
Setelah Aidah di pindahkan ke ruang rawat inap khusus untuk keluarga Lewis yang berada di lantai teratas gedung rumah sakit itu. Semuanya berkumpul di ruangan rawat inap Aidah. Ruangan tempat Aidah saat ini memang luas jadi cukup untuk menampung semuanya.
Para Kakek dan Oma dari bayi kembar yang baru lahir itu tengah menatap cucu-cucu mereka dengan senangnya, bahkan ada yang iseng mencubit pelan sekali karena gemas sudah lama sejak mereka tidak menyentuh bayi seperti ini.
"Cucu Oma kenapa hmm? Mau apa hmm sayang?" tanya Selani tersenyum senang dengan menggenggam tangan cucu perempuannya yang nampak menggeliat pelan.
'Jangan sama seperti Daddy mu yah cucunya Opa, kamu harus mau jadi pewaris Opa' batin Kakek Arsen menatap senang cucu laki-lakinya yang nampak tenang berbeda dengan saudari kembarnya yabg menggeliat. Kakek Arsen menyentuh tangan cucu laki-lakinya itu dengan senangnya.
Tapi, anak laki-laki dari Andrew dan Aidah itu hanya diam saja.
"Hahaha sepertinya ada yang akan mewarisi kutub keluarga Lewis lagi, emang yah turun-temurun" ceplos Nathan dengan tawanya saat melihat cucu laki-lakinya itu hanya diam berbeda dengan cucu perempuannya.
Plak, suara pukulan.
"Aduh Mom." Nathan meringis karena tiba-tiba di pukul dengan istrinya.
"Makanya huh jangan sembarangan bicara! Lihat saja nanti kami pasti akan buat dia tidak kutub seperti kalian" ucap Ana dengan galaknya serta kepercayaan dirinya bisa mengubah cucu laki-lakinya itu.
'Hehe kalian tentu tidak bisa, dia sudah aku tetapkan jadi pewaris ku!' batin Kakek Arsen dengan senyum liciknya.
__ADS_1
Sementara itu di ranjang pasien, Aidah hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan disertai senyumnya melihat hal itu. Andrew juga sama seperti istrinya Aidah.
"Ah ya sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Andrew kepada istrinya.
Aidah menggelengkan kepalanya, "Nggak perlu Mas."
"Kak Andrew dan Kak Aidah nama keponakan-keponakan ku ini siapa?" tanya Cika penasaran.
"Oh iya nama cucu kami ini siapa?" timpal Selani juga yang ikutan bertanya di ikuti anggukan para kakek dan oma.
"Marganya harus Wikram yah!" tegas Renald sebelum Andrew berucap.
"Eh nggak bisa gitu dong! Mereka kan anaknya adik aku juga Aidah yah tentu marganya harus mengikuti keluarga kita dong Wikram!" balas Renald lagi yang juga menolak dengan ucapan Ardian.
"Mana bisa begitu! Kak Andrew kepala keluarga dimana-mana anaknya yah pasti ikut marga Daddy nya lah!!" ucap Ardian membalas ucapan Renald.
Sebelum Renald mengucapkan sesuatu lagi, Andrew langsung buka bicara.
"Diam!!" ucap Andrew dengan suara pelannya tapi penuh penekanan serta tatapannya yang tajam bagai hunusan pedang.
__ADS_1
Keduanya langsung menutup mulut mereka tidak berani untuk berbicara lagi.
"Kalian berdua kenapa suka sekali bertengkar sih! Kalian kalau mau bertengkar sebaiknya di luar jangan di dalam, istri aku juga capek sudah berusaha untuk melahirkan kalian malah ribut!" ucap Andrew lagi masih dengan tatapan tajamnya.
"Aku dan Aidah sudah memutuskan nama dan marga apa sejak awal dan ini tidak dapat untuk di ganggu gugat karena ini sudah keputusan kami!!" lanjut Andrew dengan tegasnya.
Andrew menatap dulu istrinya yang tengah bersandar di ranjang ruangan itu. Aidah yang di tatap dengan suaminya pun mengangguk dengan senyum kecilnya. Setelah melihat anggukan dari istrinya Andrew menatap semuanya kembali.
"Jadi aku dan istriku sepakat untuk menamakan anak pertama kami yang laki-laki itu Aidan Kerdian Lewis dan anak kedua kami yang perempuan itu Airen Cerdiani Lewis. Jadi kalian bisa memanggilnya baby Ai" ucap Andrew dengan senyum bangga dan senangnya dengan nama yang di berikannya.
"Wah namanya bagus kak, selamat datang di dunia baby Ai" ujar Cika dengan mata berbinarnya menatap ponakannya.
"Lah kok nggak ada marganya Wikram?!" ujar Renald tak terima, yah walaupun sebenarnya juga suka dengan nama yang diberikan Andrew itu.
"Hah, kan kamu sudah mau nikah dengan Bricia jadi anak kamu saja yang bermarga Wikram!!" ujar Andrew memberitahu.
"Iya benar itu sayang, jangan ganggu adik dan adik ipar kamu lagi. Kamu kan juga akan punya anak nanti saja anak kamu marganya keluarga kita Wikram" tegur Ibunda dari Aidah dan Renald.
Renald hanya bisa menghela nafasnya dan mengangguk karena ia tau juga tak seharusnya ia memaksa. Karena seperti yang dikatakan Mamanya nanti kalau ia sudah punya anak, ia bisa menamai anaknya dengan marga keluarga mereka.
__ADS_1
Semuanya pun mengucapkan selamat atas kelahirannya baby Ai. Ruangan kamar rawat inap Aidah itu dilingkupi dengan kebahagiaan saat ini.