Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 62


__ADS_3

Mendengar menantu mereka mengalami kecelakaan, Bima dan istrinya langsung bergegas menuju rumah sakit. Bu Bima terus saja mengoceh kesal setelah mengetahui jika Arin kecelakaan karena ingin menyelamatkan Cheesy dan Rania. Dia terus saja mencari maki Rania bahkan berkata-kata yang tidak-tidak tentang Rania. Ntah ada dendam apa Bu Bima kepada Rania, sehingga dia sangat membenci Rania walaupun sekarang Rania dan Dirga sudah berpisah karenanya.


"Memang ya, wanita ular itu memang tidak tau diri. Pasti dia bersandiwara di depan menantu kita. Menantu kita juga, ngapain mau nyelamatin dia. Biar saja dia mati di tabrak mobil itu," oceh Bu Bima kesal.


"Bagaimana nasib cucu kita, Pa. Mama harap cucu dan menantu kita baik-baik saja," ucap Bu Bima menitikkan air matanya.


Jujur saja, dia saat ini sangat menghawatirkan keadaan Arin. Terlebih lagi Arin yang sedang hamil muda, membuatnya semakin kwatir jika terjadi sesuatu kepada Arin dan kandungannya. Bima yang sedang mengemudj hanya mampu diam mendengarkan ocehan istrinya. Walaupun dia kesal jika istrinya terus menghina Rania, akan tetapi dia memilih untuk diam dan terus pokus mengemudikan mobilnya.


Setelah samapai di rumaha sakit, Bima dan istrinya langsung berlari menuju ruang perawatan Arin. Mereka terus berjalan sambil berdoa agar menantu dan cucu mereka baik-baik saja. Hingga akhirnya mereka melihat Dirga sedang duduk di depan ruang UGD bersama Rayyan dan Ardiyan. Mereka dapat melihat pakaian Dirga yang di penuhi oleh noda darah Arin. Sehingga membuat perasaan mereka semakin cemas.


"Dirga! bagaimana keadaan Arin? bagaiamana keadaan menantu dan cucu mama?" tanya Bu Bima langsung mengujani Dirga dengan berbagai pertanyaan.


"Arin sedang di rawat di dalam, Ma! dokter sedang menanganinya," ucap Dirga memeluk sang mama sambil menitikkan air matanya.


"Kenapa? kenapa ini bisa terjadi? kenapa Arin sebodoh itu? seharusnya dia biarkan saja wanita ular itu mati di tabrak mobil itu. Tidak seharusnya dia menolongnya dan mempertaruhkan nyawanya dan juga kandungannya," ucap Bu Bima terus menyalahkan Rania sehingga membuat Rayyan yang mendengarnya menjadi geram sendiri.


Ingin sekali Rayyan menyompel mulut julid Bu Bima mengunakan tong sampah. Namun, dia berusaha tenang dan menahan emosinya. Dia harus tenang karena bagaimanapun sekarang mereka masih menunggu berita tentang keadaan Arin, Rania dan Cheesy.


"Ma! mama tidak boleh bicara seperti itu. Lebih baik kita berdoa saja agar mereka semua tidak apa-apa," ucap Dirga membuang napasnya kasar.

__ADS_1


"Di saat genting seperti ini, kau masih bisa memikirkan wanita itu. Lihat, Ga! istrimu sedang berjuang di dalam sana. Mama tidak tau bagaiamana keadaannya saat ini.Cucu mama," ucap Bu Bima menitikkan air matanya.


Tubuhnya terasa lemas jika membayangkan keadaan Arin di dalam sana. Dia terus berdoa agar menantu dan juga cucunya baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu pada menantu dan cucunya, dia bersumpah akan menghancurkan hidup Rania. Dia tidak akan tinggal diam jika sampai menantu dan cucunya kenapa-napa hanya karena Rania.


"Lebih baik mama tenang dulu ya. Ayo kita duduk," ucap Bima menghampiri istrinya dan duduk di kursi tunggu.


"Maaf! keluarga Cheesy," ucap seorang surter menghampiri mereka.


"Bagaiamana keadaan keponakan saya, Sus?" tanya Rayyan langsung menghampiri suster itu.


"Dokter Randy di mana?" tanya Dokter spesialis anak yang menangani Cheesy.


"Baiklah! Kedaan Cheesy baik-baik saja. Hanya tangannya sedikit terkilir karena mendapatkan sebuah benturan. Sekarang dia sudah di pindahkan ke ruang rawat," jelas dokter itu.


"Apa kami bisa melihatnya, Dok?" tanya Rayyan sedikit merasa tenang.


"Papa! di mana adik Cheesy dan Tante Rania? apa dia baik-baik saja?" ucap Aulya langsung berlari mendekati Rayyan.


Mendengar kabar kecelakaan Rania dan Cheesy, Clara, Zhia, Rissa, Nur dan Shinta langsung berbondong-bondong datang ke rumah sakit. Bahkan seluruh bocil juga meminta ikut karena ingin melihat keadaan Cheesy dan Rania.

__ADS_1


"Adik Cheesy baik-baik saja. Dia sekarang sudah berada di ruang rawat. Kalau Tante," ucap Rayyan tau harus mengatakan apa.


"Tante kalian yang jahat itu pasti akan mati di dalam sana. Dia akan mendapatkan karna karena telah membuat menantu dan cucuku terluka," ucap Bu Bima dengan pantang sambil memancarkan rasa kebencian yang sangat besar kepada Rania.


"Ma! mama tidak sepantasnya bicara seperti itu. Ini semua kecelakaan, Ma!" ucap Dirga kesal mendengar ucapan mamanya itu.


"Kecelakaan apanya? pasti wanita ****** itu bersandiwara di depan Arin. Agar Arin membantunya dan mempertaruhkan nyawanya untuknya," ucap Bu Bima kesal.


Mendengar ucapan Bu Bima, Aulya langsung berjalan menghampirinya. Di ikuti oleh Sania, Yuki dan Dilla di belakangnya. Mereka menatap Bu Bima dengan tatapan tidak suka karena bicara yang tidak-tidak tentang Rania.


"Nek! apa nenek dulu pernah mengaji? karena kata guru ngaji ku tidak boleh berkata yang tidak-tidak tentang orang lain. Apalagi berdoa yang jahat, bisa-bisa doa nenek akan kembali kepada nenek sendiri," ucap Sania dengan polosnya.


"Ia, Nek! adi enek tok ayat ali. Sehalusnya enek ica aga ucapan enek. Udah ua api ucapan yang ndak opan," ucap Fiona menatap sinis Bu Bima.


"Ingat ya, Nek! jika nenek menduga yang buruk tentang seseorang. Maka aku yakin jika itu adalah cerminan dari nenek sendiri. Nenek kira semua orang itu sama seperti nenek. Jika nenek tidak mengenal bagaiama tante kami lebih baik nenek diam saja. Udah tua tapi cara bicaranya melebihi anak kecil," ucap Yuki dengan pedasnya.


"Apa yang di katakan teman-temanku benar, Nek. Lebih baik sekarang nenek bertobat dan ubah cara bicara nenek. Bertobatlah sebelum malaikat maut datang menghampiri nenek," ucap Aulya kesal sambil menatap tidak suka kepada Bu Bima.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2