
Tak terasa sudah sekitar satu bulan umur si kembar baby Ai. Hari ini semuanya nampak sibuk, karena hari ini satu hari sebelum pernikahan antara Renald dan Bricia dilaksanakan. Sebenarnya bukan hanya pernikahan Renald dan Bricia tetapi sekaligus aqiqah si kembar.
Aidah juga beserta baby Ai berada di Mansion keluarganya, tetapi saat ingin membantu ia hanya di suruh diam dan menjaga baby-baby saja tidak perlu membantu apa-apa oleh keluarganya serta keluarga suaminya.
"Sudahlah sayang. Itu baby Airen sepertinya mau mimi, jangan cemburut lagi gitu dong nanti keriput loh" goda Andrew yang juga ada di sini karena membantu persiapan pernikahan kakak iparnya itu yang akan dilaksanakan besok, begitupun untuk acara anak-anaknya yang digabungkan.
"Ishh Mas, Aidah itu nggak bakalan secepat itu keriputnya!" ujar Aidah mengerucutkan bibirnya sembari menoleh menatap anaknya yang memang sepertinya baby Airen ingin mimi.
"Sayang haus yah? Yuk kita mimi dulu baby Airen nya Mom" ujar Aidah lalu menggendong anaknya itu.
"Daddy ikut juga dong Mom mimi" goda Andrew lagi ke istrinya itu.
Aidah hanya menatap sinis suaminya, lalu pergi dari tempat itu untuk pergi ke tempat yang lebih tertutup meninggalkan suaminya beserta anak laki-lakinya.
Andrew hanya terkekeh saat mendapatkan tatapan sinis dari istrinya. Setelah melihat istrinya sudah pergi untuk menyusui anaknya, ia menoleh melihat anaknya yang enteng-enteng saja sedari tadi di kasur kecilnya.
"Kamu mau jadi kutub hmm melebihi Daddy?" tanya Andrew yang merasa gemes melihat anaknya yang satu itu yang enteng dan diam saja melihat-lihat mereka sedari tadi.
__ADS_1
Aidan hanya mengerjap-erjapkan matanya melihat sang Daddy. Tapi, wajah yang Aidan nampakkan tidak tersenyum sama sekali.
Andrew yang gemes pun langsung mencubit pelan pipi anaknya itu.
Aidan yang dicubit gemes dengan Daddy-nya itu pun langsung menangis kencang.
"Eh eh kok!" Andrew terpekik kaget karena Aidan yang biasanya diam malah tiba-tiba menangis kencang.
"Awww Mama!" Andrew kaget melihat Mamanya yang tiba-tiba menarik kupingnya.
"Ck beraninya kamu membuat cucu Mama menangis ha!!" omel Selani ke anaknya itu.
"Hihihi" terdengar suara tawa pelan. Keduanya langsung menoleh menatap Aidan.
"Wah cucu Oma tumbenan senyum bahkan ketawa gitu" Selani berbinar-binar senang menatap cucunya yang biasanya hanya diam itu tertawa. Selani menarik tangannya dari kuping Andrew lalu mendekat ke cucu laki-lakinya dengan senang.
Sementara Andrew mengernyitkan dahinya melihat anaknya itu tiba-tiba tertawa, ia pun memikirkan kenapa anaknya itu bisa tertawa tiba-tiba.
__ADS_1
Tapi, baru saja Selani ingin menyentuh cucunya yang tengah tertawa itu, cucunya itu langsung menangis lagi.
"Eh cup cup sayang, kenapa hmm kenapa menangis lagi?" tanya Selani bingung. Selani juga sebenarnya kurang tau sebab ia juga dulu tidak sempat untuk merawat anaknya Andrew itu ketika kecil.
Andrew yang mendengar anaknya menangis itu pun mencoba yang smua pikirkan tadi. Andrew mendekat tepat di samping Mamanya.
"Ma coba tarik kuping Andrew" bisik Andrew.
"Ha?" tapi tanpa bertanya lagi, Selani langsung menarik kuping anaknya itu dengan lumayan keras.
"Aww" Andrew merasa sedikit sakit ulah Mamanya, padahal ia kan hanya pengen di tarik pelan saja bukan seperti ini.
Aidan nampak mengerjap-erjapkan matanya lagi lalu ketawa kembali.
"Eh" Selani dan Andrew langsung menoleh kembali mendengar ketawa Aidan.
"Haha sepertinya cucu Oma ini senang yah Daddy nya di tarik telinganya gini." Selani ikut tertawa karena merasa lucu dengan apa yang membuat cucu laki-lakinya dapat tertawa.
__ADS_1
"Huh, jadi kamu mau Daddy di siksa hmm?" tanya Andrew dengan muka di tekuk sedikit.
Aidah hanya tertawa mendengar itu, seolah tak peduli dengan wajah Daddy-nya yang nampak di tekuk.