
Di sebuah taman yang berada di Mansion Renald. Nampak seorang pria tengah berbicara serius dengan dua orang yang usianya sudah tidak muda lagi.
Pria itu adalah Ardian, ia menatap kedua orang paruh baya di depannya dengan serius walaupun ia juga nampak gugup.
"Jadi, apa yang nak Ardian ingin bicarakan dengan kami?" tanya pria paruh baya yang berada tepat di depan Ardian.
Ardian menghela nafasnya sesaat lalu berkata, "Saya ingin melamar anak Paman" ujar Ardian dengan perasaan gugupnya takut jika ia langsung di tolak mentah-mentah.
Pria paruh baya serta wanita paruh baya yang ada di depan Ardian itu langsung saling menatap lalu tersenyum mendengar ucapan Ardian itu.
Pria paruh baya yang ternyata adalah ayah dari Lita itu pun menatap Ardian kembali dengan senyum mereka.
"Lita sudah menceritakan masalah ini dengan kami, kalau masalah ini kami serahkan saja ke Lita bagaimana. Dan kalau nak Ardian juga tidak keberatan kan nak Ardian tau kami hanya orang yah bagaimana tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga nak Ardian" ujar Ayah Lita dengan helaan nafasnya.
Ardian langsung menggelengkan kepalanya mendengar hal itu.
__ADS_1
"Tidak Paman, Paman jangan berkata seperti itu bukankah di hadapan-nya kita semua sama kan? Hanya amal ibadah juga yang akan kita bawa jika meninggal, jadi untuk apa di pikirkan masalah itu. Lagi pun saya sudah cukup ada rezeki tidak membutuhkan istri saya untuk sebagai tempat menambah uang lagi" ujar Ardian dengan sedikit gurauannya.
"Haha kamu bisa saja nak" tawa gurih Ayah Lita mendengar ucapan Ardian.
Ardian tersenyum melihat itu. "Jadi, bagaimana Paman?" tanya Ardian lagi dengan senyum manisnya berharap jika lamarannya diterima maka ia juga akan segera melamar Lita bersama dengan orang tuanya yaitu Rafael dan Nita.
Ayah Lita itu pun menoleh ke anaknya yang sedari tadi hanya diam saja mendengar ucapan Ardian.
"Bagaimana nak, apa kamu setuju dengan lamarannya nak Ardian? Ayah tidak memaksa apapun, Ayah terserah kamu saja apapun keputusan kamu Ayah dan Ibu pasti mendukung" ujar Ayah Lita itu dengan senyum tulusnya ke anaknya.
"Mm baiklah" jawab Lita pelan dengan anggukan serta wajahnya yang nampak memerah bak kepiting rebus.
Mendengar jawaban dan anggukan Lita yang sudah di tunggu-tunggu nya pun, mata Ardian langsung berbinar mendengar hal itu. Jantungnya rasanya berdetak sangat kencang saat ini dan ia pun sangat merasa senang.
"Ekhem, baiklah terimakasih atas jawabannya" wajah Ardian nampak berseri-seri mendengar kabar bahagia itu. "Kalau begitu saya akan secepatnya dengan orang tua saya datang ke rumah Paman dan Tante untuk melamar Lita secara resmi" ujar Ardian lagi dengan wajah senangnya sembari melirik-lirik Lita yang nampak menunduk malu.
__ADS_1
*****
Malam hari, di balkon sebuah kamar yang ada di Mansion Wikram itu. Seorang wanita nampak tengah merentangkan tangannya menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa sejuk di balkon itu. Angin malam yang terasa adem menurutnya.
Tiba-tiba sebuah tangan terasa melingkar di perut rampingnya begitupun dagu agak runcing yang terasa menusuk pundaknya.
"Kenapa di luar hmm?" tanya seorang pria yang baru saja memeluk istrinya itu, yang ternyata adalah Andrew.
"Hanya menikmati angin segar malam hari Daddy" jawab Aidah dengan matanya nampak tertutup dan dengan kondisi yang masih sama.
Andrew menempelkan pipinya dengan pipi istrinya lalu nampak berbisik, "Besok ikut Daddy yah ke suatu tempat?" ajak Andrew dengan berbisik pelan di samping wajah istrinya.
Aidah mengangguk, "Baiklah."
"Ya sudah ayo masuk nanti kamu masuk angin lagi Mom" ajak Andrew lagi.
__ADS_1
Aidah mengangguk patuh lalu berbalik menatap suaminya dengan senyum senang, melihat wajah suaminya yang selalu ada untuknya nampak lebih tampan dengan cahaya bulan yang nampak memantul di wajah suaminya itu.