
Arin duduk termenung di teras kamarnya. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah dia perlu mengatakan semua kebusukan Mila, atau dia harus diam untuk melindungi sang sahabat. Dia tau jika Mila salah, akan tetapi dia tidak mau melihat sahabatnya menderita. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Mila terus melakukan kejahatan demi egonya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Arin menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Arin sampai tidak sadar jika Dirga telah berdiri di belakangnya. Dirga menatap lekat punggung Arin yang membelakanginya.
"Ternyata kau pulang juga," ucap Dirga karena semalam Arin memilih untuk menginap di apartemen Mila.
"Aku mau pulang atau tidak apa urusanmu!" ucap Arin ketus tanpa menatap Dirga.
Mendengar ucapan Arin, Dirga langsung terdiam. Dia menatap aneh Arin yang tiba-tiba berubah dan tidak memperdulikannya lagi.
"Aku lapar," ucap Dirga mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak masak!"
"Apa saja kerjaanmu?"
"Untuk apa aku membuang waktumu untuk memasak untukmu? Apa kau lupa jika kau tidak pernah menatap masakanku?" tanya Arin meninggikan suaranya sambil menatap Dirga geram.
"A... aku tau. Tapi kali ini aku memang lapar. Jika kau tidak mau memasak untukku, aku akan masak sendiri," ucap Dirga gugup ketika melihat tatapan Arin yang begitu menakutkan.
__ADS_1
"Kau mandilah! aku akan masakan mie instant untukmu," ucap Arin bangkit dari duduknya.
"Baik," ucap Dirga menunduk.
Arin berjalan melewati Dirga tanpa menatapnya sedikitpun. Pikiran Arin sangatlah kacau, dia sedang berada di dalam dilema yang sangat besar. Di tambah lagi dengan keadaan rumah tangganya yang berantakan. Sehingga membuat Arin menjadi semakin frustasi akan jalan hidupnya.
Dirga menatap punggung Arin dengan tatapan kosongnya. Sebagai seorang manusia, dia bisa merasakan apa yang di rasakan Arin saat ini. Namun, cintanya kepada Rania telah menutup mata hatinya. Sehingga dia tidak bisa melihat penderitaan yang di alami Arin karena perbuatannya.
Tidak mau membuang-buang waktunya, Dirga mengusap wajahnya kasar lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia menguyur tubuhnya mengunakan air dingin sambil membayangkan senyum indah Rania. Walaupun sudah menjadi suami Arin, akan tetapi pikiran Dirga selalu di hantui kenangannya bersama Rania. Melupakan cintanya kepada Rania bukanlah hal yang mudah untuk Dirga.
Setelah selesai mandi, Dirga langsung berjalan menuju dapur. Dia menatap Arin yang sedang memasak mie instan untuknya. Dia dapat melihat tubuh Arin yang semakin kurus dan juga wajahnya yang sedikit pucat.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Dirga mendekati Arin.
Saat Dirga mendekat, tiba-tiba Arin merasa perutnya mual. Dia berlahan melangkah mundur sambil menutup hidungnya. Aroma sabun yang di gunakan Dirga sangat menganggu indra penciumannya.
"Kau jangan mendekat, mudur!" ucap Arin menutup mulutnya lalu berlari ke toilet belakang.
Huekk... huekkk....
Arin langsung memuntahkan semua isi perutnya. Badannya terasa lemas dan kepalanya terasa sangat berat. Melihat keadaan Arin, Dirga tiba-tiba merasa sangat cemas.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Dirga sambil menatap Arin dari kejauhan.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin aku sedang masuk angin saja," ucap Arin keluar dari toilet sambil memegang kepalanya yang terasa berat.
"Kau makanlah! aku mau istirahat. Maaf! aku tidak bisa menemanimu," ucap Arin berjalan menaiki anak tangga.
"Lebih baik kau makan juga. Kau pasti belum makan 'kan?"
"Tidak! aku tidak lapar," ucap Arin singkat lalu kembali melangkahkan kakinya.
Mendengar ucapan Arin, Dirga hanya terdiam sambil menatap punggung Arin. Dia berlahan duduk di meja dan menatap mangkok mie instant yang di masak Arin.
"Aromanya wangi sekali," batin Dirga menatap mie instan itu.
Karena perutnya yang keroncongan, Dirga langsung menyantap mie instant itu dengan sangat lahap. Bukan hanya karena lapar, akan tetapi masakan Arin ternyata sangat pas di lidahnya. Berlahan penyesalan langsung muncul di hati Dirga. Dia menyesal karena tidak pernah menyentuh masakan Arin. Padahal Arin sudah bersusah payah untuk memasak untuknya.
"Ternyata masakan Arin tidak beda jauh dengan masakan Rania," gimana Dirga setelah menghabiskan satu mangkuk mie instant itu.
Setelah perutnya sudah kenyang. Tiba-tiba pikiran Dirga langsung tertuju pada keadaan Arin. Dia tau jika Arin belum makan malam. Dia berlahan mencari bahan masakan di dalam kulkas dan memasak untuk Arin.
Bersambung.....
__ADS_1