
Tiba-tiba Arin ingin makan mangga muda. Dia melihat ke sekeliling rumah, akan tetapi tidak ada satupun orang yang ada di sana. Dia mencoba menghubungi Dirga, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Mas! kenapa kau tidak bisa perduli dengan anak kita sekali saja? padahal dia juga membutuhkanmu," ucap Arin menitikkan air matanya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Arin menghempaskan tubuhnya di sofa lalu mencoba menghidupkan TV. Dia mencoba mencari kegiatan lain agar bisa melupakan ke inginnya untuk makan mangga muda. Namun, sebagai mana pun dia berusaha mengalihkan keinginannya, akan tetapi dia tetap ingin memakan mangga muda itu.
Karena tidak mau membuat bayi yang ada di dalam kandungannya kenapa-napa. Akhirnya Arin memilih untuk mencarinya seorang diri. Dia melajukan mobilnya menelusuri jalanan kota untuk mencari mangga muda.
Dia juga mencoba mengunjungi toko buah untuk mencari mangga muda. Namun, dari begitu banyak toko buah yang dia kunjungi tidak ada satupun yang menjual mangga muda.
"Di kota sebesar ini kenapa tidak ada yang menjual mangga muda sih," ucap Arin kesal karena dia sudah lelah keluar masuk di toko buah.
Arin membuang napasnya kasar sambil bersandar di mobilnya. Dia mengusap keningnya yang bercucuran keringat. Dia menatap matahari yang begitu trik sehingga membuatnya kepanasan.
"Kak! bisa minta tolong gak?" tanya seorang anak kecil menghampirinya.
"Bisa, Dik! memangnya kau minta tolong apa?" tanya Arin sambil mencubit gemas wajah gembul bocah itu.
"Tolong fotokan aku sama mama dan papa ya," ucap bocah itu memberikan ponselnya kepada Arin.
__ADS_1
Mendengar ucapan bocil itu, Arin langsung menatap ke arah pasangan suami istri yang berdiri di depannya. Bocil itu juga berlari ke pasangan suami istri itu lalu berpose bersama.
"Ayo kak! fotokan ya," ucap bocil itu tersenyum bahagia.
"Ia! Siap-siap ya," ucap Arin langsung memfoto kebersamaan keluarga bahagia itu.
"Yach! Terima kasih ya, Kak," ucap bocil itu menghampil ponselnya yang ada di tangan Arin.
"Sama-sama, Sayang," ucap Arin tersenyum sambil menatap kepergian keluarga bahagia itu.
Melihat kebahagiaan bocil itu, Arin langsung menitikkan air matanya. Dia menatap perutnya dan membayangkan bagaimana nasib anaknya nanti. Bagaimana dia harus mengatakan kepadanya jika papanya tidak mengharapkan kehadirannya.
Namun, dia harus kuat. Dia harus kuat demi anak yang ada di dalam kandungannya. Dia yakin jika dia bisa membesarkan anaknya walaupun tanpa bantuan Dirga. Dia menghapus air matanya lalu menatap ke sebuah cafe yang ada di depannya. Dengan seketika matanya membulat ketika melihat Rania dan Cheesy ingin menyebrang. Dia melihat sebuah mobil melaju dengan cepat menuju ke arah mereka.
"Rania!"
...----------------...
"Arghh! sial. Kenapa wanita itu membawa-bawa namaku? Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran kepadanya," ucap supir truk kesal ketika mengetahui para polisi sedang melakukan pengejaran kepadanya.
__ADS_1
Awalnya dia ingin berangkat ke toko seperti biasa. Namun, saat ingin keluar dari kediamannya dia melihat sekelompok polisi yang sedang berbicara dengan tetangganya. Mendengar namanya di sebut, supir itu langsung bisa menebak jika para polisi itu sedang mencarinya. Terlebih lagi dia telah mendapat kabar tentang Mila yang telah menyerahkan diri. Membuat dia semakin yakin jika para polisi itu mencarinya karena masalah kecelakaan Tika.
Tidak mau menghabiskan hidupnya di penjara, supir itu memilih untuk melarikan diri. Bukan hanya itu, dia juga mengatur rencana untuk menghancurkan kehidupan Randy lebih dalam lagi. Setelah itu baru dia bisa pergi meninggalkan kota dengan perasaan tenang. Dendam telah menyelimuti hatinya, sehingga dia tidak dapat lagi melihat kebenaran.
Sebelum melancarkan aksinya dia memilih untuk bersembunyi terlebih dulu. Dia telah mengatur rencana dengan begitu baik. Bahkan dia juga memperhatikan setiap gerak-gerik Rania setiap harinya. Hingga akhirnya sebuah keberuntungan datang menghampirinya. Dia melihat Rania sedang membawa Cheesy keluar dari sebuah cafe hanya berdua.
Senyuman langsung menyeringai di wajahnya. Dia melihat Rania yang berjalan secara terburu-buru. Dia dengan cepat menekan pegal gas mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan tinggi menghampiri Rania dan Cheesy.
Walaupun Rania sedang membawa Cheesy dalam gendongannya. Namun, tidak membuat supir itu berubah pikirannya. Dia malah merasa sangat senang ketika melihat kedua harta Randy yang paling berharga itu. Dia ingin menghabisi Rania dan Cheesy secara bersamaan agar dia merasa puas karena bisa melampiaskan dendamnya.
"Rania!" teriak Arin berlari menghampiri Rania dan Cheesy dan mendorongnya ke tepi.
Bughh......
Arghhh.....
"Rania! Arin!" teriak Dirga ketika melihat kedua wanita itu tergeletak di aspal.
Dirga bagaikan berada di dalam dua pilihan yang sangat sulit. Dia tidak tau harus menolong yang mana terlebih dulu. Di sana ada Rania wanita yang sangat dia cintai, di sisi lain ada juga Arin istri yang sedang mengandung benihnya.
__ADS_1
Bersambung.....