Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 93


__ADS_3

"Nak! hari ini adalah jadwal kamu untuk cek kandunganmu," ucap Bu Nasri sambil memberikan susu hamil untuk Arin.


"Ia, Ma! mama ikut ya,"


"Maaf, Nak! hari ini mama harus melihat tante. Tante sedang sakit. Mama sudah menyuruh Nak Denis untuk menemanimu," ucap Bu Nasri.


"Baik, Ma!" ucap Arin menurut patuh.


Denis adalah saudara sepupu Arin. Walaupun Denis di besarkan di kampung, akan tetapi dia tidak kalah tampan dari orang kota. Dia tampan dan memiliki pendidikan yang bagus. Bahkan dia sejak kecil telah menyimpan rasa kepada Arin. Hanya saja Arin yang tidak menyadarinya dan lebih menganggap perhatian Denis hanya sebatas saudara saja.


"Rin! kau sudah siap?" tanya Denis datang sambil membawa makanan untuk Arin.


"Eh, Nak Denis. Baru saja di bicarakan. Tapi udah muncul saja," ucap Nasri tersenyum.


"Ia, Tan! ini aku bawa bubur ayam untuk Arin. Apa Arin masih susah untuk makan?" ucap Denis mengingat Arin yang lebih suka makan buah dan jajanan di bandingkan nasi.


"Wah! bubur ayam. Kau sangat tau apa yang aku mau," ucap Arin tersenyum bahagia lalu mengambil bubur ayam yang ada di tangan Denis.


Arin langsung menyantap bubur ayam itu dengan begitu lahapnya. Melihat itu, Denis dan Nasri langsung tersenyum bahagia. Walaupun tidak suka makan nasi, tapi setidaknya Arin masih mau makan buah, roti dan juga jajanan lainnya. Bahkan Arin sering ke kota secara diam-diam untuk membeli jajanan kota.

__ADS_1


Hal itulah yang membuat Nasri dan Denis khawatir. Mereka takut jika Dirga dan yang lainnya melihat Arin. Jika mereka yang melihat itu masih mending. Yang lebih Nasri dan Denis takutkan Arin akan bertemu dengan orang yang hanya mengharapkan imbalan yang di tawarkan oleh Dirga. Karena mereka pasti hanya memikirkan uang tanpa memikirkan keadaan Arin yang sedang mengandung.


"Aku dengar baru-baru ini kau pergi ke kota secara diam-diam lagi 'kan?" tanya Denis menatap Arin penuh selidik.


"He.. he... maaf! habisnya aku pingin rujak. Aku mencarinya di sekitar kampung aku tidak melihatnya. Jadi aku pergi ke kota deh. Tapi aku mengunakan selendang dan kaca mata kok. Jadi tidak ada yang melihatku," ucap Arin nyengir tanpa dosa.


"Aku dengar salah satu dari sahabatmu melihatmu. Bahkan dia sudah memberitahu Dirga. Waktu aku pulang kerja aku melihat begitu banyak orang yang mencari keberadaanmu di sekitaran lampu merah," ucap Denis.


"Apa! maaf kalau gitu. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Arin menunduk sedih.


"Sudah tidak apa-apa. Sekarang kau habiskan makananmu itu. Setelah itu pakai ini," ucap Denis memberikan baju gamis dan juga cadar kedapa Arin.


Jika Arin hanya mengunakan selendang dan kaca mata, maka akan lebih mudah di kenali oleh orang lain. Namun, jika dia memakai cadar, tidak akan ada yang bisa mengenalinya. Karena mereka tidak melihat wajahnya.


Bahkan Denis selalu menyempatkan waktunya untuk menemani Arin setelah dia pulang kerja. Karena mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya, Arin akhirnya bisa bangkit kembali. Apalagi melihat perjuangan Nasri yang membangun kembali semangat Arin tanpa ada rasa lelah. Berpisah dengan orang yang kita cintai itu memang tidak mudah. Apalagi mengingat keadaan Arin yang sedang mengandung.


"Sudah! mama pergi dulu ya. Ingat, kau jangan jauh-jauh dari Nak Denis. Jangan bandel kalau di bilang," oceh Bu Nasri mengingat kelakuan Arin yang sangat susah di atur.


"Siap, Ma! Aku akan nurut. Karena Denis galak," ucap Arin memayunkan bibirnya mengingat sikap tegas Denis kepadanya.

__ADS_1


"Nak Denis tidak akan marah jika kau bisa di atur," ucap Bu Nasri tersenyum lalu meninggalkan Arin dan Denis berdua.


"Sudah kau mandi sana. Setelah itu kenakan pakaian ini. Tapi kau harus tahannya. Memakai ini pasti gerah, apalagi ini kali pertama untukmu," ucap Denis


"Ia! aku akan kuat kok. Lagian cek kandungan 'kan cuman sebentar," ucap Arin tersenyum.


Arin mencoba bangkit dari duduknya. Namun, karena kandungannya yang semakin besar, membuat Arin sangat sulit untuk bergerak. Apalagi melihat kaki yang mulai membengkak. Melihat itu, Denis langsung bergerak cepat. Dia mencoba membantu Arin dan mengantarkannya menuju kamar mandi.


"Terima kasih ya. Terima kasih karena kau selalu berada di sampingku untuk membantuku," ucap Arin menatap Denis penuh haru.


"Tidak apa-apa. Ini sudah kewajibanku sebagai saudarmu," ucap Denis tersenyum.


"Andai saja kau tau jika aku mencintaimu. Pasti kau akan menjauhiku dan membenciku. Tapi melihatmu bahagia aku merasa senang. Walaupun aku tidak bisa memilikimu seutuhnya," batin Denis menatap Arin dengan lekat.


"Sudah bersihkan dirimu. Aku tunggu di luar ya," ucap Denis tersenyum lalu meninggalkan Arin seorang diri.


Arin hanya menganguk sambil menatap kepergiaan Denis. Dia merasa bahagaia mendapatkan perhatian dan juga kasih sayang yang selalu Denis berikan kepadanya. Kasih sayang dan juga perhatian yang selama ini dia tidak temukan dari Dirga, suaminya sendiri.


Tidak mau membuat Denis menunggu lama, Arin langsung membersihkan dirinya dan bersiap-siap dengan cepat. Arin menggunakan gamis pemberian Denis. Tidak lupa dengan hijab panjang dan juga cadar yang menutupi wajahnya. Melihat pantulan dirinya di cermin sambil mengelus perut buncit nya.

__ADS_1


"Apakah pilihan mama sudah tepat, Nak? Mama harap kau mengerti dengan keadaan ini," gumam Arin sambil menitikkan air matanya.


Bersambung......


__ADS_2