
Mendengar montir itu telah tertangkap, Randy langsung bergegas untuk pergi. Dia tidak sabar ingin memberi pelajaran kepada orang yang berani menyakiti istrinya.
"Kau mau ke mana, Mas?" tanya Rania melihat Randy yang pergi secara tergesa-gesa.
"Aku ada urusan sebentar. Kau di rumah saja ya," ucap Randy menghentikan langkahnya.
"Urusan apa?" tanya Rania memperhatikan penampilan Randy.
Dari penampilan Randy, Rania dapat menebak jika Randy bukan pergi ke rumah sakit. Di tambah lagi dengan raut wajahnya yang berbeda. Sehingga membuat Rania tiba-tiba merasa cemas.
"Rayyan dan Rafi sudah menangkap montir yang telah menyabotase mobil Tika. Aku yakin dia adalah kunci untuk kita mendapatkan pelaku yang sebenarnya," jelas Randy
"Kalau begitu aku mau ikut,"
"Tidak! kau di rumah saja. Jaga saja putri kita. Ingat, kalau kau mau ke luar jangan sendiri ya. Aku tidak mau kehilanganmu dan Cheesy juga," ucap Randy mencium kening Rania.
"Tapi, Mas!"
"Tidak ada tapi-tapian. Kau di rumah saja. Biarkan masalah ini kami para pria yang menanganinya. Kau tinggal menunggu hasilnya saja,"
"Baiklah! kau hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku,"
"Pasti, Sayang. Aku pergi dulu ya," ucap Randy tersenyum sambil mengacak-acak rambut Rania.
Rania hanya tersenyum lalu mencium punggung tangan Randy. Randy juga mencium wajah Rania dan juga pipi gembul Cheesy. Setelah itu dia langsung berjalan menuju mobilnya. Rania hanya menatap kepergian Randy sambil berdoa agar masalah Tika secepatnya terungkap.
__ADS_1
Karena hanya itu yang membuat Rania bisa melakukan tugasnya, sebagai seorang istri dengan tenang tanpa ada beban lagi. Karena sebagai seorang sahabat dia ingin memberikan keadilan untuk Tika. Saat melihat Randy menjalankan mobilnya, Rania langsung melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Melihat itu, semangat Randy langsung mengebu-gebu. Dia berjanji akan menangkap semua pelaku yang berani mencelakai Tika. Dia akan terus berjuang untuk mendapatkan keadilan untuk Tika. Dia tidak akan membiarkan orang yang bersalah terus berkeliaran di luar sana dengan bebasnya.
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mobil Randy berhenti di perkarangan gedung kosong. Dia menatap gedung itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Dia langsung melangkahkan kakinya memasuki gedung itu dengan aura kemarahan yang terpancar di wajahnya.
Rayyan dan Rafi yang melihat kedatangan Randy langsung bangkit dari duduknya. Milik mereka yang sedari tadi bangun tiba-tiba tidur kembali. Rayyan menelan ludahnya kasar ketika melihat raut wajah Randy yang sangat menyeramkan.
"Dimana dia?" tanya Randy dingin tidak lupa dengan raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
"Dia ada di dalam!" ucap Rafi singkat.
Mendengar ucapan Rafi, Randy langsung masuk ke ruangan yang di gunakan untuk menyekap montir itu. Rayyan dan Rafi mengikuti Randy dari belakang. Mereka ingin melihat bagaimana ekspresi Randy jika marah. Karena selama ini mereka selalu melihat Randy yang pendiam dan juga penyabar.
Rayyan menatap pemuda yang lebih muda darinya itu. Dia menatap montir itu sambil tersenyum sinis. Tatapannya begitu tajam sehingga membuat montir itu terdiam membisu. Montir itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Aku tidak tau itu mobil istrimu," ucap Montir itu mencari alasan.
"Cuihh.... Mana mungkin kau tidak tau. Kau pikir aku bodoh? katakan, atau aku akan membuatmu bicara dengan caraku sendiri,"
"Aku beneran tidak tau kenapa tiba-tiba istrimu kecelakaan. Aku hanya melakukan tugasku untuk memperbaiki mobil istrimu,"
Bughhh....
Karena geram dengan omongan montir yang bertele-tele. Randy langsung melayangkan tinjunya, sehingga montir itu langsung jatuh tersungkur. Dengan sekali pukulan wajah montir itu langsung membiru, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
"Katakan! atau aku akan melakukan hal yang lebih keji dari ini," ucap Randy mencengkram kerah baju montir itu.
"Aku tidak tau apa-apa, Tuan,"
Bughhh....
Bughhh...
Randy langsung memukuli montir itu dengan berutalnya. Rafi dan Rayyan yang melihat itu, langsung menenangkan Randy. Mereka berusaha menjauhkan Randy dari montir itu. Karena mereka takut jika Randy akan membunuh montir itu saat itu juga.
"Kau tenang, Ran! Kau tidak boleh gegabah seperti ini. Jika dia mati maka kita tidak akan bisa mendapatkan pelaku yang sebenarnya," ucap Rayyan berusaha menenangkan Randy.
Mendengar ucapan Rayyan, Randy berusaha menarik napasnya pelan. Dia berusaha mengontrol emosinya dan berpikir jernih. Dia tidak mau jika sampai montir itu mati sia-sia sebelum mereka mendapatkan informasi darinya.
"Biarkan aku yang menghadapinya," ucap Bisma tiba-tiba datang.
"Kau!" tanya Rayyan mengerutkan keningnya binggung.
"Kau jangan memandang remeh aku seperti itu. Apa kau lupa dulu aku juga yang memberi pelajaran kepada wanita itu," ucap Bisma dingin.
"Baiklah! kau lakukan semaumu. Ingat kita harus mengali semua informasi darinya," ucap Randy setuju.
"Baiklah! aku sudah menyiapkan perlengkapannya," ucap Bisma tersenyum sinis lalu menghampiri montir itu.
"Apa yang akan di lakukan bocah ini?" batin Rayyan dan Rafi sambil saling melempar pandangan.
__ADS_1
"Kalian jangan pangil aku bocah. Apa kalian lupa kalian hanya lebih tua beberapa tahun dariku," ucap Bisma menatap Rafi dan Rayyan secara bergantian.
Bersambung.....