
"Aku rasa lebih baik kita akui kesalahan kita. Aku tidak mau terus-menerus di teror oleh hantu Tika," ucap Mila gemetar ketakutan.
"Kau sudah gila? Apa kau mau menghabiskan hidupmu di penjara? kau tidak kenal bagaimana sahabat Tika. Mereka tidak akan membiarkanmu bebas begitu saja," ucap supir truk menyelenggarakan pelan.
"Lagian selama ini tidak terjadi apa-apa. Randy juga tidak menyadari jika kecelakaan istrinya karena kita. Lalu sekarang kau dengan mudah ingin menyerahkan diri," ucap supir itu kembali.
"Kau bisa bicara seperti itu. Karena bukan kau yang di teror setiap hari. Aku sudah tidak kuat lagi, aku bisa gila karena ini. Lebih baik aku menghabiskan hidupku di penjara, dari pada harus terus di teror oleh hantu Tika," ucap Mila tegas.
Mendengar ucapan Mila, supir itu hanya bisa terkekeh kecil. Jujur saja dia tidak percaya dengan apa yang di katakan Mila. Karena baginya hal mistis itu hanyalah dongeng dan takhayul saja.
"Kau itu hanya berhalusinasi, mana ada yang namanya roh gentayangan," ucap sang supir terkekeh kecil.
"Terserah kau mau percaya atau tidak! tapi aku akan menyerahkan diri. Aku akan mengakui semuanya. Kalau kau tidak mau itu urusanmu," ucap Mila.
"Baiklah! jika kau mau menyerahkan diri itu terserahmu. Tapi awas saja jika kau membawa namaku atas masalah ini," ancam sang supir.
"Baiklah! tapi aku yakin Tika juga akan menemuimu. Dia pasti akan mengangumu juga,"
__ADS_1
"Terserah! aku tidak percaya dengan ceritanu yang masuk akal itu. Jika dia mau mendatangiku maka aku akan menyambutnya dengan baik," ucap supir tersenyum sinis.
"Terserahmu! yang penting aku sudah memperingatkanmu," ucap Mila kesal lalu melangkahkan kakinya meninggalkan supir itu.
Bukannya merasa bersalah, supir itu hanya menatap kepergian Mila sambil terkekeh kecil. Baginya Mila hanya terlalu banyak berhalusinasi sehingga membuatnya ketakutan sendiri.
"Tika muncul lagi? mana ada orang mati bangkit lagi. Dia memang sudah gila," ucap supir itu terkekeh kecil lalu menghidupkan rokoknya.
Karena tidak di dengarkan oleh supir itu, Mila melangkahkan kakinya tanpa ada arah tujuan. Dia menatap kesana kemari seperti orang ketakutan. Bayangan kejadian-kejadian mengerikan itu selalu terlintas dalam pikirannya. Bahkan dia mengira jika setiap wanita yang mendekatinya adalah Tika.
Arin duduk terdiam di dalam kamar. Ucapan Dirga yang sangat menyakitkan terus tergiang dalam pikirannya. Dia tidak menyangka, jika Dirga sampai tega tidak mengakui kehadiran janin yang ada di dalam kandungannya. Berlahan air matanya yang selama ini dia bendung kembali mendapat dengan mulus di wajah cantiknya.
"Sayang! kau makan dulu ya," ucap Bu Bima menghampiri Arin sambil membawa mampan yang berisi makanan.
Mendengar ucapan mertuanya, Arin langsung menghapus air matanya. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya dan berusaha terlihat baik-baik saja. Walaupun Arin berusaha menyembunyikan kesedihannya, akan tetapi Bu Bima dapat melihat dengan jelas kedihan yang terpancar di mata Arin.
"Kau tidak perlu memikirkan ucapan Dirga. Kau anggap saja itu seperti angin lewat. Karena kesehatan kandunganmu jauh lebih penting dari apapun," ucap Bu Bima menatap iba keadaan Arin.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Ma. Karena mama selalu memperhatikanku. Walaupun Mas Dirga tidak pernah mengangapku. Tapi aku merasa bahagia karena memiliki mertua sebaik mama," ucap Arin tersenyum penuh haru mengingat semua kebaikan mertuanya itu.
"Itu sudah kewajiban mama, Sayang. Kamu itu adalah putri mama, jadi wajar saja jika mama memperhatikanmu. Karena bagi mama kau itu adalah putri mama, bukan menantu mama," ucap Bu Bila membelai lembut wajah Arin.
Mendengar ucapan mertuanya yang sangat menyentuh hati, Arin langsung menetaskan air matanya. Dia memeluk Bu Bima dengan erat sambil menangis kesegukan. Dia mengeluarkan semua penderitaan yang berusaha dia pendam seorang diri.
Bu Bima hanya bisa menahan tangisnya sambil membelai lembut rambut panjang Arin. Sebagai seorang wanita, dia dapat merasakan bagaimana penderitaan Arin selama ini. Memang ini semua kerena kesalahannya. Karena dia terlalu memaksakan kehendaknya kepada putranyam Namun, apa salah jika dia ingin yang terbaik untuk putranya?
"Maafkan mama, Sayang. Maafkan mama karena membawami kedalam penderitaan ini," ucap Bu Bima penuh penyesalan.
"Tidak! ini semua bukan salah mama. Ini memang sudah takdir yang sudah Allah tetapkan untuk Arin. Arin yakin di balik semua takdir ini akan ada rahasia besar. Karena Allah tidak akan menguji hambanya tanpa ada alasan yang kuat," ucap Arin berusaha terlihat tegar.
"Kau memang wanita yang sangat baik. Mama heran kenapa Dirga tidak bisaelihat kebaikanmu,"
"Jujur, Ma! aku bisa berpikir seperti ini setelah aku menghadapi semua cobaan ini. Dulu aku tidak pernah percaya dengan hal itu, karena bagiku kesenangan adalah hal yang utama. Namun, setelah menghadapi pahitnya hidup. Aku menjadi banyak belajar, belajar menjadi dewasa dan berpikir secara bijaksana," ucap Arin tersenyum.
Bersambung......
__ADS_1