Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 112


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Arin diperbolehkan untuk pulang. Dirga dengan setia menemani Arin dan membereskan semua barang-barangnya. Bahkan selama di rumah sakit, Dirga selalu menemani Arin. Dia merawat Arin dengan baik. Bahkan dia rela mengurangi jam istirahatnya hanya demi merawat Arin.


"Sudah selesai! Ayo kita pulang," ucap Dirga membantu Arin untuk berdiri.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas," ucap Arin melihat Dirga yang terus merangkulnya.


"Tidak! aku tidak akan membiarkanmu jalan sendirian. Ayo, aku akan membantumu," ucap Dirga melingkarkan tangannya di pinggang Arin.


Bu Nasri dan Bu Bima berjalan terlebih dulu sambil membawa Daffa dan sebagian barang mereka. Sedangkan Dirga berjalan di belakang bersama Arin. Mereka berjalan secara beriringan,, Dirga terus merangkul mesra pinggang Arin. Apalagi melihat keadaan Arin yang masih lemas, Dirga tidak mau jika sampai Arin kenapa-napa.


Sesampainya di mobil, Dirga langsung mendudukkan Arin di depan. Sedangkan Bu Bima dan Bu Nasri duduk di belakang sampul mengendong Daffa. Setelah memastikan semua telah duduk dengan nyaman, Dirga langsung mengemudikan mobilnya.


Dia mengantarkan Arin pulang ke rumahnya. Sebenarnya Dirga ingin sekali membawa Arin kembali ke rumah mereka dulu. Namun, Dirga sadar diri, dia belum menikahi Arin kembali. Jika dia ingin membawa Arin ke kediamannya maka dia harus menghalalkan Arin kembali terlebih dulu.


"Aku ingin pernikahan kita akan di lakukan secepatnya," ucap Dirga menatap Arin.


"Ia! mama juga setuju. Setelah keadaan Arin pulih total, kita akan melakukan pernikahan kalian kembali," ucap Bu Bima setuju.


"Bagaimana, Nak? kau setuju 'kan?" tanya Bu Nasri meminta pendapat Arin.


"Ia, Ma!" ucap Arin mengangguk kecil sambil menatap Dirga malu-malu.


"Alhamdulillah! kalau begitu kita harus menyiapkan segalanya," ucap Bu Bima tersenyum bahagia sambil menatap haru Daffa yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya.

__ADS_1


Arin dan Dirga hanya saling melempar tatapan dan senyuman mereka. Mereka berharap pernikahan mereka kali ini akan membawa kebahagiaan untuk mereka. Mereka berharap tidak akan ada lagi namanya perpisahan di antara mereka.


Sesampainya di kediaman Arin, mereka langsung turun dari mobil dan memasuki rumah itu dengan penuh kebahagiaan. Dirga juga terus mengumbar kemesraan dan juga perhatiannya kepada Arin. Bahkan dia dia memperdulikan mama dan juga mertuanya yang terus menatapnya. Memang orang yang sedang jatuh cinta selalu merasa jika dunia ini hanya milik mereka berdua saja. Mereka tidak perduli dengan orang lain, yang mereka perdulikan hanyalah saling membagi kasih sayang dan kemesraan mereka saja.


...----------------...


Sama seperti Dirga dan Arin, Rania dan Randy juga sedang di mabuk asmara. Jika Randy karena hari ini hari minggu, mereka menghabiskan waktu mereka berdua di dalam kamar. Apalagi di saat kehamilannya, Rania malah terlihat semakin manja dan selalu ingin menempel kepada Randy. Dia selalu bertingkah seperti anak kecil dan selalu membuat Randy sebagai boneka mainannya.


"Sayang! apa kau sudah selesai?" tanya Randy duduk bersandar di lantai sambil menatap Rania yang sedang mengotak-atik rambutnya.


"Belum, Sayang! sedikit lagi," ucap Rania terus mengucir rambut Randy.


Mendengar ucapan Rania, Randy hanya mode pasrah dan membiarkan Rania berbuat semaunya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana penampilannya saat ini. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun selain diam dan pasrah. Sedangkan Rabia terus tersenyum bahagia melihat penampilan Randy yang dia jadikan sebagai boneka mainannya.


"Aw! sakit sayang," ucap Randy membawa Cheesy ke pelukannya sambil mencium wajah gembul nya gemas.


"Sayang!" ucap Rania menghentikan kegiatannya.


"Hem!" dehem Randy sambil melirik Rania yang diam sambil memanyunkan bibirnya.


"Em! aku mau mie goreng. Tapi kau yang membuatnya dengan penampilan yang seperti ini," ucap Rania tersenyum manja.


"Apa!" ucap Randy membulatkan matanya mengingat penampilannya yang sudah seperti badut karena ulah Rania dan Cheesy.

__ADS_1


"Kau tidak mau," ucap Rania menatap Randy dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat ekspresi wajah Rania yang terlihat sedih, Randy langsung tidak berdaya. Dia mengusap wajahnya kasar sambil membuang napasnya. Dia menatap penampilannya di pantulan cermin lalu menatap wajah sedih Rania. Dia tidak bisa membayangkan jika ada orang yang melihat penampilannya saat ini.


"Ok! aku akan membuatkannya untukmu," ucap Randy mengalah sebelum Rania akan mengeluarkan jurus ampuhnya. Yaitu gambek dan mendiamkannya sepanjang hari.


"Tunggu dulu," ucap Rania berlari kecil menuju lemari pakaiannya. Dia mengambil sarung lalu menyuruh Randy untuk mengunakannya.


"Pakai ini," ucap Rania tersenyum.


"Sayang!" ucap Randy memelas.


"Kau tidak mau!" ucap Rania menunjukan mode merajuknya.


"Huf! Ia, aku makan memasak mie goreng untukmu," ucap Randy mengambil kain sarung itu lalu mengenakannya.


"Papa!" ucap Cheesy mendekati Randy sambil menunjukkan lipstik di tangannya..


"Ada apa, Sayang?" tanya Randy berjongkok untuk menyetarakan tinggi badannya dengan putrinya itu.


Melihat Randy telah berjongkok, Cheesy langsung melukis di wajah Randy mengunakan lipstik di tangannya. Melihat tingkah kedua bidadarinya itu, Randy hanya mode pasrah dan merenungi nasibnya. Bahkan dia tidak berani melihat wajahnya di cermin karena dia tidak akan sanggup melihatnya. Jika sampai ada orang yang melihat dia berpenampilan seperti ini, sudah di pastikan dia tidak akan tau meletakkan wajahnya di mana nantinya. Dia hanya bisa berdoa semoga saja para bocil tidak berkunjung ke rumahnya hari ini. Semoga saja doanya di kabulkan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2