
Dua hari kemudian. Sesuai perkataan Andrew sebelumnya bahwa saat hari Minggu, Andrew akan membawa istrinya yaitu Aidah ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungannya.
"Sudah siap kan sayang?" tanya Andrew saat melihat istrinya keluar dari ruang pakaian.
"Sudah Mas, ayo kita berangkat sekarang" ajak Aidah.
"Iya, kamu bisa kan jalannya apa perlu aku gendong?" tanya Andrew.
"Ihh Mas jangan bercanda deh bisa-bisa kita jatuh kalau Mas gendong Aidah dengan perut segede gini!" Aidah menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari suaminya itu, yah walaupun Aidah bersyukur karena suaminya perhatian.
"Hehe iya sih, kalau gitu apa perlu Mas suruh untuk mengambil kursi roda di gudang?" tanya Andrew lagi karena merasa kasihan melihat istrinya harus jalan dengan perut sebesar itu.
Di Mansion itu sudah ada kursi roda yang dari awal Andrew siapkan untuk istrinya, tapi ternyata Aidah tidak ingin memakai itu karena katanya lebih baik untuk ibu hamil apalagi kalau sudah hampir lahiran untuk jalan-jalan daripada duduk terus.
Aidah menggelengkan kepalanya, "Nggak usah Mas nggak perlu, Aidah bisa kok jalannya. Mas bantu pegangin Aidah aja" ucap Aidah menolak halus permintaan suaminya.
"Hah baiklah kalau itu yang kamu inginkan sayang."
Andrew pun membantu memegang istrinya untuk jalan keluar kamar. Kamar mereka ada di lantai satu yah semenjak perut Aidah sudah membesar.
Saat sampai di ruang keluarga, Andrew dan Aidah bertemu dengan keluarga Andrew. Orang tua dari Aidah sudah pulang ke Mansion mereka lagi.
"Kalian sudah mau ke rumah sakit yah?" tanya Selani.
"Iya, Ma" jawab Andrew.
"Apa perlu kami ikut juga?" tanya Tante Ana.
"Tidak perlu Tan, nanti kami beritahu ke kalian semua saja bagaimana hasilnya" jawab Andrew dengan gelengan kepalanya. Karena Andrew tak ingin jika keluarganya semua ikut pasti akan heboh ia tidak bisa merasa haru hanya berdua dengan istrinya, karena kalau keluarganya itu ikut otomatis pasti jika ada kabar yang dikatakan dokter pasti orang tuanya duluan yang heboh ke istrinya, ia pasti tidak akan diberikan kesempatan untuk haru-haruan berdua dengan istrinya.
"Baiklah, nak. Nanti kalau pulang kalian wajib loh memberitahu kami apa kata Dokter!" ucap Tante Ana.
__ADS_1
"Iya Tan, tentu. Kalau begitu kami berangkat dulu Ma, Tan dan semuanya. Assalamualaikum" ucap Andrew.
"Saya pamit dulu yah Ma, Tan, dan Paman. Assalamualaikum" ujar Aidah.
"Iya sayang/nak, hati-hati. Waalaikumsalam" ucap semuanya serempak.
Di Mansion tidak ada Cika karena pergi kuliah, Ardian pergi ke rumah sakit tempat dirawatnya orang tua Lita, Kakek Arsen ada urusan entah itu rahasia misterius, dan Renald sedang berada di Markasnya.
Andrew dan Aidah pun pergi dari Mansion.
Di perjalanan, Aidah bersandar kepada suaminya.
"Mas kok Aidah deg-degan gini yah hehe apa mungkin karena anak pertama yah jadi gini perasaannya" ujar Aidah dengan perasaan deg-degannya karena akan melihat anaknya nanti di USG sudah sebesar apa.
"Bukan hanya kamu sayang, Mas juga deg-degan tau, nih rasakan." Andrew mengangkat sedikit kepala istrinya agar tepat di dada bidangnya.
Dan benar saja ternyata suaminya juga deg-degan karena ini pengalaman pertama mereka untuk mendapatkan buah hati.
"Haha ternyata kita sama Mas" cetus Aidah dengan tawanya karena ternyata bukan hanya dia yang deg-degan disini.
Dug
"Mas, anak kita menendang" ujar Aidah dengan girangnya.
"Wah, baby-babynya Daddy sepertinya ikut deg-degan yah" ucap Andrew dengan girangnya juga tak dapat tersembunyi. Ia dengan cepat menyentuh perut istrinya itu.
"Iya Mas pftt sepertinya baby-baby kita ikut deg-degan karena orang tuanya deg-degan juga" ujar Aidah dengan senyum gembiranya.
"Sabar yah baby-babynya Daddy, bentar lagi kalian akan diperiksa. Jadi jangan Mommy yah cup." Andrew mengecup perut istrinya itu.
Tak terasa beberapa menit berlalu, mereka berdua akhirnya sampai di rumah sakit milik Andrew, bukan milik keluarga Lewis melainkan milik Andrew pribadi. Andrew juga menggratiskan untuk orang-orang miskin di rumah sakit miliknya ini.
__ADS_1
Saat sampai Andrew langsung di sambut oleh pimpinan rumah sakit, dan juga dokter-dokter kandungan terbaik yang ada di rumah sakit itu. Aidah pun di bawah ke lantai teratas, lantai khusus untuk keluarga Lewis yang Andrew memang sediakan dari awal, dan di lantai atas itu juga sudah sangat lengkap.
Di rumah sakit milik Andrew ini juga, banyak barang-barangnya yang sudah canggih yang di bellinya dari luar negeri. Dan itu semua bebas tidak ada kata orang miskin yang digratiskan itu mendapatkan alat yang kurang memadai, tidak ada tapi semuanya rata baik orang yang berada maupun tidak berada.
Saat sampai di dalam ruangan dokter kandungan terbaik itu pun mempersilahkan untuk Aidah berbaring di atas kasur rumah sakit.
"Nyonya tidak pernah merasakan sesuatu yang mengganjal atau apa?" tanya dokter itu ke Aidah.
"Alhamdulillah tidak dok, saya rasa semuanya baik-baik saja" jawab Aidah dengan mantap.
Dokter itu pun mengangguk paham.
"Baiklah, mohon izin yah Nyonya."
Saat sudah melihat anggukan dari Aidah. Dokter itu pun mengangkat sedikit baju Aidah. Dokter itu tentunya wanita yah, karena Andrew pasti tidak mengizinkan istrinya disentuh oleh laki-laki lain.
Dokter itu pun mengoleskan seperti jel di atas perut Aidah, sembari melihat monitor USG yang nantinya disana muncul calon anak-anak Andrew dan Aidah.
Dokter itu pun tersenyum saat melihat wujud calon anak Andrew dan Aidah sudah muncul di layar.
Andrew ikut menatap intens layar di depannya itu, sembari menggenggam tangan istrinya. Aidah juga melihat intens layar itu.
"Selamat kepada Tuan Andrew dan Aidah karena anak kalian kembar dan semuanya sehat" ujar Dokter itu dengan senyumnya kepada pasangan di depannya ini.
Andrew menatap haru layar itu lalu menatap istrinya, begitupun yang dilakukan oleh Aidah. Mereka berdua saling menatap haru.
Andrew pun langsung memeluk istrinya itu dengan mata berkaca-kacanya terharu melihat anak mereka, apalagi firasatnya memang benar bahwa anaknya itu kembar.
"Hiks hiks anak kita kembar Mas hiks" ujar Aidah dengan tangis bahagianya sembari membalas pelukan suaminya itu.
"Iya sayang, kita sebentar lagi akan jadi orang tua dari anak kembar" jawab Andrew haru dengan mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan senang dan harunya.
__ADS_1
Saat mengetahui itu juga Andrew berjanji akan mengajari anaknya dengan lebih baik lagi, agar apa yang terjadi dengan Mamanya tidak terjadi dengan anaknya kelak.
Saat sudah haru di rumah sakit dan mendengarkan saran dari dokter, akhirnya keduanya pulang. Di dalam mobil mereka masih saja berpelukan dengan saling menyentuh perut Aidah dengan harunya mengetahui sesuatu yang mengejutkan itu. Mereka juga sudah tidak sabar memberitahukan itu kepada keluarga mereka, karena semuanya pasti terkejut, haru dan senang.