
Dua hari kemudian, ini lah saat yang ditunggu-tunggu oleh Andrew dan lainnya untuk melaksanakan rencana mereka.
Sesuai dengan rencana mereka dua hari yang lalu, saat ini Renald tengah bersiap-siap di Mansion milik Andrew. Semua anggota keluarga dan tentunya Lita sudah tau bahwa Renald lah yang akan pergi ke tempat berbahaya itu untuk menjalankan misi mereka.
"Bagaimana Renald, apakah semuanya sudah siap?" tanya Nathan dengan wajah seriusnya.
Renald menganggukkan kepalanya, "Sudah Paman, semuanya sudah siap" jawab Renald dengan raut wajah sedikit tegangnya, karena ini baru pertama kalinya ia akan melakukan tugas berbahaya seperti ini yang bisa saja kalau sampai ia ketahuan bisa-bisa dibunuh di tempat itu.
"Baiklah, lakukan yang terbaik. Paman pasti akan melakukan sesuatu juga untuk membantu kamu nanti di sana" ujar Nathan dengan menepuk pundak Renald.
Renald mengangguk paham.
"Lakukan yang terbaik Bang. Aidah yakin Abang pasti bisa melalui ini" ucap Aidah memberi semangat kepada kakaknya itu.
Renald mengangguk dengan senyumnya mendengar adiknya itu menyemangatinya.
"Benar kata Aidah nak, lakukan seperti yang sudah kita bicarakan" ujar Kakek Arsen.
Renald mengangguk mantap menjawab pertanyaan dari Kakek Arsen.
"Ma..maaf yah, karena masalah Lita kalian semua harus terlibat" ujar Lita dengan menunduk, ia merasa sungkan melihat kebaikan keluarga ini kepadanya.
Cika menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Lita. "Bukan Lita, ini bukan karena kamu. Dia orang seperti itu sudah sepantasnya untuk dibasmi, dia juga sudah berani cari masalah dengan keluarga Lewis sudah pasti orang itu harus segera di basmi agar tidak tambah merajalela" ujar Cika sembari merangkul Lita dan tersenyum seolah memberikan semangat untuk Lita agar tidak bersedih lagi.
"Hmm, benar itu orang seperti itu sudah sepatutnya di basmi" ucap Ardian yang perkataannya seolah ikut membela Lita.
"Ekhem ada apa nih? Jangan bilang kamu sudah mulai jatuh cinta sama Lita? Duh Tan sudah pantas emang di jodohkan" tanya Renald dengan menatap curiga Ardian, sekaligus ledeknya mengompori Ardian.
Ardian membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Renald itu.
__ADS_1
"Heh, jangan sembarangan ngomong kamu!!" ujar Ardian dengan wajah kesalnya. "Lebih baik kamu fokus aja tuh sama yang akan kamu hadapi nanti" lanjut Ardian nada kesalnya.
Renald terkekeh pelan, sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah nak Renald, jangan hiraukan Ardian. Lebih baik kamu berangkat sekarang saja kalau semuanya sudah siap!" ucap Kakek Arsen mengingatkan.
Renald mengangguk paham. Akhirnya Renald pun berpamitan dengan semuanya sebelum berangkat untuk menyelesaikan tugas pertamanya. Walaupun ada rasa kekhawatiran yang di rasakan oleh semuanya terutama orang tua dan Aidah, tapi mau bagaimana lagi ini lah yang harus Renald hadapi agar bisa menggantikan posisi Kakek Arsen dengan lebih baik lagi.
*******
Di sebuah hutan belantara yang di mana tempat rencana mereka akan di laksanakan, seperti rencana mereka Renald akan berpura-pura menjadi orang yang tersesat di hutan itu.
Setelah berjalan-jalan cukup jauh mengelilingi hutan itu, Renald memutuskan untuk berdiri di bawah satu pohon lebat yang ada di dalam hutan itu.
'Hutannya sangat lebat, dan sepertinya ada labirin di dalam hutan ini, karena sedari tadi aku coba untuk mencari di mana jalan aku masuk tapi tak ketemu' batin Renald memikirkan apa yang terjadi saat ini di hutan yang baru saja di masuknya, sembari melihat-lihat sekitar hutan itu.
"Heh ada mangsa lagi" suara seseorang terdengar mendekat ke arah Renald yang sedang berdiri di bawah pohon lebat yang ada di dalam hutan itu.
"Si..siapa kalian?!!" tanya Renald dengan suara terbata-bata dan wajah terkejutnya dengan pura-pura tentunya.
"Haha kamu tidak perlu tau siapa kami, tapi yang perlu kamu tau kamu akan jadi budak kami, karena kamu sudah masuk maka kaku tidak akan bisa keluar hahaha" ucap pria yang baru saja datang itu yang memiliki keperawakan menyeramkan dengan tawa jahatnya.
Sementara teman satunya, hanya tersenyum licik ke arah Renald.
"A...apa maksud kalian?! To..tolong jangan bercanda dengan saya, saya mohon bantu saya keluar dari hutan ini, saya tidak tau saya di mana saat ini" ujar Renald dengan wajah memohonnya menatap dua orang di depannya itu dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Heh, aku sudah bilang sekali kamu masuk kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini dan hanya akan menjadi budak kami selamanya" ucap pria itu lagi dengan matanya menatap Renald seperti mangsanya.
"Sudahlah tidak perlu basa-basi, Roco bawa dia!!" lanjut pria itu memberikan perintah ke teman yang ikut dengannya itu.
__ADS_1
"Siap!!" seorang pria yang bernama Roco itupun mendekati Renald dan memegang tangan Renald.
"Ti..tidak, to..tolong jangan begini, saya masih punya keluarga yang harus saya nafkahi, saya mohon keluarkan saya dari tempat ini" Renald menggelengkan kepalanya dan berusaha mengelak dari Roco yang berusaha memegang erat tangannya agar tidak kabur.
"Ck, diam kamu, brisik banget!!" ujar Roco dengan nada kesalnya, lalu langsung memborgol tangan Renald.
Setelah memborgol tangan Renald, ia juga memasang kain di mata Renald untuk menutupi penglihatan Renald.
"Haha bos pasti senang, karena kita mendapatkan mangsa baru lagi yang akan menjadi budak" ujar pria yang memberikan perintah tadi itu dengan tawa jahat dan senangnya.
'Ck, dasar para pria br*ngsek, lihat saja aku pasti bisa membasmi kalian manusia yang tidak punya hati' tekad Renald dalam hati.
"Tentu, sebaiknya kita bawa sekarang!" ujar Roco menanggapi ucapan temannya itu.
Pria itu pun mengangguk dengan senyum senangnya, karena mendapatkan mangsa baru.
Renald ingin berpura-pura memberontak lagi tapi langsung terhenti dengan wajah kagetnya.
"Hentikan, aku orang King A" bisik Roco pelan dengan tetap melihat keadaan sekitar.
Tapi, dalam sekejap Renald langsung mengubah wajah kagetnya itu menjadi wajah biasa saja kembali.
'Dia orangnya Kakek Arsen?! Katanya Kakek Arsen baru mau berencana memasukkan kok sudah masuk?! Astaga Kakek Arsen memang misterius' batin Renald bingung.
Yah, sebutan King A itu adalah sebutan Kakek Arsen di Mafianya.
Renald pun dengan pasrah di bawah ke tempat dimana orang-orang yang tak bersalah di perlakukan sebagai budak dan hewan saja.
Sampai di tempat itu, Renald di bawah untuk menghadap ke bos yaitu tangan kanan Maxim terlebih dahulu, lalu di bawah ketempat di mana para orang tak bersalah itu di suruh kerja tanpa upah dan di perlakukan layaknya budak.
__ADS_1
Di tempat itulah juga, barulah kain di mata Renald di buka. Renald tercengang melihat perlakuan yang kasar dan bahkan banyak yang tubuhnya masih berdarah tetap harus bekerja.