
Di ruang keluarga, ketiganya yaitu Andrew, Ardian dan Renald tengah membersihkan ruangan itu bersama tanpa bantuan siapapun yang lainnya, sementara yang lain sudah di suruh oleh Kakek Arsen untuk kembali ke kamar masing-masing saja dulu atau jika ada yang ingin pergi bekerja bisa pergi bekerja dulu.
"Kalau kita di sini bertiga pasti akan lama bersih semuanya, jadi kita lebih baik bagi-bagi tempat saja!" ucap Renald tiba-tiba memberikan ide.
"Hmm boleh, kalau begitu aku di kamar dan lantai tiga saja" ujar Andrew menyetujui ide Renald, tapi ia juga langsung menyebutkan tempat dimana dia ingin membersihkan.
"Ok, kalau begitu aku mau di lantai satu dan lantai dua saja" ujar Ardian juga menyetujui dan menyebutkan juga dimana keinginannya.
'Heh, di sini saja bersih apa lagi di tempat lainnya kan lantai satu dan lantai dua selalu bersih, jadi aku tidak perlu terlalu repot untuk membersihkan nanti' batin Ardian menyeringai.
"Hmm baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan taman belakang dan sekitarnya" ujar Renald.
"Baiklah kita sepakat" ketiganya pun saling tos dengan senyum mereka penuh semangat.
Sesuai kesepakatan mereka, Renald pun pergi ke taman belakang, Andrew pergi ke lantai tiga, sedangkan Ardian tetap di tempat semula.
Ardian menatap ruang keluarga itu, "Huh sudah bersih kelihatannya, jadi tidak usah membersihkan di sini" ujar Ardian dengan senyum senangnya, lalu bergegas ke ruangan lainnya.
*****
"Hah" Bukk, suara tubrukan terdengar di ruangan itu. Ketiga pria yang di suruh membersihkan itu langsung melemparkan dirinya ke sofa empuk yang berada di ruang keluarga dengan rasa capek dan letih nya.
Kakek Arsen yang berada di ruangan keluarga itu pun menatap puas cucu-cucunya.
"Bagaimana? Asik kan mengerjakan pekerjaan Mansion?!" tanya Kakek Arsen dengan senyum puasnya.
"Huh asik apanya Kek, yang ada capek!!" keluh Ardian dengan wajah kesalnya, apa lagi mengingat kejadian tadi.
Ardian pikir ia tak perlu repot-repot membersihkan karena semuanya pasti sudah bersih, tapi Kakek Arsen tiba-tiba datang dan menyuruhnya juga untuk mencuci piring dan lainnya yang seharusnya biasanya di kerjakan oleh pelayan Mansion.
"Yah begitulah juga apa yang di rasakan para pelayan, makanya ini juga pelajaran buat kalian jangan menyuruh pelayan dengan semena-mena karena pekerjaan mereka itu juga sangat melelahkan!!" ucap Kakek Arsen memberikan nasehat untuk ketiganya.
"Huh, iya Kek. Tidak usah basa-basi lagi Kek. Jadi, dimana mereka berada dan apa strateginya?!" tanya Ardian menatap Kakek Arsen penuh tanda tanya.
Begitupun Renald dan Andrew
Kakek Arsen terkekeh, "Sepertinya kalian sudah tidak sabar ingin tau" ujar Kakek Arsen dengan senyum sok misteriusnya lagi.
"Jadi??" tanya Ardian lagi tidak sabar.
"Haiss dasar bocah ini paling tidak sabaran, tunggu!!" Kakek Arsen mengambil sesuatu di laci meja yang berada di ruangan itu lalu menaruhnya di meja depan ketiga pria yang bersandar di sofa itu.
Ardian dengan tidak sabaran langsung mengambil barang itu, lalu membukanya.
"Peta??" tanya Ardian tidak paham.
__ADS_1
"Hmm itu peta dimana keluarga Lita dan yang lainnya di sekap" jelas Kakek Arsen dengan serius.
Setelah mendengar perkataan Kakek Arsen, Andrew langsung mengambil peta itu dari tangan Ardian.
Andrew melihat dengan seksama dimana letak tempat di peta itu berada, Renald pun ikutan melihat peta itu dengan serius. Sementara Ardian yang peta itu langsung di rebut darinya hanya bisa mendengus kesal.
"Ini, bukannya ini di hutan Amora yang terkenal berbahaya itu?!" tanya Andrew memastikan.
"Hmm, kamu tepat sekali cucuku. Benar itu di hutan Amora" jawab Kakek Arsen.
"Aku juga sepertinya pernah dengar rumor tentang hutan Amora yang berbahaya. A..apa rumor itu jangan-jangan hanya rumor yang mereka ciptakan?!!" tanya Renald kaget.
Kakek Arsen tersenyum puas mendengar ucapan Renald, "Kamu benar sekali, tapi itu bukan hanya rumor belaka. Memang sudah banyak orang yang datang ke hutan itu tapi tak pernah berhasil keluar karena di hutan itu sudah di jaga ketat oleh anak buah Maxim dan orang-orang yang berani masuk ke hutan itu maka pasti akan di tawan dan di jadikan budak oleh Maxim!!" jelas Kakek Arsen dengan serius.
"Apa!!" ketiganya terbelalak kaget mendengar penjelasan Kakek Arsen.
"Astaga kejam sekali mereka" ujar Ardian bergedik ngeri.
"Tapi bukannya Maxim baru masuk ke negara ini dua tahun silam?" tanya Andrew memastikan dengan bingungnya.
Kakek Arsen menggeleng, "Yang kamu dengar itu hanya Perusahaannya yang baru saja melebar dua tahun lalu hingga ke negara ini, tapi sebelumnya dia sudah tinggal lama di negara kita. Sebelum menebarkan sayap Perusahaannya ke negara ini, Maxim sudah mulai menyusun sesuatu agar ia memiliki kuasa terlebih dahulu di negara ini jadi ketika membangun Perusahaan dia sudah gampang. Kalian taukan tidak cukup dua tahun, Perusahannya langsung menjadi salah satu Perusahaan raksasa di negara kita ini?" jelas Kakek Arsen lagi.
Ketiganya terdiam kaget lagi mendengar penjelasan yang mengejutkan dari Kakek Arsen.
"Kakek Arsen sungguh banyak sekali yang Kakek tau" puji Andrew, tapi seperti nada curiga.
Kakek Arsen tau maksud Andrew itu, cucunya pasti curiga dari mana ia tau mengenai ini semuanya. "Ekhem, sudahlah berhenti bertanya lagi, sebaiknya kita membahas strategi saja, strategi apa yang bagus untuk bisa membasmi hama itu" ujar Kakek Arsen mengalihkan pembicaraan.
Ketiganya pun mengangguk mengerti.
"Jadi strateginya seperti apa Kek?" tanya Renald.
Kakek Arsen pun menatap ketiganya serius, lalu mulai mengatakan strategi yang telah di buatnya untuk bisa membasmi hama itu yang hanya meresahkan masyarakat.
Beberapa saat kemudian. Ketiganya mengangguk paham setelah mendengar strategi yang di jelaskan oleh Kakek Arsen.
"Strateginya cukup bagus, tapi sepertinya kita harus memikirkan lebih matang lagi mengenai orang yang akan jadi umpannya" ujar Andrew serius.
"Hmm benar sekali, apa Renald saja yang menyamar menjadi umpannya? Renald sudah banyak mempelajari bela diri dan senjata dari Kakek Arsen jadi masalah ini bukan masalah besar Renald pasti bisa menanganinya" ujar Renald mengusulkan dirinya.
Kakek Arsen mengangguk, "Boleh juga, tapi kita harus waspada karena mereka sangat jeli" ujar Kakek Arsen serius.
"Tapi, apa tidak apa-apa?? Bukannya Kak Renald baru belajar beberapa bulan bela diri dan senjata dan masalah ini sangat berbahaya kalau Kak Renald sampai ketahuan mereka pasti akan langsung membunuh Kak Renald!!" ujar Ardian khawatir dan ragu dengan rencana Renald itu.
"Tenang saja, aku pasti bisa. Kalau hal begini saja aku tidak bisa, maka aku masih belum pantas menggantikan Kakek Arsen untuk menjadi pemimpin di Mafia itu!!" ucap Renald serius.
__ADS_1
"Hah, baiklah. Kalau Kak Renald yakin, maka Ardian juga akan yakin" ujar Ardian mengangguk.
"Hmm, sudah di putuskan. Masalah alat pendeteksi agar tidak ketahuan kalian tenang saja, aku sudah punya rancangan pendeteksi baru yang tidak mungkin mereka dapat ketahui" ucap Andrew tersenyum smirk.
Kakek Arsen ikut tersenyum smirk mendengar ucapan cucu-cucunya yang sangat pemberani dan cerdik.
"Kalian juga tenang saja, Kakek akan berusaha memasukkan anak buah Kakek juga ke tempat itu" ujar Kakek Arsen. "Dan rencana selanjutnya kalian pasti sudah paham kan?!" tanya Kakek Arsen menatap ketiganya serius.
Ketiganya mengangguk mantap.
"Kami sudah paham Kek" jawab ketiganya dengan mantap.
******
Setelah berbincang mengenai strategi itu, Andrew kembali ke kamarnya lalu berbaring manja di pangkuan istrinya sembari memegang perut istrinya itu yang sudah nampak mulai kelihatan.
"Sayang, bagaimana dengan pembicaraan kalian tadi?" tanya Aidah dengan mengelus kepala suaminya itu lembut.
"Sudah beres kok sayang, kamu tenang saja. Semuanya pasti akan segera teratasi dengan baik, lalu kita bisa hidup tenang dan bahagia bersama dengan anak-anak kita" ucap Andrew dengan senyumnya menatap istrinya itu, tapi tetap memegang perut istrinya.
"Alhamdulillah, kalau seperti itu Mas Aidah ikut senang. Semoga semuanya cepat beres yah Mas" ucap Aidah bersyukur dengan helaan nafas leganya. Karena sebenarnya Aidah takut juga sebab Aidah tau masalah ini pasti bukan masalah sepele.
"Iya sayang semoga" ucap Andrew lembut, lalu mengalihkan pandangannya ke arah perut istirnya lagi.
"Anak Daddy udah mulai besar yah di dalam, baik-baik yah di dalam baby-baby nya Daddy. Daddy pasti akan selalu tunggu kehadiran kalian" cetus Andrew dengan senyum senangnya, lalu mengecup perut istrinya itu dengan senang.
"Mas kenapa sih selalu bilang kalian? Memang anak kita kembar apa? Dokter saja belum bilang mengenai hal itu Mas sudah selalu bilang kalian seolah anak kita kembar" tanya Aidah dengan herannya.
Andrew terkekeh mendengar pertanyaan istrinya, "Walaupun Dokter belum bilang apa-apa tapi aku yang tiap malam berusaha agar mereka ada, sudah pasti aku tau kalau anak-anak Daddy ini kembar" ujar Andrew dengan bangganya.
Aidah tersenyum malu sembari menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya itu. "Bagaimana coba kalau aslinya anak kita hanya satu?!" tanya Aidah.
"Yah kalau hanya satu bukan kembar yah tidak apa-apa, kan kita bisa buat lagi" goda Andrew dengan mengedipkan matanya ke istrinya.
"Mas ih Aidah lagi serius juga" ujar Aidah cemberut dengan wajahnya yang mulai memerah.
"Haha, kenapa bibirnya monyong gitu mau di- mphh" ucapan Andrew langsung berhenti karena Aidah langsung menutup mulut suaminya itu dengan wajah memerahnya.
"Sudahlah Mas, Mas pasti capek ayo istirahat dulu!!" ucap Aidah dengan cepat mengalihkan perhatian.
Andrew tersenyum geli mendengar ucapan istrinya yang berusaha mengalihkan perhatian itu. "Baiklah sesuai perintah Ratu" Andrew bangun dari baringnya lalu kembali berbaring di kasur.
"Sini, katanya mau istirahat" ujar Andrew dengan menepuk kasur sebelahnya.
Aidah tersenyum lalu ikut baring di samping suaminya. Andrew pun langsung memeluk istrinya itu, Aidah juga membalas pelukan suaminya dengan senyum senangnya dan pipinya yang masih nampak memerah.
__ADS_1