Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Saling Bersaing


__ADS_3

"Assalamualaikum adik kesayangan Abang" sapa Renald yang baru saja masuk ke dalam ruangan, sembari mendekati Aidah yang mukanya awalnya di tekuk langsung berubah ceria melihat kakaknya. Semenjak hari itu memang Renald ingin di panggil Abang agar lebih ke Indonesia seperti Aidah memanggil suaminya Mas. Entahlah Renald selalu berebut-rebut sama Andrew dalam mencari perhatian Aidah.


"Waalaikumsalam" jawab kedua orang yang berada di ruangan.


"Abang!!" ujar Aidah gembira setelah menjawab salam dari Renald.


"Nih, Abang bawain makanan khusus untuk adik Abang" Renald menaruh makanan yang khusus di bellikannya untuk Aidah itu di meja depan Aidah.


"Abang memangnya nggak sibuk yah? Tumben datang? Memang Kakek Arsen biarin Abang ke sini padahal Abang lagi latihan?" tanya Aidah dengan senyum cerianya menatap makanan di depannya itu. Aidah bertanya sembari sibuk membuka makanan yang di bawah Renald itu.


"Sibuk sedikit, tapi kalau untuk adik, Abang pasti ada waktu. Hmm Kakek Arsen malahan yang suruh Abang untuk menemui kamu. Oh iya katanya kamu hamil yah? Beneran dek?" tanya Renald memastikan sembari mengangkat kursi lalu menaruhnya di samping Aidah dan duduk di kursi itu.


Andrew melihat itu menatap sangat tajam ke arah Renald. Ia memang kurang suka jika melihat Renald itu datang, karena selalu mencoba mencuri perhatian istrinya darinya, untung lah dia datang hanya sesekali.


Renald seolah-olah tak melihat tatapan tajam Andrew itu yang di hunuskan kepadanya, malah tersenyum smirk saat merasakan tatapan tajam itu.


"Iya Bang, alhamdulilah Aidah hamil 6 Minggu Bang" jawab Aidah menatap Kakaknya, lalu menoleh kembali ke makanan yang di bawa Kakaknya dengan mata berbinar karena kebetulan dirinya juga mau makan yang asam-asam dan kakaknya membawakannya rujak yang asam cocok untuk dirinya saat ini.


Aidah tanpa babibu langsung melahap makanan itu dengan senangnya.


"Wah baguslah, Abang akan punya ponakan" ujar Renald senang. "Pelan-pelan saja makannya dek, nggak ada yang bakalan ambil itu untuk kamu" lanjut Renald dengan terkekeh kecil melihat tingkah Aidah yang melahap makanan yang di bawakannya dengan senang.


"Cih" Decih Andrew kecil saat melihat Renald yang perhatian seperti itu ke Aidah.


"Sayang kamu nggak boleh banyak makan makanan asam, nanti kamu sakit perut lagi. Lagipun kalau kamu mau Mas bisa buatkan untuk kamu, khusus dari Mas sendiri loh yang buat" ujar Andrew, sembari ikut mendekat ke arah istrinya itu.


Renald menatap sinis Andrew yang mendekat, terutama saat mendengar ucapan Andrew yang seperti sedang menyindirnya.


Aidah berhenti makan sejenak, dan menatap suaminya itu dengan mata berbinar. "Beneran Mas, mau bikinin Aidah?" tanya Aidah dengan senangnya.


"Iya dong, tapi tetap saja nggak boleh banyak nanti kamu sakit perut lagi. Bukan kaya orang lain yang membawa makanan dari luar entah higenis atau tidak" sindir halus Andrew. Andrew pun sampai tepat di samping istrinya sebelah lain dari tempat di mana Renald duduk.


Andrew langsung mengangkat istrinya tiba-tiba, dan tentu itu mengagetkan Aidah dan juga Renald. Andrew tidak peduli, lalu duduk di kursi tempat istrinya duduk dan mendudukkan Istri nya di pahanya.


"Ck, kamu ada kursi sendiri kan ngapain duduk di situ?!" sinis Renald.


"Ah kursinya terlalu jauh, kan bagus juga seperti ini? Tidak ada salahnya kan Kak Renald ah salah tapi Abang Renald?" tanya Andrew dengan menaikkan alisnya satu.


Renald merasa geli dan jijik mendengar Andrew memanggilnya Abang.


"Cih, memangnya kamu tau cara masak gitu?" tanya Renald memandang remeh Andrew.

__ADS_1


"Oh tentu dong, bukannya seperti seseorang yang hanya belajar berlatih bela diri tapi tidak pandai memasak" sindir Andrew secara halus lagi.


Renald mengepalkan tangannya dan memandang sinis Andrew yang menyindirnya lagi.


"Heh, hanya memasak saja. Bukannya belajar memasak itu gampang" ujar Renald lagi dengan entengnya.


"Oh yah? Kalau begitu bagaimana kalau Kak eh Abang Renald memasak sesuatu buat istriku lusa, saya juga akan membuat sesuatu jadi biar Aidah yang menilai hasilnya, bagaimana?" ujar Andrew dengan menarik turunkan alisnya serta tersenyum smirk menatap Renald.


Renald terdiam mendengar ucapan Andrew.


Melihat Renald terdiam seperti itu, membuat Andrew ingin menambah bumbu lagi. "Oh atau Abang Renald takut yah? Yah kalau gitu yasudah mau di apa" ujarnya santai.


Renald mengepalkan tangannya, menguatkan tekadnya.


"Si..siapa yang bilang aku takut ha!!! Baiklah kita akan lomba memasak dan Aidah yang akan jadi jurinya, tapi kamu harus bisa membantu aku mendapatkan izin dari Kakek Arsen kalau bisa yah siapa takut!!" ujar Renald sok berani. Padahal nyatanya Renald tidak tau sama sekali caranya memasak.


"Tidak masalah."


Keduanya sama-sama saling menatap tajam dan sinis.


Aidah yang sedari tadi hanya asyik menyantap makanannya sembari mendengar kedua orang penting dalam hidupnya saling menyindir satu sama lain.


"Sudah kan?" tanya Aidah sembari memasukkan rujak itu ke dalam mulut Andrew dan Renald yang raut wajah mereka langsung berubah saat merasakan asamnya rujak itu.


Andrew dan Renald yang ingin mengeluarkan buah asam itu, terhenti saat melihat wajah puppy eyes Aidah. Mereka berdua akhirnya memakan itu walaupun merasa asam dan raut wajah mereka yang tetap berusaha biasa saja.


Setelah makanan itu habis.


"Ekhem Abang pamit yah dek, istirahat baik-baik jangan capek-capek dulu kamu lagi hamil soalnya" ujar Renald dengan perhatiannya.


"Iya Bang. Abang juga hati-hati yah walaupun latihan keras Abang harus ingat untuk istirahat juga."


"Iya dek, tentu" jawab Renald dengan senyumnya.


"Dan untuk kamu, ingat awas saja kalau sampai buat adik ku capek!! Aku tidak bisa selalu berada di sisinya, jadi aku titipkan adikku baik-baik ke kamu jangan sampai aku mendengar adikku sampai lecet walaupun sedikit saja, kalau sampai itu terjadi walaupun kekuasaan mu lebih dari aku, aku juga tidak akan takut!!" ancam Renald dengan tatapan tajam dan seriusnya ke Andrew.


"Hmm tentu saja, dia juga istriku pasti akan aku jaga dengan sangat baik" ujar Andrew dengan tatapan tak kalah tajam dan seriusnya.


"Tapi jangan lupa juga loh perjanjian kita lusa" lanjut Andrew.


"Cih, tentu" sinis Renald. "Assalamualaikum" salam Renald, lalu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Melihat Renald sudah pergi, dan makanannya pun sudah habis, Aidah langsung menatap berbinar suaminya.


"Mas, kapan Mas buatin rujak?" tanya Aidah dengan mata berbinarnya.


"Sebentar yah sayang, kan kamu baru makan sebanyak itu. Kamu juga harus makan nasi dulu baru bisa makan seperti itu lagi, kalau nggak nanti kamu bisa sakit perut!" ujar Andrew lembut memberitahu istrinya itu.


Aidah mengangguk paham, karena ini juga demi kebaikan anak yang ada di dalam kandungannya.


"Yasudah Mas lanjut kerja saja dulu, supaya bisa cepat pulangnya. Mas juga hari ini tidak ada jadwal rapat kok, tinggal kerja berkas-berkas yang ada di meja Mas saja" ucap Aidah saat mengingat jadwal suaminya.


Andrew mengangguk, "Baiklah sayang, Mas kerjain cepat dulu yah supaya kita bisa pulang ke Mansion" ujar Andrew sembari mengelus kepala istrinya dengan senyum lembutnya.


Andrew pun kembali mengutak-atik dan mengerjakan berkas yang ada di mejanya, sementara Aidah pergi ke kamar yang ada di ruangan itu.


Di ruangan lain, tepatnya di samping ruangan Andrew yaitu ruangan milik Endra sang asisten kepercayaan Andrew.


Endra sedari tadi sibuk mengangkat-angkat telfon sembari menggerutu kesal.


Kring kring


"Astaga telfon lagi, ini sudah yang keberapa!!" ujarnya menggerutu.


Endra pun mau tidak mau harus mengangkat telfon itu.


"Iya, pak. Kami benar-benar minta maaf, saya akan jadwalkan meeting nya kembali dengan sekretaris bapak" ujar Endra sopan.


"...."


"Iya, pak. Saya paham, dan kami benar-benar minta maaf sebelumnya."


Telfon pun di matikan.


"Hah, ini semua karena Tuan. Aku harus bekerja ekstra lagi" keluhnya dengan menyandarkan dirinya di bangku kebesarannya setelah sibuk mengangkat telfon karena harus mengganti jadwal meeting dengan klien.


Jadwal yang di berikan ke Aidah itu adalah jadwal yang sudah Andrew suruh di rubah agar semua meeting di tunda ke beberapa hari berikutnya. Dan semuanya berimbas ke Endra yang harus sibuk sana-sini karena perintah Tuannya itu yang tiba-tiba.


******


Maaf sekali yah Author dua hari ini tidak up, soalnya dua hari ini Author PKKMB atau semacam ospek gitu di kampus jadi tidak up capek soalnya karena selalu pulang Maghrib🙏.

__ADS_1



Maaf sekali lagi yah, Author usahain up walaupun satu episode perhari🙏 Jangan lupa ninggalin jejak yah🤗


__ADS_2