Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Melaksanakan Rencana


__ADS_3

Tak terasa sudah dua Minggu berlalu Renald berada di tempat itu, semua bukti sudah ia kumpulkan dan berikan langsung ke Andrew.


Renald saat ini tengah berjalan ke luar Mansion dengan membawa barang-barang yang harus di taruh di luar untuk diangkat dengan orang-orang di luar sana, sembari tetap sesekali memperhatikan area dalam Mansion itu. Tapi, baru saja Renald sampai di ruang tamu, Renald langsung di hentikan oleh seseorang.


"Tunggu!!" hardik seorang pria memberhentikan Renald.


Renald menoleh ke belakang ke arah pria yang menghentikannya itu. Saat tau orang di depannya saat ini siapa, Renald langsung menundukkan pandangannya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Renald pelan.


Pria di depan Renald itu pun maju tambah dekat dengan Renald, saat sudah tepat di depan Renald pria itu baru berucap kembali, "Angkat kepalamu!!" perintah pria itu.


Renald yang mendengar perintah itupun langsung mengangkat wajahnya, tapi tidak menatap pria di depannya itu.


"Lihat saya!!!" perintah pria itu lagi dengan tegas.


Mau tidak mau, Renald menatap pria di depannya itu.


"A...apa ada yang salah Tuan?" tanya Renald pura-pura ketakutan.


Pria itu hanya diam sejenak sembari menatap intens Renald.


"Hmm, kamu bisa pergi!!" ujar pria itu dengan wajah dinginnya.


"Ba..baik, terimakasih Tuan. Saya permisi" ujar Renald dengan pura-pura sedikit gagap lalu pergi dari hadapan pria itu.


Sementara itu, setelah pergi pria yang menghentikan Renald itu pun langsung menoleh ke arah tangan kanannya (orang kepercayaannya).


******


Malam hari, di saat semuanya sudah tertidur. Beda halnya dengan Renald yang ingin menyelinap keluar lagi. Tapi, saat baru ingin membuka pintu, Renald sangat terkejut ketika tiba-tiba ada sebuah tangan yang membekap mulutnya.


"Mmpphh" Renald langsung memberontak dan ingin mengeluarkan jurus yang sudah di pelajarinya dari Kakek Arsen, tapi orang itu langsung mengunci tubuh Renald hingga tidak bisa memberontak.

__ADS_1


'S*alan!!' umpat Renald dalam hatinya karena tubuhnya dikunci.


Di dalam ruangan.


"Mmpphh" Renald masih terus berusaha memberontak. Dan akhirnya bekapan mulut Renald pun langsung di lepaskan oleh orang itu.


Renald langsung berbalik menatap orang yang membekapnya itu dengan waspada. Tapi, saat berbalik betapa terkejutnya Renald saat tau yang membekapnya ternyata anak buah Kakek Arsen.


"Kamu kan!! Kenapa membekap dan bawa aku kesini ha?!" tanya Renald dengan nada kesalnya.


"Ck, lo tau apa kalau lo itu hampir saja ketahuan!! Tuan Maxim sudah curiga dengan lo tau!!" ujar orang yang membekap Renald itu dengan nada lebih kesal lagi.


Renald menatap tajam orang itu dan terkejut juga mendengar perkataan orang itu bahwa dirinya sudah di curigai dengan Maxim.


"Apa maksud kamu?! Dari mana Tuan Maxim bisa tau? Bukannya Mansion ini tidak ada cctv nya?!" tanya Renald serius sekaligus penasaran kenapa Maxim bisa curiga dengan dirinya, padahal ia sudah berusaha dengan baik agar tidak ketahuan dan membuat orang-orang curiga dengan dirinya.


"Ck menurut lo, dengan tingkah lo yang melirik sana, melirik sini menurut lo Tuan Maxim tidak akan curiga apa?! Ingat disini tidak ada cctv dipasang, tapi banyak cctv hidupnya yang menjadi matanya di Mansion ini!!" ujar pria itu dengan tegasnya ke Renald.


"Hmm" jawab pria di depan Renald itu dengan wajah datarnya.


*****


Keesokan harinya.


Saat ini di Mansion Andrew. Semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga di Mansion itu.


"Sayang, beneran kamu jadi sekarang kesana?" tanya Aidah dengan perasaan khawatirnya.


Andrew mengangguk, "Iya sayang, Mas akan pergi sekarang kesana dengan Ardian. Tapi kamu jangan khawatir, baik-baik tunggu Mas pulang aja yah, dengan baby-baby tungguin Daddy ok sayang" ujar Andrew menenangkan istrinya itu sembari mengelus perut Aidah yang sudah nampak besar.


Berbeda di tempat duduk lainnya. Ardian juga tengah berbincang dengan Lita.


"Kamu tidak perlu khawatir yah, pasti kami akan secepatnya bawa orang tua kamu ke hadapan kamu lagi" ujar Ardian menghibur Lita yang nampak masih khawatir itu.

__ADS_1


Lita tersenyum mendengar ucapan Ardian.


"Yah, aku paham. Terimakasih" ujar Lita dengan senyum tulusnya.


"Tentu, sama-sama" jawab Ardian dengan menatap Lita intens.


Selama beminggu-minggu ini hubungan Ardian dan Lita tambah dekat, entahlah mungkin karena membicarakan ini makanya mereka tambah dekat.


"Ekhem, ekhem" deheman dari Cika membuat tatapan Ardian langsung buyar.


Ardian menatap tajam adik sepupunya itu.


"Istighfar kak, dosa!!" ujar Cika memperingatkan dengan kekehannya.


"Dih, sok lo padahal lo juga banyak dosa!" sinis Ardian membalas ucapan adik sepupunya itu.


"Tapi Cika berusaha untuk tidak nambah dosa, bukan seperti kak yang malah setiap hari nambah dosa" ujar Cika sinis juga.


"Jangan mulai deh kalian!! Kamu juga Cika jangan ajak ribut Kakak kamu, dia sudah mau pergi untuk tugas tapi kamu malah msih saja sempat cari masalah!!" tegur Mama Cika itu dengan nada sedikit kesalnya.


"Huh, bela aja terus anak orang Mom, anak sendiri nggak di belain" ujar Cika dengan wajah cemberutnya.


Sementara para pria lain yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Jadi bagaimana, apa persiapan kalian semuanya sudah siap?" tanya Kakek Arsen memastikan.


"Sudah Kek, kami juga sudah mengabarkan ke para orang-orang itu untuk menangkap setelah menyerahkan bukti-bukti dan membantu kita untuk menyergap tempat itu agar mereka di hukum sesuai hukum yang ada. Andrew akan pastikan mereka akan di hukum sesuai dengan yang setimpal yang mereka lakukan dengan orang-orang yang tak bersalah" ujar Andrew berjanji.


Sebenarnya bisa saja, setelah mengetahui siapa pelaku-pelaku dan dalang di balik semuanya, Andrew akan menghukum mereka semuanya sendiri. Tapi, para wanita di keluarga mereka inginnya agar orang-orang itu di hukum saja sesuai hukum yang berlaku, tidak perlu untuk buang-buang waktu lagi menghukum mereka. Cukup dengan Andrew memastikan bahwa mereka mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang telah mereka semua perbuat terutama Maxim itu dalang dari semuanya.


Setelah dirasa semuanya sudah siap. Andrew dan Ardian pun berpamitan kepada semuanya, walaupun dengan sedikit berat hati Andrew pergi meninggalkan istri dan calon buah hatinya itu untuk menyelesaikan hal ini.


Andrew dan Ardian berangkat menggunakan jet pribadi mereka agar bisa langsung masuk ke area musuh. Tapi, di tempat lain tepatnya di hutan itu, Renald beserta yang lainnya sudah bersiap juga untuk melakukan hal besar ini. Mereka juga sudah siap siaga untuk mengamankan para budak-budak itu untuk di bawanya ke tempat aman jika jet milik Andrew dan lainnya sudah dekat dari hutan.

__ADS_1


__ADS_2