa-apa kok" ujar Lita dengan senyum ramahnya.
"Oh, kamu tau Lita aku iri tau dengan keluarga ini sangat harmonis, dan para pria dan wanitanya pun ganteng, cantik dan baik-baik semua. Ahk pokoknya keluarga ini tuh yah keluarga impian aku Ta" ujar Relis senang dengan mata berbinarnya. Relis adalah salah satu pembantu bagian dapur, merupakan senior Lita yang bekerja di Mansion itu bagian dapur.
"Iya benar. Oh yah apa benar mereka tidak pernah bertengkar gitu khususnya Tuan Andrew dan Nyonya Aidah?" tanya Lita penasaran.
__ADS_1
"Kenapa kamu tanya itu?" bukannya menjawab Relis malah balik tanya dengan menaikkan satu alisnya.
"Aku hanya penasaran saja, kan Tuan Andrew dan Nyonya Aidah juga aku dengar pernah susah gitu? Apa mereka tidak pernah bertengkar gitu?" tanya Lita kembali merasa penasaran.
Relis menggeleng, "Selama tinggal di Mansion ini sih, aku tidak pernah sekalipun melihat Tuan Andrew dan Nyonya Aidah bertengkar, bahkan yang aku lihat hanya kebucinan mereka yang ditunjukkan di depanku yang masih jomblo" jelas Relis dengan helaan nafasnya.
"Oh" Lita mengangguk paham mendengar penjelasan Relis.
"Memangnya ada apa kamu pengen tau?" tanya Relis.
"Aku kan udah bilang Lis, aku hanya penasaran saja!!" ujar Lita dengan wajah meyakinkannya.
"Heii kalian berdua ini malah bergosip, tuh piring apa belum di cuci kerjakan sekarang!" tegas kepala pelayan yang ada di Mansion itu saat baru masuk ke dapur dan melihat Relis serta Lita yang hanya mengobrol bukannya bekerja.
Relis dan Lita buru-buru kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Sedangkan dua pasutri itu yaitu Andrew dan Aidah, setelah sarapan bersama, Andrew dan Aidah akan berangkat bekerja, tapi Aidah tiba-tiba memberhentikan dirinya.
"Kenapa sayang?" tanya Andrew dengan mengerutkan alisnya, saat Aidah terdiam tidak jalan.
"Mmm Mas Aidah jadi pengen sesuatu" ujar Aidah pelan, dengan tatapan penuh harapnya ke suaminya itu.
"Apa itu? Bilang saja hmm kalau Mas bisa pasti Mas turutin" ujar Andrew dengan wajah yakinnya.
"Itu anu.. hmm sebelum Aidah bilang, Mas janji dulu nggak boleh nolak dan jangan marah" ujar Aidah lagi dengan tatapan penuh harapnya itu ke suaminya.
"Iya sayang, Mas janji. Apa yang kamu mau?" tanya Andrew sekali lagi dengan lembut.
"Itu Aidah mau..."
*****
__ADS_1
Maaf yah baru up, soalnya kemarin lusa tiba-tiba Om author yang tinggal pas samping rumah meninggal dan kemarin baru saja di kuburkan, malam ini juga takziahnya, jadi author baru sempat buat up-nya🙏.