Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Sebuah Surat


__ADS_3

Aidah pun menyebutkan keinginannya, "Aidah pengen Mas memakai pakaian kasual."


Andrew menghela nafas lega setelah mendengar ucapan istrinya, karena sebenarnya juga Andrew sedikit khawatir dengan permintaan yang ingin diajukan istrinya. Tapi, jika itu sulit pun maka Andrew akan usahakan untuk penuhi, apa lagi hanya permintaan ini saja.


"Baik-"


"Tapi, Aidah mau warnanya pink dan pakai bando bunga warna pink juga" lanjut Aidah antusias dengan girangnya, ia sudah membayangkan bagaimana suaminya jika memakai pakaian permintaannya itu.


Andrew terdiam mendengar lanjutan dari ucapan istrinya itu.


Melihat suaminya terdiam seperti itu dengan wajah kagetnya, membuat Aidah langsung merasa tak enak.


"Hmm, kalau Mas tidak mau tidak apa-apa kok" ujar Aidah pengertian dengan senyum cerahnya, walaupun dalam hatinya rasanya pengen nangis entahlah emosinya susah untuk di kendalikan akhir-akhir ini.


Andrew langsung menggeleng mendengar perkataan istrinya, Andrew tau istrinya itu pasti menahan diri lagi. "Siapa yang bilang sih bilang Mas tidak mau hmm, Mas saja belum ngomong apa-apa juga kamu sudah menyimpulkan saja. Mas mau kok, apa lagi ini permintaan istri tercinta dan anak Mas juga" cetus Andrew tersenyum dengan mengelus pipi istrinya serta menatap mata istrinya yang berkaca-kaca itu.


"Beneran Mas? Tapi.. Aidah tidak ingin kalau Mas merasa terpaksa" Mulanya Aidah sangat senang mendengar persetujuan suaminya, tapi akhirnya Aidah sadar ia tidak boleh memaksa suaminya jika tidak ingin.


"Ishh kamu ini, Mas udah bilang Mas mau sayang. Apa pun yang kamu inginkan Mas pasti ikuti, Mas tidak pernah merasa terpaksa kok, Mas malah senang bisa menuruti keinginan istri dan anak Mas. Jadi, apa pun itu jangan pernah sungkan bilang ke Mas, Mas yang merasa tidak enak lagi kalau kamu sungkan berasa seperti Mas orang lain saja padahal kan kita sudah satu sayang" ujar Andrew dengan lembutnya.


"Baiklah, kita ke perusahaan saja. Nanti di Perusahaan Mas bakalan pakai pakaiannya, nanti Mas suruh Endra siapkan di Perusahaan, jadi pas sampai Mas bisa langsung pakai di sana" lanjut Andrew mengajak istrinya untuk berangkat.


Aidah mengangguk menyetujui hal itu. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Perusahaan, tak lupa Andrew menghubungi Endra untuk menyiapkan keinginan istrinya itu.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di Perusahaan. Seperti biasanya, mereka berdua langsung masuk dan naik ke lantai teratas gedung itu tempat dimana ruangan Andrew berada.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya" sapa Endra dengan menunduk hormat ke Andrew dan Aidah.


"Selamat pagi juga Kak" sapa balik Aidah dengan senyum ramahnya.


"Hmm, bagaimana dengan yang aku perintahkan?!" tanya Andrew dengan menaikkan satu alisnya.


"Semuanya sudah tersedia di dalam ruangan Tuan" jawab Endra sopan.


Andrew hanya mengangguk, lalu menggandeng istrinya masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Saat sampai di dalam ruangan dan melihat permintaannya itu, Aidah langsung mendekat ke tempat dimana barang itu di taruh dengan antusiasnya.


"Wah pakaiannya bagus banget Mas, bandonya juga cantik" puji Aidah dengan mata berbinarnya menatap pakaian serta bando permintaannya itu.


Aidah pun berbalik menatap suaminya dengan memegang pakaian serta bando itu. "Ini Mas, ayo pakai" pinta Aidah dengan wajah senangnya.


"Ini kan permintaan kamu, jadi lebih bagus kalau kamu yang pakaikan Mas bagaimana" ujar Andrew dengan menatap istrinya penuh harap.


"Baiklah, ayo" tanpa perbincangan panjang lebar, Aidah langsung setuju dan menarik suaminya untuk berganti pakaian dengan rasa tidak sabarnya untuk melihat suaminya memakai pakaian serta bando keinginannya itu.


Setelah berganti pakaian mereka berdua kembali ke ruangan tempat kerja Andrew. Aidah menatap intens suaminya itu dengan mata berbinarnya.


"Wah Mas cantik banget" puji Aidah dengan mata berbinarnya.


"Hah, ganteng dong sayang. Walaupun, Mas pakai seperti ini Mas tetap ganteng tau" narsis Andrew dengan bangganya. Bukannya malu, tapi Andrew malah bangga menyebut dirinya ganteng walaupun memakai pakaian yang tidak sesuai dengan karakternya.


Aidah terkekeh mendengar kenarsisan suaminya. "Iya-iya, suami Aidah memang ini selalu tampan mau di kasih bagaimanapun" puji Aidah.


Tok tok tok


"Masuk Kak!" bukan Andrew yang menjawab, melainkan Aidah.


Cklek.


Endra pun masuk ke dalam ruangan Andrew. Tapi terhenti terkejut saat melihat penampilan Tuannya yang memakai serba pink, bahkan bando yang di bellinya pun Tuannya yang memakainya. Kalau pakaian itu Endra sudah mengira akan di pakai oleh Tuannya, tapi Endra tidak mengira bahkan Tuannya saat ini juga memakai bando pink, serta memakai bedak dan lipstik.


"Apa yang kamu lihat ha!!" ketus Andrew menatap tajam Endra yang melihatnya intens.


"Eh tidak ada Tuan" jawab Endra gelagapan, sembari menunduk takut.


"Ishh Mas nggak boleh kasar gitu di depan anak kita" tegur Aidah pelan.


"Oh iya Kak Endra, bagaimana penampilan Mas Andrew cantik kan?" tanya Aidah dengan antusiasnya.


'Astaga Nyonya kenapa memberikan pertanyaan mematikan seperti itu' batin Endra merasa tersiksa, keringat pun mulai mengalir dari pelipisnya.

__ADS_1


Aidah paham saat melihat ekspresi Endra. "Kak Endra nggak perlu takut. Bilang saja sesuai kenyataannya, Mas Andrew nggak bakalan marah kok, ya kan Mas?!" tanya Aidah melirik suaminya.


Andrew yang sedari tadi menatap mengancam dan tajam ke Endra pun, tatapannya langsung berubah saat istrinya itu menatapnya.


"Tentu tidak sayang" jawab Andrew lembut.


"Nah, bilang saja Kak. Mas Andrew cantik kan?" tanya Aidah sekali lagi dengan antusias.


Endra menaikkan sedikit kepalanya dan melirik Andrew, tapi ia langsung menelan salivanya kasar saat melihat Andrew masih menatap tajam kearahnya.


Tiba-tiba.


Tok tok tok


"Masuk!!" ujar Andrew dingin.


'Huh untung aku terselamatkan. Makasih Tuhan' batin Endra merasa lega.


Seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu, wanita itu adalah salah satu karyawati di Perusahaan milik Andrew ini.


Saat masuk dan melihat penampilan Andrew, karyawati wanita itu kaget terkejut.


"Ekhem, ada apa?!!" tanya Andrew dingin, yang membuat keterkejutan karyawati itu buyar.


Karyawati itu langsung menunduk takut. "Maaf Tuan. Sa..saya kesini ingin melaporkan sesuatu ke Nona Aidah" ujar Karyawati itu.


"Ha? Ada apa??" tanya Aidah dengan menaikkan satu alisnya.


"Maaf Nona, tapi ada seseorang yang mengirimkan surat ini yang di tujukan ke Nona, saya sudah mengeceknya tidak ada bahaya, hanya sebuah surat, tapi Nona tenang saja saya tidak membacanya sedikit pun" lapor pegawai itu.


Aidah pun mengambil surat itu. "Baiklah, terimakasih yah. Kamu bisa kembali bekerja lagi" ujar Aidah ramah.


"Baik Nona. Saya pamit undur diri Tuan, Nona" ujar pegawai itu, lalu pergi dari ruangan.


"Surat apa itu sayang?" tanya Andrew saat melihat surat yang di pegang istrinya itu.

__ADS_1


Aidah mengedikkan bahunya tak tau. "Ini Aidah mau cek Mas" ujar Aidah, lalu Aidah pun membuka surat yang baru saja di terimanya itu.


__ADS_2