
Di sebuah Perusahaan, tepatnya di dalam ruangan. Seorang wanita sedang memeluk suaminya mesra. Pasangan itu menyempatkan untuk manja-manjaan dulu, sebelum pulang dan nantinya harus berakting lagi.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama, mereka pun memilih untuk pulang ke Mansion. Saat mereka masuk ke Mansion, keduanya mengernyitkan dahinya karena tidak melihat keluarganya yang lain. Bahkan di Lita itu pun tidak nampak batang hidungnya, membuat keduanya merasa heran kemana perginya semuanya.
"Bi, di mana semua orang kenapa sepi banget kelihatannya?" tanya Aidah heran.
"Nyonya dan Tuan serta Tuan besar semuanya sedang keluar katanya mau ke pesta temannya, kalau Nona Cika belum pulang Nona, sedangkan Tuan Ardian tadi sepertinya dia sudah pulang mungkin ada di kamarnya" jawab pelayan itu menjelaskan panjang lebar.
Aidah mengangguk paham, "Oh baiklah, tapi Lita dimana Bi??" tanya Aidah lagi karena tak melihat keberadaannya.
"Eh, Lita sepertinya di suruh menghadap ke Tuan Ardian tadi tapi saya juga kurang tau kenapa sampai sekarang belum selesai Nyonya" ujar Bibi pelayan itu.
"Oh baiklah, makasih yah Bi. Bibi bisa kembali mengerjakan pekerjaan Bibi" ucap Aidah sopan.
"Baiklah Nyonya, saya permisi" Bibi pelayan itu pun pergi kembali mengerjakan tugasnya.
"Huh dasar anak itu yah berani sekali dia berduaan di dalam kamar dengan perempuan!!!" ujar Andrew geram.
"Mas tenang dulu, sebaiknya kita ke kamar Ardian saja" ajak Aidah.
Andrew mengangguk setuju. Andrew dan Aidah pun pergi ke kamar Ardian. Saat sampai bukannya membuka dengan pelan, tapi Andrew langsung membukanya dengan kasar.
"Ardian!!!" panggil Andrew dengan nada kesalnya, sembari membuka dengan kasar pintu kamar Ardian.
Dan bung, Andrew terdiam saat melihat ternyata Ardian tidak ada di dalam kamarnya.
Aidah geleng-geleng melihat tingkah suaminya, "Makanya jangan marah-marah dulu Mas, cari tau kebenarannya dulu baru marah" sindir Aidah.
"Hehe maaf sayang khilaf" ujar Andrew merasa malu sendiri karena tingkahnya.
Aidah hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya.
"Huh tapi untung saja dia tidak ada di sini, coba kalau sampai dia berani, akan ku beritahu Paman supaya memberikannya hukuman yang lebih kejam lagi agar dia kapok" gumam Andrew.
Aidah berjalan ke arah jendela di kamar itu, karena mendengar sesuatu sepertinya dari arah taman belakang yang tepat kelihatan dari kaca kamar itu. Aidah pun memegang gorden kamar hendak membuka gorden, tapi langsung di hentikan oleh pertanyaan suaminya.
"Kamu mau ngapain sayang?" tanya Andrew saat melihat istirnya berada di depan jendela, sembari menghampiri istrinya itu.
"Aidah dengar suara bicara seseorang Mas dari bawah di taman belakang" ujar Aidah, lalu Aidah pun membuka gorden itu.
Keduanya sedikit kaget karena ternyata Ardian berada di bawah tepatnya di taman belakang dengan Lita.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Aidah heran, karena melihat Lita seperti menanam sesuatu di tanah itu.
"Kalau kamu penasaran, bagaimana kalau kita ke taman belakang saja?" ajak Andrew ke istrinya.
"Baiklah, tapi ingat Mas kita masih akting!!" ujar Aidah mengingatkan.
Andrew mengangguk paham akan hal itu. Keduanya pun memutuskan ke taman belakang.
__ADS_1
Taman Belakang.
"Sayang tunggu dulu, tolong maafin Mas dong" bujuk Andrew sembari mengejar Aidah yang berjalan ke arah Ardian yang duduk santai di kursi yang ada di taman belakang itu.
"Huh, nggak minat!" ketus Aidah, lalu duduk di bangku samping Ardian.
Ardian dan Lita menatap keduanya dengan heran karena datang-datang sudah bertengkar saja.
"Ardian akting!" bisik Aidah mengingatkan saat sudah duduk di samping Ardian.
Ardian mengangguk paham sekarang.
"Kakak ngapain Kakak ipar lagi sih?!" tanya Ardian ketus ke Andrew.
Andrew menatap tajam dengan keberanian Ardian berbicara ketus kepadanya.
"Ck, ini urusanku dengan Kakak ipar mu. Sebaliknya kamu, kenapa sudah pulang sedari tadi ha!! Bukannya Paman sudah menyuruh kamu untuk mengelola Perusahaan!!" ucap Andrew mengintimidasi.
Glek, Ardian menelan salivanya kasar saat mendengar ucapan Kakak sepupunya itu. Nyali yang awalnya besar itu langsung menciut.
"Itu Kak, kan sudah ada orang-orang kepercayaan Papa, pasti mereka bisa menghandle semuanya dengan baik jadi tidak perlu Ardian untuk di Perusahaan terus" elak Ardian memberi alasan untuk membela dirinya.
"Ck, kamu kira tanpa pemimpin mereka bisa melakukan segalanya ha, kalau ia untuk apa adanya pemimpin di Perusahaan!! Ini Perusahaan juga sudah menjadi tanggung jawab kamu Ardian sebagai pewarisnya kamu harus bisa belajar menjadi orang yang lebih bertanggung jawab!!" tegas Andrew.
"Hah, iya Kak. Lain kali nggak lagi deh" jawab Ardian pasrah.
"Itu Kakak ipar, daripada dia diam aja di dapur mending suruh dia menanam bunga kesukaan Kakak ipar kan yaitu bunga Tulip" ujar Ardian dengan senyum bangganya.
"Hah? Dari mana kamu tau bunga kesukaan Kakak?" tanya Aidah heran.
"Tuh dari Kak Andrew katanya Kakak ipar suka bunga Tulip, sekalian kan Ardian berikan ini sebagai hadiah untuk Kakak ipar" ujar Ardian. "Gimana Kak, suka nggak?" tanya Ardian dengan bangganya.
Aidah tersenyum senang dengan tingkah adik sepupu suaminya itu.
"Suka sih, tapi yah masih lama dong tinggi nya kan masih biji sekarang" ujar Aidah dengan pura-pura kecewa.
"Eh, Kakak ipar tenang aja, Ardian akan suruh orang rawat dengan baik supaya bunganya tumbuh cepat" ucap Ardian buru-buru karena merasa Kakak iparnya itu kecewa dengan hadiahnya.
Lita yang sedang menanam bibit itu mendengar ucapan Ardian langsung terdiam.
'Te...ternyata bunga ini untuk Nyonya, ke..kenapa semuanya sayang dengan Nyonya tapi tidak ada yang sayang sama Lita!!!' batin Lita jengkel dengan perasaan sedihnya.
Aidah terkekeh mendengar ucapan Ardian itu, "Aku cuman bercanda kok Ardian, kamu serius banget. Aku sangat senang malahan kamu baik gini, makasih yah" ujar Aidah dengan senyum senangnya.
"Ekhem, kalian tidak lihat perasaan aku apa. Kamu lagi bocah beraninya perhatian sama istriku, seharusnya aku yang bangun taman bunga ini!!" ujar Andrew yang sedikit jengkel.
"Kakak sih, makanya jangan dingin-dingin dan galak mulu jadi orang, makanya sekarang nggak romantis kan, kasihan Kakak ipar harus menikah dengan pria dingin seperti Kakak" ledek Ardian.
"Ck, kamu tanya saja Kakak ipar kamu itu betapa romantisnya Kakak" ketus Andrew merasa kesal dengan ledekan adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Benar Kakak ipar, Kakak yang sedingin kutub ini bisa romantis juga?" tanya Ardian merasa tak percaya.
Aidah terkekeh kecil, "Tentu dong, kan Kakak ipar udah cairkan esnya" cetus Aidah bercanda.
'Apa! Mereka udah baikan?!' batin Lita setelah mencuri-curi dengar dengan wajah kagetnya.
"Hahaha benar juga kata Kakak ipar" tawa Ardian menggema mendengar ucapan Aidah.
Aidah melihat sekilas wajah kaget Lita itu, Aidah hampir lupa jika mereka masih harus tetap akting bertengkar.
"Tapi, sekarang aku berfikir coba saja bisa kembali ke masa lalu aku ogah mau cairin esnya" ketus Aidah mengucapkannya dengan suara agak besar, serta menatap sinis suaminya. Aidah memberi kode kepada suaminya itu.
Andrew paham, "Sayang, kan Mas udah bilang malam itu hanya kesalahpahaman, Lita juga sudah bilangkan sama kamu udah jelasin itu hanya kesalahpahaman doang" ujar Andrew dengan seperti berusaha membujuk istrinya lagi.
"Huh, mana ada maling ngaku kalau dirinya maling" ketus Aidah lagi.
'Jadi, mereka belum baikan?!' batin Lita merasa sedikit lega mengetahui itu.
"Hah kasihan sekali Kakak ipar digiin sama Kakak, yang sabar yah Kakak ipar, Kakak memang gitu nggak peka an orangnya nyebelin, jadi Kakak ipar yang sabar yah" ujar Ardian pura-pura prihatin dengan Kakak iparnya.
"Cih, yang lebih kasihan itu pasangan kamu nanti. Kalau sampai dia tau kalau suaminya itu playboy. Lagian itu malam juga hanya kesalahpahaman" ketus Andrew.
"Lah kalau udah dapat yang cocok mah jadi mantan playboy kak bukan playboy lagi. Kesalahpahaman ada karena adanya suatu kejadian yang membuat kesalahpahaman itu ada, jadi Kakak tetap salah lah" jawab Ardian enteng.
"Tapi sekarang?" tanya Aidah dengan menaikkan satu alisnya. "Nah benar kata kamu Ardian Kakak kamu itu memang salah!!" ketus Aidah.
"Kan belum ada yang cocok yah nanti aja jadi mantan playboy nya" ujar Ardian dengan tawanya. "Benar banget Kakak ipar, sebaiknya Kak Andrew ngalah aja deh kan dimana-mana itu yah perempuan selalu benar Kak" ledek Ardian dengan gelak tawanya.
Aidah langsung menggeleng mendengar ucapan Ardian.
"Ck, tunggu saja nanti kalau kamu punya pasangan huh" ketus Andrew.
"Udah banyak kali pasangannya Ardian."
"Maksudnya pasangan istri bukan para perempuan nggak jelas statusnya dengan kamu di luar sana!!" ketus Andrew lagi.
"Lihat saja nanti" ujar Ardian mengedikkan bahunya tak peduli, karena menurutnya dia tidak mungkin akan bertekuk lutut dengan wanita kelak.
"Huh, sudahlah aku capek. Mau ke kamar dulu, dan Mas awas aja masuk ke kamar!!" ancam Aidah dengan suara ketusnya, lalu pergi dari tempat itu.
Andrew pun langsung mengikuti istrinya dengan cepat.
Sebelum masuk kamar, Andrew melihat-lihat dulu situasinya lalu masuk ke kamar. Dan ternyata saat membuka kamar Aidah sudah merentangkan tangannya dan menatap manja suaminya.
Andrew langsung masuk ke dalam dengan senyumnya, lalu memeluk istrinya itu.
"Siapa tadi yang ngancem bilang awas saja masuk ke kamar, eh ternyata malah gini" kekeh Andrew dengan memeluk istrinya itu.
"Ishh Mas jangan goda Aidah deh!" ujar Aidah cemberut serta sedikit malu mendengar itu.
__ADS_1