
Setelah Aidah sampai, Ardian mengajak semuanya untuk duduk dulu sebelum mengatakan rencananya.
"Jadi??" tanya Aidah dengan mengernyitkan dahinya, dengan menatap satu persatu laki-laki yang ada di ruangan itu.
"Ekhem, jadi gini Kakak ipar...." Ardian menceritakan semuanya mengenai Lita itu.
"Apa!! Kamu serius Ardian?!" tanya Aidah kaget.
Ardian mengangguk, "Iya Kakak ipar. Oleh karena itu, Ardian punya ide tentang itu" ujar Ardian dengan senyum liciknya.
"Ide apa??" tanya Aidah lagi dengan menaikkan alisnya satu menatap Ardian.
Ardian pun mengatakan idenya itu dengan penuh semangat.
Beberapa saat kemudian.
"Aku tidak setuju dengan itu!!" tegas Andrew menolak ide Ardian, setelah Ardian mengutarakan idenya itu.
"Aku setuju!!" ujar Aidah yang berbeda pendapat dengan suaminya.
"Sayang, kamu kok setuju. Aku tidak setuju dengan idenya itu sangat tidak bermanfaat!" kesal Andrew.
"Astaga Kak, hanya sekali ini saja. Lagi pun Kakak ipar juga udah setuju tuh" ujar Ardian saat mendengar penolakan lagi dari Kakak sepupunya itu, padahal Aidah sudah setuju dengan idenya.
"Nggak apa-apa sayang, lagian aku juga lagi pengen jambak rambut orang. Kan sekalian sayang, daripada aku jambak rambut orang yang tidak bersalah" ujar Aidah memberikan alasannya kenapa setuju dengan entengnya.
"Nah, bagus tuh Kakak ipar sekalian saja" dukung Ardian dengan antusias, tidak sabar untuk melihat pertunjukan.
"Ck, kamu itu bukannya menahan tapi malah mendukung Kakak ipar kamu!!" ketus Andrew ke Ardian.
"Hehe kan sekalian Kak" jawab Ardian dengan cengengesan.
"Ekhem, kalian anggap aku apa ha? Kalian nggak tanya gitu pendapat aku sebagai Abang Aidah gimana!!" ujar Renald kesal, karena sedari tadi hanya mereka yang berbicara saja tidak ada yang menanyakan pendapatnya.
"Nggak penting!" ujar Andrew dan Ardian serempak.
"Ck, kalau bukan aku yang kasih tau semuanya kalian mungkin belum tau, tapi apa sekarang kalian malah balas aku kaya gini!!" kesal Renald, menatap sinis keduanya.
Aidah geleng-geleng kepala mendengar itu.
"Sudahlah, ayo kita istirahat saja dulu. Nanti baru kita lanjutkan lagi seperti ide dari Ardian!" ajak Aidah kepada ketiga pria yang ada di ruangan itu, karena jika tidak maka ujung-ujungnya mereka pasti akan bertengkar dan adu mulut lagi.
__ADS_1
Semuanya mengangguk setuju.
"Kalau begitu kalian bisa istirahat, aku harus pamit sekarang masih ada urusan di markas. Oh yah dek jaga diri baik-baik ok kalau ada apa-apa langsung beritahu Abang!" ujar Renald mengingatkan adiknya sebelum pergi.
"Siap Bang" jawab Aidah dengan senyum manisnya, sembari memperagakan seperti orang yang hormat.
"Baiklah, aku pergi dulu Assalamualaikum" ujar Renald lalu melangkah pergi, tapi sebelum itu ia sempatkan juga untuk mengelus kepala adiknya lalu pergi dari ruangan.
"Waalaikumsalam" jawab semuanya.
Setelah melihat Kakaknya itu pergi, Aidah menatap berbinar ke suaminya. Andrew yang melihat tatapan itu tau pasti ada yang diinginkan istrinya lagi kali ini.
"Ada apa hmm?" tanya Andrew.
"Hehe Mas tau aja. Aidah itu hmm Aidah mau salad buah tapi Mas yang bikinin boleh?" pinta Aidah dengan malu-malu.
"Tentu dong boleh sayang" jawab Andrew dengan senyum senangnya, karena istrinya meminta sesuatu lagi kepadanya.
"Ekhem, ingat rencana kita jangan romantis mulu" sindir Ardian halus, karena merasa panas sendiri melihat orang lain romantis di depannya yang jomblo.
"Dih, syirik. Makanya cepat nikah juga sana" ejek Andrew. Setelah mengatakan itu, Andrew merangkul pinggang istrinya keluar dari ruangan.
******
Malam hari, di kediaman Andrew.
Setelah makan malam dan berbincang seperti biasa di ruang tamu, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Saat ini juga Andrew dan Aidah berada di kamar mereka.
"Sayang, Mas bersih-bersih dulu yah. Baby, Daddy mau bersih-bersih dulu yah tungguin Daddy ok" ujar Andrew dengan mengelus senang perut istrinya.
"Ciat Jajjy" jawab Aidah dengan celoteh seperti anak kecilnya.
Andrew terkekeh mendengar jawaban istrinya itu. Andrew mencium pipi istrinya sekilas, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, sekalian berganti pakaian tidur.
Setelah Andrew masuk ke kamar mandi. Aidah hanya duduk sambil berceloteh dengan bayi yang ada di dalam kandungannya saat ini.
Tapi, setelah berceloteh panjang lebar Aidah rasanya haus. Aidah menatap tempat air minum yang selalu tersedia di atas nakas.
"Haiss, pake habis lagi airnya" ujar Aidah dengan helaan nafasnya, ketika melihat air minumnya habis.
Mau tidak mau, Aidah harus ke bawah untuk mengambil air karena tidak mungkin ia memanggil pelayan untuk datang ke kamarnya saat ini padahal sudah hampir tengah malam.
__ADS_1
"Mas, Aidah kebawah dulu yah ambil air" teriak Aidah memberitahu suaminya itu yang berada di kamar mandi.
"Tunggu Mas selesai saja sayang, biar Mas ambilkan" jawab Andrew dari dalam kamar mandi.
"Tidak perlu Mas, lagian hanya ke bawah saja" ujar Aidah, lalu melangkah pergi keluar kamar.
Aidah pun ke bawah, sampai di bawah ia melihat ternyata lampu-lampu ruangan sudah mati semua. Aidah pun berjalan pelan, mendekati saklar lampu untuk menyalakan lampu ruangan.
Sementara di kamar, Andrew baru saja selesai bersih-bersihnya. Ia keluar dari kamar mandi dan beranjak ingin ke tempat pakaian berada. Tapi, tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka.
Cklek.
"Sudah ambil airnya sayang? Kok cepat banget?" tanya Andrew dengan membelakangi pintu sembari mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecilnya.
Andrew yang tidak mendengar jawaban dari istrinya itu pun mengernyitkan dahinya, lalu berbalik menatap ke arah pintu. Dan saat menatap ke arah pintu tatapan Andrew langsung berubah tajam, tapi langsung merubahnya lagi ketika ingat perjanjian mereka tadi.
"Ada apa kamu kemari?!" tanya Andrew santai. Padahal nyatanya sangat marah saat ini, karena wanita di depannya menurutnya sangat tidak sopan saat ini.
"Maaf Tuan, saya hanya mau mengantarkan cemilan untuk Nyonya, karena yang saya tau orang hamil biasanya suka cemilan" ujar wanita yang baru masuk itu yang ternyata adalah Lita dengan membawa cemilan kue di nampannya.
"Hmm, taruh di nakas saja" perintah Andrew dengan melirik nakas.
Lita pun mengangguk, Lita lalu menaruh nampan yang di bawahnya itu di nakas. Tapi, setelah menaruh nampan itu, ia beralih mendekati Andrew.
Andrew mengepalkan tangannya melihat gerak-gerik aneh perempuan di depannya itu, apa lagi saat perempuan itu mendekat ada bau yang ia sangat tau bau apa itu.
"Kenapa kamu masih di sini?!! Sebaiknya pergi dari ruangan ini!!" tegas Andrew.
"Tuan, saya- aww" Lita dengan aktingnya ia tak sengaja terjatuh ke pelukan Andrew.
"Stt maaf Tuan, sa..saya tidak sengaja" Lita pun ingin menjauh tapi, "Awww, sepertinya kaki saya sakit Tuan, tidak bisa di gerakkan" ujar Lita pura-pura kesakitan dengan menggenggam pakaian Andrew itu.
Prakkk, suara pecahan terdengar di kamar itu.
"Apa yang kalian lakukan?!!!" tanya Aidah dengan wajah dibuat kagetnya, tapi dirinya benar-benar emosi dan cemburu asli melihat perempuan itu dengan beraninya menyentuh pria miliknya.
"Sayang!!" ucap Andrew dengan khawatirnya. Walaupun hanya pura-pura tapi Andrew beneran khawatir kalau istrinya beneran marah dengannya.
Sementara biang keladinya, yaitu Lita tersenyum licik mendengar suara Nyonyanya.
"Ma..maaf Nyonya, tapi awww sa..saya kaki saya sakit jadi Tuan hanya baik hati ingin menolong saya hanya ingin menggendong saja kok Nyonya tidak lebih dari itu" ujar Lita pura-pura merasa bersalah.
__ADS_1