
Saat ini semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Semuanya nampak menatap Kakek Arsen, menunggu pengumuman apa yang ingin di umumkan dengan Kakek Arsen.
"Ada apa Kek?" tanya Andrew menatap sang Kakek yang sedari tadi hanya diam setelah menyuruh pelayan mengumpulkan mereka semua di ruang keluarga.
"Ekhem, Kakek kan pernah bilang kalau Kakek akan mengumumkan sesuatu nanti setelah umur cucu buyut Kakek 5 tahun, nah sekarang sudah waktunya karena Aidan dan Airen sudah berumur 5 tahun. Kakek ingin memberikan tanggung jawab ke Aidan untuk menggantikan Kakek memimpin pasukan Kakek" jelas Kakek Arsen dengan wajah seriusnya menatap semua orang yang juga tengah menatapnya.
Semuanya nampak kaget mendengar itu terutama mereka bertanya-tanya juga pasukan apa bukannya mafia milik Kakek Arsen sudah diberikan ke Renald.
"Pasukan apa Kek? Bukannya Mafia Kakek sudah diberikan ke Renald?" tanya Ardian penasaran. Ardian tampak menggendong anaknya yang masih berumur 2 tahun.
"Andrew sudah curiga dari awal ada lagi yang Kakek sembunyikan dari kami. Jadi, sekarang pasukan apa yang Kakek maksud itu?" tanya Andrew juga penasaran.
Kakek Arsen nampak tersenyum smirk di wajah yang sudah nampak keriput dan tirusnya itu. "Pasukan yang Kakek maksud adalah pasukan mata-mata atau bisa dikatakan detektif yang sudah Kakek latih yang bukan hanya tau menjadi mata-mata, tetapi juga jago dalam hal beladiri. Kakek ingin cucu buyut Kakek Aidan yang akan menggantikan Kakek memimpin pasukan itu!!" tegas Kakek Arsen.
"Ta..tapi apa tidak apa-apa Kek kalau Aidan yang memimpin?" tanya Aidah pelan karena merasa cemas dengan anaknya. Yah walaupun Aidah juga tau anaknya itu sudah di ajar ilmu beladiri dari kecil, tapi tetap saja sebagai orang tua ia merasa khawatir dan cemas dengan anak laki-laki satu-satunya itu.
"Kamu tidak perlu khawatir cucu menantu, Kakek akan melatih yang terbaik untuk Aidan. Kakek juga percaya Aidan bisa memimpin. pasukan itu dengan baik kedepannya, bahkan lebih baik dari Kakek. Aidan juga sudah setuju, benarkan Aidan?" tanya Kakek Arsen ke cucu buyutnya.
Aidan mengangguk mantap, "Iya Mom, jangan khawatir. Aidan pasti akan baik-baik saja, lagi pun ini tanggung jawab yang diberikan oleh Kakek dan tentu Aidan harus menerima hal itu. Dengan adanya pasukan ini juga Aidan bisa menjaga keluarga kita" jawab Aidan dengan senyum tipisnya menatap sang Mommy yang nampak khawatir. Aidan pun mendekat ke Aidah lalu memegang kedua tangan Mommy-nya itu dengan tangan mungilnya serta senyum tipisnya yang menandakan agar Momnya itu tak perlu cemas, ia pasti bisa melakukannya dengan baik.
Aidah terenyuh menatap anaknya itu, ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang anak.
"Baiklah sayang, kalau kamu sudah mengatakan itu Mom percaya sama kamu. Tapi ingat kalau ada masalah harus langsung katakan sama Mom atau Dad ataupun yang lainnya jangan pendam sendiri. Begitupun kalau ada apa-apa harus bilang!" ujar Aidah mengingatkan anaknya dengan nada sedikit tegas seraya mengelus rambut tebal dan hitam lebat sang anak.
Aidan mengangguk mantap lagi menjawab ucapan sang Mommy. Setelah melihat Ibunya sudah menerima, ia menatap Dadanya yang hanya diam melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Dad?" panggil Aidan menatap sang Ayah dengan wajah penuh tanda tanyanya.
Andrew nampak menghela nafas, lalu menjawab anaknya. "Dad juga ikut saja. Asalkan kamu harus ingat tetap berhati-hati dan satu pesan Dad jangan pernah anggap remeh orang lain!" ujar Andrew mengingatkan.
"Baik Dad, siap" jawab Aidan mantap.
Seorang wanita anak kecil yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya membuka suaranya setelah mendengar semua percakapan mereka.
"Kakek kok kak Aidan diberikan pasukan itu, terus Airen tidak?! Kakek buyut nggak adil!" cetus Airen dengan wajah cemberut tak terimanya.
"Ututu jangan ngambek dong Airen cucu buyut Kakek yang paling cantik, ayo sini" panggil Kakek Arsen dengan lembutnya ke cucu buyutnya itu dengan membuka lebar tangannya.
Airen pun berjalan ke Kakeknya itu masih dengan wajah cemberutnya, tapi saat sampai di depan sang Kakek Airen nampak enggan masuk ke dalam pelukan sang Kakek.
Kakek Arsen hanya menghela nafas dan terkekeh geli melihat cucu perempuannya itu ngambek.
"Siapa bilang sih Kakek tidak ada sesuatu buat kamu. Kalau mau tau sini dong peluk Kakek dulu" bujuk Kakek Arsen.
Airen yang mendengar itu pun berjalan masuk ke dalam pelukan sang Kakek yang duduk di kursi roda dengan wajah cemberutnya.
"Apa yang diinginkan cucu perempuannya Kakek ini?" tanya Kakek Arsen dengan mengelus kepala Airen.
"Airen pengen sesuatu seperti kak Aidan" ujar Airen yang nampak menatap manja sang Kakek.
"Baiklah, Airen suka menggambarkan?" tanya Kakek Arsen lembut.
__ADS_1
Airen mengangguk, "Iya Kek."
Prok prok, Kakek Arsen menepuk tangannya sebanyak dua kali.
Asisten sekaligus sekretaris kepercayaan Kakek Arsen pun mendekat dengan membawakan sebuah tab.
"Ini Tuan" Asisten itu menyerahkan tab itu ke Kakek Arsen.
"Nah, ini yang akan Kakek berikan untuk kamu suka tidak?" tanya Kakek Arsen sembari memperlihatkan sebuah bangunan yang megah tetapi unik dan cantik cocok dengan Airen. Bukan hanya itu, Kakek Arsen juga memperlihatkan orang-orang yang sudah terkenal di bidang mendesain untuk membantu serta mendampingi Airen agar tambah pandai dalam mendesain. Hal ini sama seperti Aidan yang diberikan pasukan, Airen pun juga diberikan pasukan tetapi pasukan yang pandai dalam menggambar ataupun mendesain.
"Wah ini beneran Kek?" tanya Airen dengan mata berbinar-binarnya menatap tab di depannya itu.
"Iya dong, Kakek tentu adil dong. Kakek berikan pasukan juga kan untuk cucu Kakek ini" ujar sang Kakek merasa bangga bisa memberikan sesuatu juga untuk cucu perempuannya itu.
Mata Airen nampak berkaca-kaca menatap sang Kakek. "Makasih Kek, Kakek memang yang ter ter ter the best lah pokoknya" pekik Airen senang lalu mengecup wajah keriput sang Kakek dengan senang.
"Hanya cucu buyut yang diberikan Kek. Kami cucu saja tidak diberikan sesuatu?" gurau Andrew, yang sebenarnya ikut senang melihat Kakek Arsen yang perhatian ke anak-anaknya.
Kakek Arsen menatap sinis Andrew, "Dulu Kakek ingin memberikan mafia itu kan, tapi kamu nolak? Kenapa sekarang sok berkata seperti itu?" sinisnya menatap Andrew yang mungkin Kakek Arsen masih sebal karena Andrew yang tidak ingin menerima amanahnya berbeda dengan Aidan yang ingin menerima permintaannya itu yah walaupun harus membujuk lama dulu baru ingin.
Andrew menggaruk lehernya yang tidak gatal merasa canggung dengan tatapan sinis dari Kakeknya serta sindiran yang diberikan, padahal tadinya ia hanya bergurau saja mengatakan itu.
"Pfft skatmat Dad?" bisik Aidah meledek suaminya.
"Mom mau dapat hukuman hmm?" bisik Andrew kembali setelah mendengar bisikan yang terdengar meledek dari sang istri.
__ADS_1
Aidah langsung sedikit menjauh dari suaminya saat mendengar kata hukuman itu dan pura-pura sibuk menatap anaknya.