Ternyata Dia Milyader!

Ternyata Dia Milyader!
Bijak


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, saat ini Andrew beserta yang lainnya tengah berada di ruangan Andrew yang berada ada di Mansion utama.


Semuanya nampak tegang dan wajah mereka semuanya pun nampak serius.


"Bagaimana dengan alat itu, apakah sudah bisa di pakai Andrew?" tanya Kakek Arsen memecah keheningan dan ketegangan yang ada di dalam ruangan itu.


Andrew mengangguk menjawab pertanyaan dari Kakeknya, sembari mengeluarkan sebuah kotak yang berisi alat yang Andrew sudah rancang sebelumnya dan meletakkan alat itu di meja di depan semuanya tengah duduk melingkari meja tersebut.


"Ini alatnya Kek" ujar Andrew, setelah menaruh kotak yang berisikan alat yang sudah di rancangnya di atas meja.


"Apa alat yang ada di dalam kotak ini beneran efisien?!" tanya Renald yang masih sedikit ragu dengan rancangan yang telah di buat Andrew.


"Astaga, kamu tidak usah meragukan lagi jika itu rancangan milik Kak Andrew sudah pasti tentu alat itu sangat bermanfaat dan sangat bagus terpercaya untuk di gunakan" bukannya Andrew yang menjawab, melainkan Ardian yang langsung menjawab pertanyaan dari Renald dengan semangatnya.


"Benar itu Renald, rancangan Andrew sudah pasti bagus karena ini bukan pertama kalinya Andrew merancang ini semua" ujar Kakek Arsen menyetujui perkataan Ardian yang memuji Andrew.


"Dari mana Kakek tau itukan rahasia, bukankah yang tau itu hanya Paman Nathan, Paman Rafael dan Ardian saja yang ada di keluarga yang tau? Kenapa Kakek bisa tau masalah itu?" tanya Andrew dengan herannya.


"Hahaha tentu dong, masa yang lain Kakek tau tapi masalah itu Kakek tidak tau sih tentu tau lah. Jangan salah yah mata-mata Kakek ada dimana-mana" ujar Kakek Arsen dengan tawa bangganya.


"Waw Kakek Arsen memang yang terbaik" puji Ardian dengan mengacungkan jempolnya kepada Kakek Arsen.


Mendengar itu Kakek Arsen tambah tertawa semangat.


"Hahaha uhuk uhuk uhuk" Kakek Arsen yang tertawa keras membuat dirinya langsung batuk-batuk.


"Astaga Kek minum dulu" Renald langsung mengambilkan dan membantu minum Kakek Arsen, Ardian pun ikut mengelus punggung belakang Kakek Arsen.


Sementara Andrew hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kakeknya itu, karena sudah ada Renald dan Ardian yang membantu Kakek Arsen.


"Terlalu semangat sih Kek jadi gitukan" cetus Andrew dengan gelengan kepalanya. "Sudahlah sebaiknya kita bahas masalah selanjutnya yang akan kita lakukan dengan alat ini saja yang kita bicarakan dan waktunya juga untuk melaksanakan semuanya kapan, kita harus mendiskusikannya agar tidak mengambil langkah yang salah" lanjut Andrew lagi dengan wajah seriusnya kali ini.

__ADS_1


Ketiganya pun mengangguk mendengar perkataan Andrew. Dan akhirnya mereka pun membicarakan mengenai masalah yang akan mereka hadapi dan semua strategi maupun waktu yang kiranya tepat untuk melaksanakan rencana mereka dengan seriusnya karena ini tidak bisa di anggap sebagai masalah yang sepele.


*****


Setelah berbincang serius masalah yang bisa di anggap penting itu, Andrew pun kembali ke kamarnya karena waktu pun sudah mulai malam hari sudah waktunya untuk beristirahat.


Cklek.


"Sayang??" Andrew mengernyitkan dahinya saat masuk ke dalam kamar, tapi tidak melihat istrinya itu membuatnya sedikit khawatir.


Tapi, Andrew langsung bernafas lega saat mendengar suara kran air yang menyala dari arah kamar mandi yang ada di kamar itu.


Sembari menunggu istrinya untuk keluar dari kamar mandi, Andrew memutuskan untuk keluar sebentar ke balkon yang ada di kamarnya itu.


Saat sampai di dekat tepi balkon, Andrew menghela nafasnya, Andrew pun memikirkan bagaimana caranya ia memberitahukan ke istrinya itu masalah rencana yang telah mereka buat, karena bagaimanapun Kakak dari istrinya lah yang akan di tugaskan ke tempat berbahaya itu. Sebenarnya awalnya Andrew tak ingin memberitahu istrinya bahkan hari itu sampai sembunyi-sembunyi berbicara dengan Kakek Arsen karena tak ingin istrinya tau, tapi tadi Kakek Arsen malah menyuruhnya memberitahu Aidah agar nantinya jika sampai Aidah dengar dari orang lain tidak akan terlalu khawatir.


Andrew sedikit kaget tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya dari belakang, walaupun tangannya tidak sampai melingkar sempurna. Tapi, tak lama Andrew langsung berbalik melihat seseorang yang baru saja memeluk dirinya dari belakang itu.


"Iya dong Mas, ini Aidah udah ada di sini ya tentu sudah selesai dong" jawab Aidah dengan senyumnya, tapi Aidah langsung mengernyitkan dahinya saat melihat ekspresi suaminya yang nampak menahan sesuatu yang ingin dibicarakan.


"Ada apa Mas?? Sepertinya Mas kaya mau ngomong sesuatu gitu, kalau ada yang mau di omongin ngomong aja Mas" ujar Aidah dengan senyum manisnya menatap suaminya itu.


Istrinya itu sekali lagi tepat sasaran. Andrew menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum membuka suaranya dan mulai berbicara.


"Sayang ada yang aku omongin serius, tapi sebaiknya kita ngomongnya di dalam aja di sini dingin nanti kamu dan baby-baby masuk angin lagi" ujar Andrew, lalu menggandeng istrinya itu masuk ke dalam kamar. Sementara Aidah hanya nurut saja perkataan suaminya itu.


Setelah masuk kembali ke kamar, Andrew mengajak istrinya itu untuk duduk di kasur.


Melihat suaminya yang malah diam saja setelah duduk, membuat Aidah mengernyitkan dahinya kembali, "Sebenarnya ada masalah serius apa Mas?" tanya Aidah heran, apalagi saat melihat raut wajah suaminya yang seperti bingung.


"Mmm sebenarnya kami Mas, Abang kamu, Ardian dan Kakek sudah selesai membicarakan dengan detail dan kapan rencana itu akan di lakukan" ujar Andrew ragu.

__ADS_1


"Oh masalah Lita yah Mas?" tanya Aidah memastikan.


Andrew mengangguk, "Iya sayang, masalah Lita. Kami berencana melaksanakan rencana itu lusa" jawab Andrew.


"Oh baguslah semakin cepat di lakukan semakin cepat juga selesainya. Tapi, kenapa Mas seperti ragu gitu, apakah ada masalah lagi?" tanya Aidah dengan mengernyitkan dahinya menatap suaminya itu.


Andrew kembali menghela nafas panjangnya, "Iya sayang. Masalahnya itu Abang kamu yang akan menjadi mata-mata yang akan pergi ke tempat berbahaya itu dan bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana nasib Abang kamu nantinya di sana" ujar Andrew dengan suara pelannya.


Aidah kaget mendengar perkataan suaminya itu, tapi tak lama kemudian Aidah langsung ikut menghela nafas panjangnya.


Aidah kemudian menggenggam tangan suaminya itu, "Tidak apa-apa Mas. Aidah percaya Abang Renald pasti bisa menyelesaikan itu, apa lagi ini kan tugas pertama yang akan Abang Renald jalankan. Ini juga sebagai ujian untuk Abang nantinya sebelum memimpin betul-betul Mafia milik Kakek Arsen" ucap Aidah dengan bijaknya.


Andrew sedikit lega mendengar perkataan bijak dari istrinya, Andrew kira istrinya akan sedih lagi mengetahui ini, tapi ternyata istrinya bisa menyikapi masalah ini dengan bijak.


"Iya benar sayang karena jalan yang akan di tempuh Renald pasti akan jauh lebih terjang lagi dari ini. Istri Mas bijak banget deh" puji Andrew dengan mencubit gemes pipi istrinya yang tambah tembem setelah hamil.


"Mas!!" Aidah cemberut di cubit pipinya seperti itu oleh suaminya.


"Hehe soalnya kamu tambah gemesin tau sayang, pipi kamu juga tambah mirip bakpao" ujar Andrew dengan kekehannya.


"Mas ledek Aidah yah!!" Aidah menatap suaminya kesal dengan pipinya yang tambah di tembemkan yang malah Andrew melihat wajah istrinya itu tambah merasa gemes.


"Haha tidak kok sayang, mana berani Mas ledek istri Mas ini" elak Andrew, tapi dengan tawa kecilnya.


Aidah tambah cemberut mendengar perkataan suaminya yang mengelak tapi malah menertawakannya.


"Sudahlah jangan cemberut-cemberut lagi nanti malah Mas tambah gemes lagi" ujar Andrew sembari memeluk istrinya itu. "Oh iya sayang, nanti yah setelah semua ini selesai Mas akan temenin kamu pergi periksa kandungan ke Dokter terbaik yang ada di rumah sakit. Pasti baby-baby kita ini juga sudah tidak sabar untuk bertemu langsung dengan Mom dan Dadnya kan, iya kan baby-nya Daddy" lanjut Andrew dengan mengelus perut istrinya yang sudah nampak itu dengan senyum senangnya.


"Iya Mas, Aidah ikut perkataan Mas saja" jawab Aidah dengan senyumnya juga dan ikut memegang perutnya itu, seolah melupakan bahwa baru saja dirinya masih ngambek dengan suaminya itu.


*****

__ADS_1


Maafin author tiga hari libur tidak up, soalnya beberapa hari ini author banyak tugas dari kampus🙏🥺.


__ADS_2