
"Paman! apakah Tante Arin sudah ketemu?" tanya Aulya langsung berlari ke pangkuan Dirga.
"Hai, Sayang! kau datang dengan siapa?" tanya Dirga menatap Aulya yang tiba-tiba muncul di ruangannya.
"Lya! papa bilang tadi 'kan jangan lari-lari," ucap Rayyan dengan napas ngos-ngosan karena harus mengejar Aulya yang berlarian di loby menuju ruangan Dirga.
"Papa saja yang jalannya lambat," ucap Aulya ketus lalu duduk dengan santainya di pangkuan Dirga.
Di belakang Rayyan, muncul para bocil dan para papa mereka. Tidak lupa dengan Sania yang terus mengengam tangan Bisma. Seakan dia tidak rela melepaskan gengamannya walaupun ylhanya sedetik saja. Dia ingin memperlihatkan kepada semua orang jika Bisma hanyalah miliknya. Dia tidak akan membiarkan siapapun yang berani merebut Bisma darinya.
"Paman! kau belum menjawab pertanyaanku. Apa Tante Arin sudah di temukan?" tanya Aulya kembali.
"Ia, Sayang. Tante Arin sudah di temukan. Hanya saja dia belum mau memaafkan paman. Paman memang salah, jadi wajar saja jika Tante Arin marah kepada paman," jelas Dirga sambil membelai rambut Aulya.
"Jika Tante Arin tidak mau memaafkan paman, lebih baik tinggalkan saja dia. Tunggu saja Aulya sampai dewasa, Aulya akan menerima paman apa adanya. Paman itu 'kan tampan," ucap Aulya mengunyel-unyel wajah Dirga.
"Lya!" ucap Rayyan menatap kesal kelakuan putrinya itu.
"He.. he... Lya hanya bercanda kok. Papa jangan marah seperti itu. Nanti cepat tua lho," ucap Aulya cengengesan tanpa dosa.
Mendengar ucapan Aulya, Rayyan hanya mampu membuang napasnya kasar. Sedangkan para papa muda dan para bocil hanya bisa mengelengkan kepalanya melihat sikap Aulya.
"Bukannya mendukung Tante Arin kembali bersama Paman Dirga. Tapi kau malah membuat suasana semakin memanas," ucap Yuki menatap kesal Aulya.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda! mana mungkin aku gadis yang cantik jelita mau jadi pelakor. Lagian masih banyak pemuda sukses di luar sana yang menungguku," ucap Aulya dengan pedenya.
"Ia... ia! Paman aku kau kemang sangat cantik. Bahkan kau sama cantiknya dengan mamamu. Paman yakin, saat kau dewasa kelak kau akan mendapatkan pria yang pantas untukmu," ucap Dirga tersenyum.
"Tu dengarkan! Aku itu memang cantik," ucap Aulya dengan angkuhnya.
"Ia! ia! kau memang cantik. Tapi sayangnya, Centil," ucap Sania sambil terus menggandeng tanga Bisma.
"Macam kau tidak saja. Lihat kau sudah seperti prangko yang menempel terus dengan Kak Bisma," ucap Aulya membela diri.
"Kalian kalau mau berantam silahkan keluar. Kami dengan Paman Dirga ingin membahas hal penting," ucap Kinan mantap tajam para bocil.
"Ups! ok kami diam," ucap Aulya dan Sania serentak.
"Ish! Paman galak. Nanti aku bilangin Bibi Risa, biar tau rasa," ucap Aulya ketus lalu turun dari pangkuan Dirga.
"Ups! nasib punya keponakan yang mengikuti jejak ipar sengklek itu," ucap Kinan membuang napasnya kasar melihat tingkah Aulya.
"Biarpun sengklek. Tapi aku adalah pria tertampan di mata adikmu," ucap Rayyan dengan pedenya.
"Karena mata Zhia telah rabun. Jika aku jadi Zhia, aku mah ogah punya suami kayak kau," ucap Kinan ketus.
"Jika kalian mau bertengkar, silahkan keluar. Kami harus membahas hal penting," ucap Wildan meniru ucapan Kinan.
__ADS_1
"Kau mengikuti kata-kataku!" ucap Kinan tidak terima.
"Masa bodoh!" ucap Wildan.
Melihat tingkah para sahabatnya itu, Dirga hanya bisa terkekeh kecil. Dia mengelengkan kepalanya pelan melihat tingkah mereka yang selalu saja kocak. Walaupun selalu berdebat dalam masalah kecil, akan tetapi mereka tetap kompak. Bahkan mereka terus bersama dan saling mendukung satu sama lain.
"Apa kau sudah menemukan Arin?" tanya Rafi kembali ke topik.
"Ia! aku sudah menemuinya. Tapi dia," ucap Dirga menunduk sedih.
"Dia tidak mau berbicara denganmu?" tebak Kinan.
"Em! aku tau dia masih marah kepadaku. Jadi wajar saja dia tidak mau berbicara denganku. Tapi aku yakin, jika aku terus berusaha membujuknya. Lama kelamaan dia akan luluh juga. Aku akan terus mendekati secara bertahap. Sekaligus memberi dia ruang untuk berpikir. Aku tidak mau terlalu memaksanya. Biarkanlah dia berpikir dengan jenih," ucap Dirga penuh keyakinan.
"Aku setuju! anggap saja kau sedang mengejar cintanya. Sama seperti wanita lainnya, Arin pasti suka di perjuangkan. Kau teruslah mengejarnya dan buktikan jika kau telah berubah. Karena sekeras apapun wanita, jika terus di perjuangkan dan di perlakukan dengan istimewa dia pasti akan luluh juga," ucap Bisma setuju.
"Baiklah! aku akan terus berjuang. Aku akan mendapatkan kembali cintanya, bagaimanapun caranya. Bahkan aku tidak perduli jika aku harus merendahkan harga diriku. Karena bagiku kembali bersamanya adalah tujuanku," ucap Dirga tersenyum.
"Ayo semangat! kami akan mendukung paman. Nanti kita akan menemui Tante Arin. Aulya akan berbicara kepadanya dari hati ke hati. Lya yakin dia akan mendengar ucapan Aulya," ucap Aulya tersenyum.
"Bukannya mendamaikan kau malah akan menabur garam di luka Tante Arin," ucap Sania tau persis bagaimana Aulya yang centil itu.
"Diam! aku akan buktikan jika aku bisa meluluhkan hati Tante Arin. Kita lihat saja nanti,"
__ADS_1
Bersambung.......