Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Ke Tempat Target


__ADS_3

Keesokan harinya. Di sebuah kamar yang nampak mewah dan elegan.


Aidah baru saja membuka matanya dan menoleh kesampingnya melihat suaminya. Tapi, Andrew sudah tidak ada di sampingnya hal itu membuat Aidah mengernyitkan dahinya.


Aidah pun langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya itu dengan cemas karena ia pikir ia yang terlambat bangun. Tapi, saat melihat jam dinding ternyata masih menampakkan jam setengah enam subuh.


"Tumben jam segini Mas sudah nggak ada di kasur? Apa di kamar mandi yah?" gumam Aidah dengan herannya. Karena biasanya ia akan bangun lebih dulu ataupun kalau suaminya yang bangun lebih dulu suaminya itu pasti akan membangunkannya untuk melaksanakan sholat subuh bersama.


Tok tok tok.


"Maaf Nyonya menganggu, apa Nyonya sudah bangun?" tanya seorang wanita paruh baya yang menjadi pelayan di Mansion Andrew itu.


Aidah mengernyitkan dahinya karena menurutnya tumben pelayan datang ke kamarnya subuh-subuh begini. Aidah pun bangun depan perlahan karena perutnya yang sudah sangat besar sedikit susah untuk bergerak.


Ceklek.


"Bibi tumben subuh-subuh begini datang ke kamar Aidah, ada apa Bi?" tanya Aidah dengan wajah herannya dan sopan.


"Maaf Nyonya mengganggu waktunya, tapi Tuan sebelum pergi tadi menyuruh saya untuk membangunkan Nyonya" jawab Bibi itu dengan hormat.


"Ha? Mas Andrew udah pergi Bi? Kapan?" tanya Aidah kaget.


"Baru dua puluh menit yang lalu Nyonya" jawab Bibi pelayan itu lagi.


"Apa Mas Andrew bilang ke Bibi mau kemana?" tanya Aidah karena menurutnya suaminya terlalu cepat jika ingin berangkat ke kantor jam segini, karena setau dia sebab pernah bekerja juga menjadi sekretaris suaminya itu jam kantor setengah delapan tapi ini masih terlalu subuh untuk ke kantor.


Bibi pelayan itu menggeleng, "Saya kurang tau Nyonya, Tuan hanya menyuruh Bibi untuk membangunkan Nyonya dan membantu Nyonya jika ada yang Nyonya perlukan" jawab Bibi pelana itu.


Aidah menghela nafas sejenak mendengar jawaban dari Bibi pelayan itu, Aidah akan hubungi saja bentar suaminya itu yang tiba-tiba pergi terlalu cepat.


"Baiklah, terimakasih yah Bi udah bangunin Aidah. Tapi, Bibi bisa mengerjakan yang lain saja, Aidah bisa untuk melakukannya sendiri sekali lagi terimakasih Bi" ucap Aidah dengan senyum ramahnya.


"Baik Nya, kalau ada apa-apa Nyonya bisa panggil saya" ujar Bibi.


"Iya, Bi siap makasih yah Bi" ucap Aidah sekali lagi mengulang ucapan terimakasihnya.

__ADS_1


"Iya Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu Nyonya" ujar Bibi pelayan itu, lalu sedikit membungkuk hormat dan pergi dari kamar Aidah.


Aidah mengangguk mendengar ucapan pamit dari Bibi pelayan itu, setelah melihat pelayan itu sudah pergi Aidah pun masuk ke dalam kamarnya kembali memutuskan untuk melaksanakan kewajibannya dulu.


Sementara itu di sisi lain. Nampak seorang pria siapa lagi kalau bukan Andrew yang baru saja sampai di dekat hutan tempat dimana di sana dulunya dilaksanakan banyak kejahatan seperti mencuri banyak orang yang tak bersalah dan menjadikannya budak serta melakukan kejahatan-kejahatan yang di langgar lainnya.


"Bagaimana, dia masih ada di tempat itu kan?!" tanya Andrew ke orang yang di sampingnya.


"Iya, Tuan Andrew dia masih ada di tempat yang saya katakan kemarin" jawab seseorang yang berada di samping Andrew itu.


"Bagus Kelvin. Kalau begitu persiapkan semuanya!" perintah Andrew ke tangan kanannya Endra.


Sementara itu Kelvin tetap terus memantau pria yang menjadi incaran mereka itu agar tidak kabur. Yah, semalam setelah berbincang itu Kelvin langsung memutuskan untuk ke Indonesia malam itu juga dengan menaiki helikopter pribadi milik Nathan.


"Andrew!!" ucap Renald kaget saat melihat ada Andrew di tempat itu.


Andrew beserta yang lainnya pun ikut menoleh ke belakang dimana Renald dan para anak buahnya berada.


Andrew sedikit membelalakkan matanya melihat Renald ada juga di tempat ini.


"Aku mau selamatan adik aku dia di sekap sama si tua bangka yang sudah kita cari-cari selama beberapa bulan itu!!" jawab Renald dengan kepalan tangan marahnya. "Terus kamu? Oh atau kamu tau memang dimana keberadaan si tua bangka itu makanya kesini?!" tanya Renald yang ikutan kaget.


"Hmm aku juga baru tau tadi malam, makanya langsung bergegas kesini!" jawab Andrew. "Eh, tapi tunggu maksud kamu adik kamu itu Risya saudari kembar Aidah?!" tanya Andrew dengan wajah kagetnya.


"Iya benar sekali, si tua bangka itu benar-benar cari masalah. Walaupun aku kurang suka sama sifat adikku yang satu itu, tapi bagaimana pun dia adikku aku harus menyelamatkan dia sekalian juga untuk basmi si tua bangka itu supaya tidak mengganggu keluarga kita lagi!!" ujar Renald dengan tatapan tajam serta kepalan tangannya menahan emosi dengan si tua bangka yang dikatakannya itu yaitu Maxim.


'Sepertinya Tuan Renald tidak tau masalah adiknya itu, heh menarik' batin Kelvin dengan senyum smirknya.


"Kenapa kamu senyum gitu?!" bisik Endra saat melihat senyum smirk Kelvin.


"Dih, kepo" balas Kelvin dengan wajah datarnya.


"Ekhem, Tuan sebaiknya kita ke tempatnya sekarang kalau Tuan-Tuan masih berdebat disini bisa-bisa dia kabur lagi ke tempat lain dan akan susah untuk kita temukan lagi!" ujar Kelvin mengingatkan.


Andrew dan Renald pun sama-sama mengangguk paham dengan apa yang di ucapkan Kelvin itu. Karena jika si tua bangka itu berhasil kabur lagi maka pastinya mereka akan butuh waktu yang mungkin lebih lama lagi untuk menemukan keberadaannya.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo!!" aja Andrew.


Mereka pun berangkat dengan berjalan kaki menuju ke tempat dimana persembunyian Maxim selama ini.


******


Di sisi lainnya, seorang pria paruh baya nampak tengah masih terlelap nyenyak di kasur empuknya. Tapi, langsung terganggu dengan suara handphone yang berbunyi di dekatnya.


Drrtt drrtt, suara handphone.


"Siapa menelfon subuh-subuh gini, tidak tau apa saya masih ngantuk habis melaksanakan kewajiban hoam" ujar pria paruh baya itu dengan sedikit kesal karena saat baru tidur kembali handphone miliknya malah berbunyi.


Pria paruh baya itu pun terpaksa membuka matanya dan melihat dengan mata sayunya siapa yang menelfonnya.


"Halo hoam" ujar pria paruh baya itu dengan mata sayunya.


"Ma..maaf King A, karena saya harus mengganggu waktu istirahat King" ujar pria lainnya diseberang sana dengan sedikit takut karena mengganggu waktu istirahat King nya.


Yah, pria paruh baya itu adalah Kakek Arsen.


"Ada apa?! Tidak mungkin kan kamu telfon saya untuk mengatakan hal yang tidak penting?!" tanya Kakek Arsen.


"Hmm benar kata King, saya ingin melaporkan bahwa Tuan Andrew, dan Tuan Renald ada di di tempat target King A" lapor pria di sebrang telfon itu ke Kakek Arsen.


"Oh, Apa!" Kakek Arsen tiba-tiba membuka matanya lebar saat mendengar ucapan orang kepercayaannya itu.


"Iya King, jadi apa kita harus ikut turun tangan membantu Tuan Muda?" tanya pria di sebrang telfon itu lagi.


"Lihat saja terlebih dahulu, jika mereka terdesak baru kalian bisa ikut turun tangan!!" tegas Kakek Arsen.


"Baik, King."


Panggilan itu pun terputus.


"Hoam astaga kenapa tambah tua tambah sering ngantuk dan pegal-pegal gini!" ujar Kakek Arsen sembari memijat pelan bahunya lalu tidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2