
Sama seperti Rania, Arin juga sudah di nyatakan sembuh dan di perbolehkan untuk pulang. Dia duduk diam di atas bangsal nya, sambil memperhatikan Dirga dan mertua perempuan yang yang sedang sibuk membenahi barang-barangnya. Dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada keduanya. Hingga akhirnya seorang pria berbadan tegap, yang mengenakan setelan jas lengkap masuk ke ruangannya.
"Permisi nyonya! ini suratnya sudah selesai," ucap Pria itu memberikan sebuah map yang berisi surat cerai untuk Dirga dan dirinya.
Sebenarnya, sebelum kecelakaan terjadi Arin yang sudah lelah dengan sikap Dirga, memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Walaupun sedang dalam keadaan hamil tidak mengubah pikirannya. Rasa lelah akan penantiannya yang tidak berujung membuatnya memilih untuk menyerah.
Dia menyewa seorang pengacara secara diam-diam untuk mengurus surat cerainya. Jika dia membicarakan ini secara baik-baik, sudah di pastikan kedua mertuanya tidak akan mengijinkannya. Arin tau kedua mertuanya memang sangat menyayanginya. Namun, apa gunanya kasih sayang kedua mertua jika suaminya tidak menginginkannya sama sekali.
Terlebih lagi dengan ucapan Dirga yang meragukan kandungannya. Membuat keputusan Arin semakin bulat untuk berpisah dengannya. Walaupun Dirga sudah menyadari kesalahannya, akan tetapi semua telah terlambat. Keputusan Ari telah bulat, dia ingin mengakhiri penderitaannya secepatnya. Karena sebagai manusia biasa, dia juga ingin hidup bahagia.
"Surat apa?" tanya Bu Bima mengerutkan keningnya binggung.
"Maaf, Ma! aku sudah menggungat Mas Dirga," ucap Arin menunduk sedih.
"A... apa! kenapa kau melakukan itu? kenapa kau bisa menyerah begitu saja. Apa kau lupa dengan perjuanganmu selama ini?" tanya Bu Bima terkejut dengan keputusan Arin.
"Maaf, Ma! aku lelah mengejar yang tidak pasti. Aku lelah, Ma! maafkan aku,"
"Ini semua pasti karena wanita itu 'kan? dia pasti meracuni pikiranmu. Katakan kepada mama. Mama akan beri dia pelajaran," ucap Bu Bima langsung menyalahkan Rania.
"Tidak, Ma! ini adalah keputusan Arin. Arin sudah lelah. Biarkan Arin mencari kebahagiaan Arin sendiri," ucap Arin menatap Bu Bima dengan lekat.
__ADS_1
"Rania tidak tau Apa-apa tentang masalah ini. Jadi tolong, tolong jangan bawa namanya, Ma. Maafkan Arin, Arin tidak bisa bertahan lagi," ucap Arin mengengam tangan mama mertuanya itu.
Bu Bima dapat melihat penderitaan Arin selama ini yang terpancar di matanya. Dia tau, bertahan dengan suami yang tidak menganggap kehadiran kita memang lah sangat berat. Apa lagi jika suami kita masih mencintai wanita lain. Tentu saja membuat hati kita semakin kecewa dan terluka.
Bu Bima berlahan memeluk Arin dengan penuh kasih sayang, sambil menangis kesegukan. Dia tau semua yang di lalui Arin selama ini memang tidak mudah. Penderitaan demi penderitaan selalu datang menghampirinya akan sikap acuh Dirga kepadanya. Belum lagi dengan sikap Dirga yang tidak menganggap bayi yang ada di kandungan Arin. Membuat hati Arin semakin terluka dan hancur dengan seketika.
Melihat itu, Dirga hanya bisa terdiam membisu. Dia menatap Arin dengan tatapan kosong. Dari sana dia sadar jika dia selama ini sangat menyakiti hati Arin. Walaupun dia melihat sosok tegar Arin ketika berhadapan dengannya. Akan tetapi hati Arin sangatlah lemah dan juga hancur.
"Maaf ya, Ma! Arin harus pergi," Ucap Arin melepaskan pelukannya.
"Tapi, Sayang. Kau baru saja sembuh. Pasti kau membutuhkan orang untuk berada di sampingmu. Kau tinggal bersama mama terlebih dulu ya. Sampai keadaanmu sudah benar-benar pulih," Ucap Bu Bima belum siap berpisah dengan menantunya itu.
"Aku sudah menghubungi mama dan papa. Aku akan tinggal bersama mereka. Mama tidak perlu khawatir seperti itu, aku akan baik-baik saja," Ucap Arin berusaha meyakinkan mama mertuanya itu.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagian jika aku berpisah dengan Mas Dirga, aku masih bisa menjadi putri mama kok. Aku juga sudah menganggap mama seperti ibu kandungku sendiri," Ucap Arin tersenyum.
"Mama jangan sedih lagi ya. Nanti cantiknya hilang lho," Ucap Arin kembali berusaha menghibur mama mertuanya itu
"Mas! Aku minta maaf ya. Aku sudah gagal menjadi istri yang baik untukmu," Ucap Arin beralih menatap Dirga.
Mendengar ucapan Arin, Dirga langsung meneteskan air matanya penuh penyesalan. Arin sama sekali tidak gagal menjadi istri yang baik untuknya. Justru Arin telah melakukan tugas istri dengan sangat baik. Hanya saja, dia yang tidak pernah bersyukur dan mau melihat usaha Arin untuk mengurus semua keperluannya. Memiliki istri seperti Arin adalah suatu keberuntungan yang sangat besar untuknya. Namun, dianya saja yang terlalu egois dan sibuk mengejar hati wanita lain yang telah menjadi milik orang lain.
__ADS_1
"Kau tidak gagal! Kau malah sukses menjadi istri yang baik untukku. Hanya saja aku yang tidak pernah bersyukur memilikimu," Ucap Dirga tersenyum sambil menghapus air matanya.
"Terima kasih, Mas. Aku harap dengan perpisahan ini kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu. Kau jaga kesehatanmu ya, jangan lupa makan dan istirahat yang teratur," Ucap Arin tersenyum.
Mendengar ucapan Arin, Dirga hanya mengangguk patuh. Dia menatap wajah Arin dengan lekat untuk yang terakhir kalinya. Dia tidak tau kapan lagi dia melihat senyuman ataupun pertemu dengan Arin lagi.
"Apakah aku bisa memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Dirga sambil menitikkan air matanya.
"Tentu saja!" ucap Arin terseyum sambil merentangkan tangannya.
Dirga langsung memeluk Arin dengan erat, sambil menciumi kening Arin dengan lembut. Hangat, pelukan itu terasa sangat hangat. Ingin sekali Dirga berasa di dalam kehangatan itu, dia tidak rela melepaskan pelukannya walaupun hanya sedetik saja. Namun, sangat di sayangkan, ini adalah pelukan perpisahan di antara mereka.
"Ayo, Nyonya! mobil anda sudah siap," ucap pengacara itu lagi sehingga Dirga harus melepaskan pelukannya.
"Maaf! aku harus pergi. Kalian jangan sedih lagi ya," ucap Arin melepaskan pelukannya.
Sebelum pergi, Arin juga memeluk Bu Bima sebagai pelukan perpisahan. Bu Bima hanya mampu menangis penuh kesedihan melihat perpisahan itu. Baru saja dia merasa senang karena Dirga mulai perhatian kepada Arin. Namun, kini Arin telah mengungat cerai Dirga, sehingga mereka harus berpisah.
Setelah selesai berpamitan, Arin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu bersama pengacaranya. Di mencoba untuk terlihat kuat walaupun sebenarnya hatinya sangat terluka. Bagaiaman tidak. Dia sangat mencintai Dirga, bahkan dia rela melakukan apapun demi Dirga, akan tetapi kini perjuangannya berhenti begitu saja. Dia memilih untuk berpisah dari Dirga agar dia bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri.
Sedangkan Bu Bima terus menangis melihat kepergian menantu kesayangannya itu. Dia masih belum terima jika Arin meninggalkan mereka. Dirga hanya bisa diam sambil menenangkan mamanya. Dia memeluk Bu Bima dan berusaha meyakinkannya jika ini adalah yang terbaik untuk Arin. Walaupun sebenarnya dia juga masih kecewa dengan keputusan Arin.
__ADS_1
Bersambung....