Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Kejadian


__ADS_3

Setelah melihat dengan serius makanan hitam yang di buat Renald itu, Cika berusaha menahan tawanya.


"Ekhem, baik pemirsa. Ini adalah makanan spesial yang di buat dari hati terdalam Kak Renald untuk adiknya" ujar Cika berusaha menahan tawanya.


"Oh yah, bahan-bahannya dari apa saja tuh Kak?" tanya Cika lagi, setelah berucap menghadap ke kamera.


"Oh ini telur, garam, daun bawang dan penyedap rasa lainnya, pokoknya enak deh" bangga Renald.


"Wah sangat bernutrisi yah. Tapi, sepertinya itu sudah matang sekali Kak" ujar Cika, dengan senyumnya padahal dalam hatinya sudah tertawa melihat masakan Renald.


"Oh iya, ini sudah mau aku angkat" ujar Renald, lalu mengangkat telur itu ke piring.


Yang lain yang melihat sekilas masakan Renald itu pun kaget.


"Setelah ini, kita akan goreng ikan." Renald pun mengambil ikan yang sudah di kasihnya bumbu itu, lalu memasukkannya ke wajan dan byurr.


"Astaga!!" pekik Renald dan Cika kaget.


"Kenapa muncret gitu minyaknya?!!" ujar Renald kaget.


"Ya iya lah Kak, kan ada airnya terus Kakak kasih turun ke minyak yah muncret minyaknya" ujar Cika geleng-geleng kepala dengan wajah cemberutnya, karena dia juga hampir saja kena percikan dari minyak itu.


"Oh sorry, salah teknis" ujar Renald pura-pura hanya ketidaksengajaan tapi dia sebenarnya tau, padahal nyatanya dia sama sekali tidak tau hal itu.


Tuck tuck, suara percikan yang masih terdengar dari wajan.


Renald dan Cika menghindar dari wajan itu. Sementara yang lain geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya waktu yang sudah di tetapkan pun sampai.


"Dalam hitungan ketiga kedua peserta harus berhenti dan mengangkat tangan" ujar Ardian memberikan intruksinya.


"Satu, dua, tiga!! Waktu selesai!" ujar Ardian.


Prok, prok, prok. Tepukan tangan pun kembali terdengar.


Kedua peserta yaitu Andrew dan Renald mengangkat tangannya.


"Mari Kakak ipar dan lainnya mencicipi masakan hasil dari peserta kita!! Tapi, sebelum itu berikan uploas dulu untuk kedua peserta kita!" seru Ardian.

__ADS_1


Prok, prok, prok, prok. Suara tepukan tangan meriah terdengar penuh semangat di halaman belakang itu.


Aidah, serta yang lainnya pun mendekat ke stand milik Andrew terlebih dahulu. Di mulai dari Aidah di lanjut yang lainnya mulai mencicipi masakan yang di buat oleh Andrew.


"Enak" ucap semuanya antusias, setelah mencicipi buatan Andrew.


"Masakan mu memang tidak perlu di ragukan lagi son" puji Paman Nathan mengacungkan jempolnya ke Andrew.


Andrew hanya tersenyum mendengar pujian dari Pamannya itu.


"Benar itu kata Paman, masakan Mas sangat enak" ujar Aidah yang ikut memuji, bukan hanya sekedar pujian kosong tapi Aidah benar-benar merasa masakan suaminya ini sangat enak selevel dengan makanan hotel bintang 5.


"Makasih sayang, dan semuanya" ujar Andrew dengan senyumnya.


Setelah mencicipi dan berbincang dengan Andrew. Aidah dan lainnya pun berjalan ke stand kedua yaitu stand milik Renald. Renald berdiri di stand nya dengan wajah bangganya karena sudah bisa memasak untuk adiknya itu.


Tapi, saat sampai dan melihat masakan Renald membuat mereka semua langsung menelan salivanya mereka kasar.


'Makanan apa ini?? Kenapa hitam semua??" batin mereka heran dan kaget.


"Ini silahkan cicipi pasti enak banget melebihi punya Andrew, khususnya untuk Aidah coba, pasti kamu akan ketagihan dek" ujar Renald membanggakan dirinya sendiri.


Sebelum Aidah mencicipinya, Mama Arina langsung menghentikannya.


"Apa-apaan kamu ini makanan apaan ini ha gosong semua, kamu suruh adik kamu mencicipinya! Padahal adik kamu lagi hamil juga!!" kesal Mama Arina saat melihat warna makanan itu, yang sudah jelas makanan itu gosong. Arina itu pun mendekati anaknya Renald dan langsung menarik telinga anaknya itu kesal.


"Awww Ma, malu Ma!" ujar Renald yang merasa malu karena di tarik telinganya di depan orang banyak.


"Huh biarin, makanya kalau tidak bisa masak jangan sok nantangin menantu Mama memasak!!"


"Huh, masa Mama lebih belain menantu Mama daripada Renald anak kandung Mama!" ujar Renald sedikit kesal. "Lagian bukan Renald yang nantangin yah, tapi Andrew tuh yang nantangin. Dan masakan Renald juga enak itu pasti" lanjut Renald kesal karena di salahkan.


"Walaupun Andrew yang nantangin, yah kamu tetap salah kenapa tetap terima padahal nggak bisa masak. Kamu yakin, masakan kamu enak hmm?" tanya Mama Arina, sembari melepaskan tangannya dari kuping anaknya.


Renald sedikit kesal karena tetap di salahkan dengan Mamanya itu. "Yakin dong" ujar Renald bangga, walaupun masih sedikit kesal dengan Mamanya yang lebih membela Andrew daripada dirinya.


Mama Arina itupun mengambil makanan di meja yaitu masakan anaknya Renald, lalu tanpa babibu memasukkan ke dalam mulut anaknya.


"Coba, bagaimana enak tidak?" tanya Mama Arina menatap sinis anaknya.

__ADS_1


Baru saja makanan itu masuk ke dalam mulut Renald, Renald langsung mengeluarkannya kembali.


"Hoek, kenapa rasanya begitu" ujar Renald dengan wajah masamnya, dan buru-buru mengambil minuman saking tidak enaknya di lidahnya masakan yang di buatnya itu.


"Kenapa, enak??" tanya Mama Arina sekali lagi dengan wajah garangnya.


Renald hanya bisa menggeleng lemah menjawab pertanyaan Mamanya itu.


Yang lain hanya diam menyimak apa yang di bicarakan Arina dan Renald.


"Umumkan saja Ardian!!" ujar Mama Arina ke Ardian yang sedari tadi hanya bengong menatap keduanya.


"Eh, baik Tan" Ardian mengangguk paham.


"Ekhem, baiklah lomba kali ini di menangkan oleh... tentu dengan Andrew Carlos Lewis. Berikan tepuk tangannya" seru Ardian dengan micnya.


Prok, prok, prok. Suara tepukan tangan begitu menggema antusias di halaman belakang itu mendengar Andrew lah yang menang.


"Apa hadiahnya?" tanya Andrew tiba-tiba setelah tepukan tangan itu terhenti.


"Eh" Semuanya menatap Andrew yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Mereka menatap heran, bukankah Andrew sendiri yang buat acara ini, kenapa malah minta hadiah. Kecuali satu orang yaitu Renald.


"Ck, aku akan tepati yang aku katakan kepada kamu" ujar Renald sinis.


"Itu beda, aku mau hadiah dari istriku. Ini kan lomba, dan aku pemenangnya bukankah seharusnya ada hadiah lain?" tanya Andrew menatap Aidah.


"Tenang Kak, bukannya hati dan raga Kakak ipar sudah menjadi milik Kakak itu kan hadiah terbaik" goda Ardian.


Semuanya selain Aidah terkekeh mendengar ucapan Ardian, beda halnya dengan Aidah yang bersemu merah.


*****


Setelah semua acara tadi selesai, mereka makan siang dan istirahat. Dan saat ini setelah istirahat Andrew dan Aidah memutuskan untuk pergi ke Mansion milik keluarga Carend tempat di mana Aidah tinggal berpuluh-puluh tahun di Mansion itu, sesuai permintaan dari isi surat yang ternyata dari Mama Bella.


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil, melaju ke arah Mansion keluarga Carend. Tapi, tiba-tiba ada kejadian tak terduga yang terjadi.


"Mas hati-hati!!" teriak Aidah cemas.


Andrew berusaha untuk tetap stabil.

__ADS_1


Brukk.


__ADS_2