Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 99


__ADS_3

Di pagi hari yang begitu sejuk, Arin sedan menyirami bunga yang ada di halaman. Angin pagi yang begitu sejuk, di tambah lagi dengan kicauan burung yang bersautan begitu merdu. Membuat senyuman indah terus melingkar di terus melingkar di wajah Arin. Dia menatap kupu-kupu yang bertebangan beserta burung-burung yang hinggap di pepohonan.


Dia mengelus perut buncitnya dan berjalan menatap bunga-bunga secara berlahan. Kakinya terlihat membengkak sehingga membuatnya sulit untuk berjalan. Namun, mengingat bayinya yang akan segera terlahir ke dunia ini membuatnya terus bersemangat. Walaupun dia sangat kesulitan untuk melakukan aktivitasnya, akan tetapi dia tetap semangat tanpa mengeluh sedikitpun.


Tanpa Arin sadari di depan gerbang berdiri seorang pria yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu menatap haru perubahan bentuk tubuh Arin yang berubah drastis. Tidak ada lagi high heels yang membalut telapak kakinya. Yang ada hanyalah sandal tanpa tumit yang dia gunakan sebagai alas kaki.


Tidak ada lagi tubuh langsing dan juga seksinya, yang ada hanyalah tubuh gemuk yang di baluti daster longgar agar bayinya tidak terganggu. Tidak ada lagi acara lari-larian kesana kemari, yang ada hanya jalan selangkah demi selangkah. Itupun dengan sangat hati-hati dan juga kesulitan.


Berlahan air mata berhasil menetes membasahi wajah tampan pria itu. Dia menatap Arin dengan tatapan penuh penyesalan. Andai saja dia bisa memutar waktu, pasti dia tidak akan melukai hati wanita yang telah berjuang demi anaknya itu walaupun hanya sedikit saja. Pria itu berlahan mendekati Arin sambil membawa sebungkus bubur ayam dan juga sebuket bunga. Dia berharap agar Arin mau memaafkannya dan mau memberikan kesempatan untuknya untuk memperbaiki semuanya.


"Selamat, pagi!" ucap Dirga dengan suara serak menahan kesedihannya.


"Pagi!" ucap Arin tersenyum sambil menatap pria yang ada di belakangnya.


Dengan seketika, mata Arin langsung membulat ketika melihat Dirga yang kini berada di hadapannya. Dia menatap Dirga dengan tatapan penuh kekecewaan dan juga mata memerahnya. Bahkan air bening itu berhasil lolos membasahi wajahnya yang sembab karena paktor kehamilannya.


Bukannya menyapa, Arin langsung melangkahkan kakinya untuk menjauhi Dirga. Terlihat dia sangat sulit untuk berjalan, akan tetapi dia tetap berusaha berjalan dengan cepat untuk menjauhi Dirga. Dirga langsung menangkap tangan Arin dan berusaha untuk memenangkannya.

__ADS_1


"Arin! Kenapa kau membohongiku? kenapa kau menyembunyikan keadaan bayi kita?" tanya Dirga sambil menatap Arin dengan tatapan penuh kesedihan.


"Minggir! lepaskan tanganmu," ucap Arin menepis kasar tangan Dirga.


"Aku tau kau sangat membenciku! tapi aku mohon. Aku mohon jangan jauhkan aku dari anak kita. Aku ini papanya, pasti dia membutuhkan aku untuk selalu berada di sampingnya. Aku mohon, beri aku kesempatan," ucap Dirga meneteskan air matanya.


Melihat tatapan Dirga, Arin mencoba menghapus air matanya. Dia menarik napasnya lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Melihat tatapan Dirga, Arin langsung merasa lemah. Akan tetapi dia berusaha untuk kuat. Dia harus terlihat kuat, dia tidak boleh lemah di depan Dirga. Dia harus membuktikan jika dia berhak untuk diperjuangkan dan juga di hargai. Dia tidak boleh terlihat lemah, agar Dirga bisa sadar jika dirinya berharga.


"Bayi kita! baru sekarang kau sadar jika kau adalah papa bayi ini? bukankah dulu kau tidak menghargai kehadirannya. Bahkan kau tidak menginginkan kehadirannya," ucap Arin penuh amarah sambil menatap tajam Dirga.


"Maaf! lebih baik kau pergi. Kau pergi sekarang juga," bentak Arin sambil menunjuk ke arah luar perkarangan rumahnya.


"Arin! aku mohon," ucap Dirga menatap Arin dengan tatapan kosongnya.


"Aku mohon kau pergi sekarang juga. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi," ucap Arin kembali melangkahkan kakinya.


"Baiklah! aku akan pergi. Tapi kau terima ini ya. Aku bawakan bubur ayam dan juga bunga ini untukmu," ucap Dirga memberikan bubur ayam dan juga sebuket bunga yang ada di tangannya.

__ADS_1


Melihat itu, Arin hanya diam. Dia terus melangkahkan kakinya memasuki rumahnya tanpa memperdulikan Dirga. Tidak mau usahanya sia-sia, Dirga langsung berlari dan menghalangi jalan Arin.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau menerima ini. Aku mengerti jika kau masih sangat membenciku. Tapi tolong, jangan jauhkan aku dengan anak kita. Aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya ingin kau menerima ini," ucap Dirga terus bersikeras memberikan bubur ayam dan bunga yang ada di tangannya kepada Arin.


Karena Dirga terus bersikeras, akhirnya Arin mengalah. Dia mengambil bubur ayam dan juga sebuket bunga pemberian Dirga. Melihat itu, Dirga hanya bisa tersenyum. Dia menatap lekat wajah cantik Arin dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk dan mencium Arin untuk melepaskan kerinduannya. Namun, Dirga memilih untuk mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi sebelum Arin berubah pikiran.


"Aku pergi! kau baik-baik saja di sini ya. Jika kau membutuhkan sesuatu hubungi saja aku. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu," ucap Dirga menatap lekat Arin.


"Aku menyesal! aku menyesal karena telah menyakitimu. Jika di beri waktu lagi, aku ingin menebus semua kesalahanku kepadamu. Aku tau! aku tau kau sangat marah kepadaku. Tapi aku tidak akan menyerah sampai aku mendapatkan maaf darimu. Kau istirahat ya, jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Nanti sore setelah pulang kerja, aku akan mengantarkan makan malam untukmu. Aku tidak perduli jika kau menerimanya atau tidak. Tapi aku akan tetap datang sampai aku mendapatkan maaf darimu. Aku berangkat kerja dulu ya. Kau baik-baik di sini. Jangan pergi lagi," ucap Dirga tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari perkarangan rumah Arin.


Arin hanya menatap kepergian Dirga sambil berusaha menahan tangisnya. Jujur dia sangat ingin memeluk Dirga dan bercerita panjang lebar. Dia ingin mengeluarkan seluruh keluh kesahnya selama mengandung. Namun, mulut dan kakinya terasa terkunci. Dia hanya bisa diam dengan bibir bergetar karena menahan tangisnya sambil menatap punggung Dirga.


Dirga terus berjalan menuju mobilnya. Dia menatap Arin yang terus menatapnya sambil meneteskan air matanya. Dia melambaikan tangannya sambil melayankan senyumannya kepada Arin. Namun, Arin langsung membuang tatapannya sambil menahan tangisnya. Melihat itu, Dirga hanya diam lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya sambil menatap pria yang sedari tadi memperhatikannya dengan Arin dari kejauhan.


"Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku berjanji akan berusaha sekuat tenagaku agar keluargaku bisa utuh kembali. Aku tidak akan pernah membiarkan Arin pergi dari kehidupanku lagi. Aku akan terus mengejarnya tanpa mengenal kata lelah,"


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2