Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 92


__ADS_3

Bisma sedang sibuk dengan dokumen yang ada di depannya. Dihadapkan dengan dua pekerjaan yang sangat penting itu memang tidak mudah untuknya. Di mana dia harus membantu Bisma untuk masalah pekerjaan kantor, dan dia juga harus mengurus soal Arin juga. Pekerjaan yang di limpahkan kepadanya membuat kepalanya menjadi pusing tujuh keliling.


"Memang nasib punya tuan begitu banyak. Jadi semua tugas diserahkan kepadaku," ucap Bisma mendengus kesal.


"Kau bilang apa?" tanya Rafi yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.


"Oh! tidak apa-apa, Tuan. Ini dokumenya sudah hampir selesai," ucap Bisma menunduk dan berharap jika Rafi tidak mendengar ocehannya.


"Oh, ia! apa kau sudah menemukan sesuatu tentang Arin?" tanya Rafi duduk di kursi depan Bisma.


"Anggota kita sedang menelusuri lokasi itu, Tuan. Tapi mereka tidak menemukan jejak Arin di sana. Bahkan orang-orang di sekitar itu juga mengatakan jika mereka tidak pernah melihat Arin," jelas Bisma.


Mencari Arin itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi Arin yang sengaja menghindari mereka, membuat mereka semakin kesulitan untuk menemukan Arin.


"Baiklah! lagi pula aku datang untuk memberikan kabar baik untukmu,"


"Kabar baik?" tanya Bisma langsung merasakan firasat buruk.


"Kakak Bisma! Aku sudah datang," ucap Sania langsung menghampiri Bisma di ikuti para bocil lainnya.


"Ini apa, Tuan?" tanya Bisma menatap Rafi dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.

__ADS_1


"Mereka ingin membantumu. Jadi kau tidak akan pusing memikirkan semuanya sendirian lagi," ucap Rafi tersenyum tanpa dosa.


"Kami akan membantu Kak Bisma. Jadi Kak Bisma jangan khawatir lagi," ucap Gibran tersenyum.


"Ia, Kak! kami akan membantu kakak. Jadi kita akan bisa menemukan Tante Arin lebih cepat," ucap Aulya.


"Ia, Kak! kakak tenang saja. Kami akan membantu Kak Bisma. Jika Kak Bisma lelah, Sania bisa kok memijit kakak," ucap Sania dengan mantelnya.


"Eh, Sania! ingat kita di sini untuk membantu Kak Bisma. Jadi kau jangan mentel-mentel gitu," ucap Yuki menatap kesal tingkah Sania.


"Apaan, Sih? sewot amat," ucap Sania membuang wajahnya kasar.


"Sudah! kalian akan membantu kakak. Tapi ingat! kalian harus menurut dengan ucapan kakak. Kalian tidak boleh nakal ataupun pergi jau-jauh dari kakak jika kita sedang ada di luar. Karena di luar sana begitu banyak penjahat yang bertebaran," ucap Bisma waspada.


"Kak Bisma jangan khawatir. Aku tidak akan jau-jauh dari kakak. Karena aku tau, jauh dari Kak Bisma itu akan membuatku terserang penyakit," ucap Sania memelas.


"Sakit apa?" tanya Rafi menatap Sania dengan serius.


"Sakit mala rindu," ucap Sania tersenyum manja.


Mendengar ucapan Sania, Rafi dan para bocil lainnya langsung menepuk jidat mereka pelan. Sedangkan Bisma hanya bisa tersenyum menahan tawanya mendengar gombalan Sania. Walaupun masih bocil, akan tetapi Sania sangat ahli dan rayu merayu Bisma. Bahkan Bisma kadang-kadang merasa ger dengan rayuan maut Sania yang begitu mematikan.

__ADS_1


"Kenapa sih, kalian para bocil perempuan mengikuti gen papa kalian," ucap Rafi mengelengkan kepalanya pelan melihat para bocil itu.


"Namanya juga kami putri papa kami. Jadi kami mengikuti jejak papalah! Beda jika kami anak papa, tapi kami mengikuti jejak Kak Bisma. Itu baru aneh! ada yang harus di curigai," ucap Aulya dengan polosnya sehingga membuat Bisma dan Rafi langsung kehabisan kata-kata.


"Sudah! terserah kalian saja. Paman mau lanjut kerja," ucap Rafi memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


Para bocil hanya menurut patuh sambil menatap kepergian Rafi. Sedangkan Bisma hanya mampu mengusap wajahnya kasar menghadapi para bocil yang pintar itu. Dia harus menyiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum berurusan dengan bocil itu. Dia tau jika dia harus berusaha menahan emosinya. Karena dia akan pusing tujuh keliling menghadapi tingkah para bocil itu.


"Kalian duduklah terlebih dulu. Paman harus menyelesaikan pekerjaan paman dulu," ucap Dirga kembali fokus ke layar laptopnya.


"Apa kakak mau aku bantu?" Tanya Sania melingkarkan tangannya di lengan Bisma.


"Tidak perlu! kau duduklah dengan yang lainnya. Biar kakak selesaikan pekerjaan kakak terlebih dulu. Agar kita bisa pergi ke lokasi secepatnya," ucap Bisma tersenyum.


Melihat senyuman mengoda dari Bisma, Sania langsung meronta-ronta penuh kebahagiaan. Dia langsung terkejeh kegirangan sambil menatap pesona Bisma yang membuatnya menjadi hilang akal.


"Kakak Bisma sangat tampan. Aku yakin jika Kak Bisma nikah denganku, Kak Bisma akan memiliki keturunan yang imut-imut," ucap Sania tersenyum membayangkan masa depannya dengan Bisma.


"Sania! kau jangan ganggu Kak Bisma terus. Nanti kita gak bisa pergi mencari Tante Rania,' ucap para bocil menatap kesal Sania.


" He.. he... ia! aku akan duduk. Kak Bisma bekerja yang rajin ya," ucap Sania memainkan matanya lalu duduk bergabung dengan para bocil.

__ADS_1


Melihat tingkah Sania, Bisma hanya mampu tersenyum sambil mengelengkan kepalanya pelan. Bagaimanapun caranya untuk menghindari dari Sania, akan tetapi Sania tetap punya cara agar bisa dekat-dekat dengannya.


Bersambung.......


__ADS_2