
"Selamat datang Tuan Wijaya," ucap Bima menyambut kedatangan rekan bisnisnya yang datang bersama anak dan istrinya.
"Selamat atas pernikahan putra anda, Tuan Bima," ucap Wijaya memberi selamat kepada Bima.
"Oh ya, kenalkan ini putra saja Aldan," ucap Wijaya memperkenalkan Aldan kepada Bima.
Aldan langsung menyalim Bima dengan sangat sopan. Melihat itu, Bima hanya tersenyum sambil menatap bocah yang telah remaja itu. Walaupun masih remaja, akan tetapi dia terlihat sangat tampan dan juga berwibawa.
"Ayo silahkan masuk, Tuan. Di sana juga ada Tuan Rayyan dengan yang lainnya," ucap Bima mengajak Wijaya untuk masuk.
Mereka langsung masuk dan duduk bergabung dengan tamu yang lainnya. Melihat Rayyan dan yang lainnya juga sedang berkumpul di pesta itu, Wijaya langsung mengajak putranya untuk bergabung. Sebagai seorang pembisnis dia harus memperkenalkan putra kepada pembisnis lainnya. Agar kelak putranya bisa menjalankan perusahaannya dengan baik.
"Selamat malam, Tuan Rayyan," ucap Wijaya menyapa Rayyan dan para papa muda yang lainnya.
"Selamat malam, Tuan. Ayo duduk," ucap Rayyan menyambut Wijaya dan putranya dengan baik.
"Kenalkan ini putra saja Aldan. Aldan salim semua paman ini," ucap Wijaya.
Aldan langsung tersenyum mengangguk lalu menyalim Rayyan dan yang lainnya. Wildan yang melihat kehadiran Wijaya dan putranya memilih untuk diam saja. Dia langsung menundukkan kepalanya merasa malu jika mengingat kelakuan istrinya saat terakhir kali bertemu dengan Aldan. Melihat sikap Wildan, Wijaya hanya tersenyum kecil.
"Di mana istrimu? apa dia tidak ikut?" tanya Wijaya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Dia sedang berkumpul dengan Zhia dan yang lainnya, Tuan," ucap Wildan tersenyum kecil.
"Kau mengenal istrinya?" tanya Rafi menatap Wildan binggung.
"Aku sudah bisa menebak. Pasti istrinya pernah bertengkar denganmu 'kan?" tebak Kinan mengelengkan kepalanya pelan mengingat kelakuan Shinta yang selalu bertengkar di luar sana.
"Bukan denganku. Tapi dengan putraku," ucap Wijaya tersenyum kecil.
Mendengar itu, para papa muda itu langsung terkekeh kecil. Mereka tidak bisa membayany bagaimana Shinta bisa bertengkar dengan anak remaja seperti Aldan. Shinta memang tidak pernah berubah, dia selalu saja membuat masalah dan mau menang sendiri.
Di saat para papa muda itu sibuk bercanda ria bersama. Para bocil juga sibuk dengan urusannya sendiri. Sania melihat Bisma yang sedang bergabung dengan para papa muda langsung mencoba mendekatinya. Sania memang tidak mau melewatkan kesempatan sedikit saja untuk menempel dengan Bisma.
"Mau menemui calon suamiku," ucap Sania dengan polosnya.
"Aku ikut!" ucap Yuki mengikuti Sania.
"Kak Bisma!" ucap Sania langsung naik ke pangkuan Bisma.
"Sania!" ucap Kinan melihat kelakuan putrinya itu.
"Papa apaan sih? ikut campur saja urusan anak kecil," ucap Sania ketus dan kembali merayu Bisma.
__ADS_1
"Ha.. ha..! Kau jangan galak-galak seperti itu. Nanti setelah Sania besar kau nikahkan saja mereka," ucap Wildan terkekeh melihat kelakuan Sania.
"Diam kau!" ucap Kinan ketus.
Yuki yang berada di samping Sania, langsung menatap ke arah Aldan yang sedang duduk dengan para papa muda itu. Dia berlahan mengucek matanya pelan tidak percaya apa yang dia lihat. Dia melihat pangeran tampannya duduk dengan santainya di depannya. Apalagi melihat penampilan Aldan yang mengunakan setelan jas rapi. Sehingga membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa saja.
"Arghh! kakak tampan ku. Ternyata kakak tampan ku ada di sini," ucap Yuki berteriak histeris lalu berlari ke arah Aldan.
Melihat kelakuan putrinya itu Wildan langsung memukul jidatnya pelan. Baru saja dia menggoda Kinan, akan tetapi kini putrinya juga sama saja. Melihat kelakuan Yuki, para papa muda itu hanya bisa mengelengkan kepala mereka pelan. Ternyata semua putri mereka sama saja, sama-sama tidak bisa melihat pria tampan. Memang buah tidak pernah jatuh dari pohonnya. Begitu juga dengan para putri mereka yang mengikuti jejak dan kelakuan para papa mereka.
Melihat Yuki yang langsung menghampirinya, Aldan hanya tersenyum kecil. Dia menatap Yuki dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Memang sejak pertemuan mereka Aldan sudah di buat tersenyum dengan kelakuan Yuki. Hingga akhirnya mereka kembali di pertemukan di acara pesta pernikahan ini. Apakah ini adalah petanda jika Tuan Wilda akan mendapatkan menantu sebentar lagi? lalu bagay reaksi Shinta jika mengetahui jika calon menantunya adalah musuh besarnya? hanya mereka dan authorlah yang tau.
Yuki langsung duduk di samping Aldan sambil terus menatap kagum ketampanan Aldan. Aldan yang melihat itu malah mengajak Yuki berbincang-bincang kecil. Bahkan di sela-sela pembicaraan mereka, terlihat Yuki yang menunduk malu sambil menyembunyikan wajah memerahnya.
Melihat tingkah Yuki yang sangat mengemaskan Aldan hanya mampu menatap gemas wajah chubby Yuki. Ingin sekali rasanya dia mencubit wajah Yuki yang begitu mengemaskan. Akan tetapi dia masih sayang dengan nyawanya, sehingga dia memilih untuk menahan rasa gemasnya itu.
"Sepertinya kita akan menjadi besan Tuan Wildan," ucap Wijaya terkekeh kecil menatap kebersamaan Yuki dan Aldan.
"Ha... ha... Di sini ternyata ada dua calon mantu kita. Apa sebentar lagi kita akan kembali berpesta?" ucap Rayyan terkekeh geli, sehingga membuat kedua lemparan tatapan tajam langsung muncul ke arahnya.
Bersambung.....
__ADS_1