
Setelah perceraiannya dengan Arin, Dirga nampak lebih banyak murung. Bahkan dia lebih menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Bahkan dia juga jarang berinteraksi dengan dengan orang-orang sekitarnya. Sehingga membuatnya lebih tertutup bahkan nampak lebih dingin dari yang sebelumnya.
Seperti biasa, jika jam kantor telah habis. Maka dia akan menghabiskan waktunya di ruang kerjanya. Dia menatap layar laptopnya sambil terus menggerakkan tangannya untuk mengotak-atik laptopnya. Setelah kepergian Arin dia lebih merasa kesepian bahkan hidupnya terasa kosong dan hampa.
Bima yang melihat perubahan putranya itu, hanya mampu menatapnya dengan penuh rasa iba. Terlebih lagi dengan keadaan istrinya saat ini. Bu Bima terus saja mengurung dirinya di dalam kamarnya, sambil menangis. Dia menyesal telah memaksakan kehendaknya kepada Dirga. Karena ulahnya Arin menjadi menderita dan akhirnya memilih untuk berpisah dengan Dirga.
"Nak! hari sudah malam. Kau istirahat ya," ucap Bima menatap Dirga yang masih sibuk menatap layar leptopnya.
Bima dapat melihat tubuh Dirga yang semakin kurus tidak terurus. Bahkan matanya terlihat cekung dan ada flek hitam di lingkaran matanya. Dari sana Bima bisa menebak jika Dirga terlalu menyibukkan dirinya untuk menghilangkan pikirannya dari Arin. Bima tau, jika Dirga telah menyesal akan semua perlakukannya kepada Arin. Namun, sangat di sayangkan penyesalannya datang begitu terlambat. Bahkan dia tidak tau apakah dia masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
"Sebentar lagi, Pa!" ucap Dirga sambil terus menatap layar leptopnya.
__ADS_1
"Ga! sampai kapan kau seperti ini? lihat tubuhmu sudah sangat lemah. Kau itu bukan robot, Nak. Kau juga butuh istirahat," ucap Bima membuang napasnya kesal melihat tingkah putranya itu.
"Rania tadi menghubungi papa. Katanya kau tidak mengangkat teleponnya sejak tadi," ucap Bima kembali sehingga Dirga akhirnya menghentikan kegiatannya.
Dia menatap ponselnya yang dia letakkan di dekatnya. Dia memang sengaja mensenyapkan ponselnya agar tidak ada yang menganggunya. Dia meraih ponsel itu dan dia melihat begitu banyak pangilan dari Rania yang dia abaikan.
"Dia mengatakan apa?" tanya Dirga memijit kepalanya pelan.
"Dia menanyakan soal perceraianmu dengan Arin. Dia mengatakan jika dia ingin bicara denganmu," ucap Bima.
"Baik! papa akan menyampaikannya. Kau istirahat dulu ya. Papa tidak mau jika sampai kau jatuh sakit," ucap Bima memukul pelan pundak Dirga.
__ADS_1
Dirga hanya mengangguk patuh lalu bangkit dari duduknya. Dia berlahan berjalan menuju kamarnya. Kamar yang dulunya selalu di tempati Arin, bahkan kamar yang menjadi saksi setiap air mata Arin yang menetea karena ulahnya. Dirga berlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Dia tidak mengingat kapan terakhir kali dia tidur di atas ranjang ini bersama Arin. Karena dia selalu membiarkan Arin tidur seorang diri. Sedangkan dirinya selalu menghabiskan waktunya di luaran sana tanpa memperdulikan Arin yang terus menunggunya.
"Kenapa kau meninggalkan? kenapa kau meninggalkanku, setelah aku menyadari jika aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau di mana sekarang? aku merindukanmu," ucap Dirga menatap foto pernikahannya dengan Arin yang masih terpajang di dinding kamarnya.
Dirga mencoba memejamkan matanya. Dia berharap agar dia bisa bertemu lagi dengan Arin walaupun hanya dalam mimpi. Setelah dia menyadari rasa cintanya kepada Arin, ternyata Dirga mencari keberadaan Arin secara diam-diam.
Namun, sampai sekarang dia belum menemukan hal apapun. Setelah keluar dari rumah sakit, Arin sengaja memutus semua kontaknya dengan Dirga dan keluarganya. Bahkan kedua orang tua Arin juga pergi tanpa jejak bersama Arin. Sehingga membuat Dirga menjadi semakin kesulitan untuk mencari keberadaan Arin.
Dia tau jika dia salah, akan tetapi apa salahnya jika dia di berikan kesempatan kedua. Jujur dia ingin memperbaiki semua kesalahannya kepada Arin. Andai saja dia bisa memutar waktu, pasti dia tidak akan membiarkan Arin pergi dari kehidupannya.
__ADS_1
Rasa rindu dan penyesalan akhirnya menyelimuti pikiran Dirga. Dia menjalani hari-harinya dengan perasaan hampa dan terus berharap. Dia berharap agar dia bisa di pertemukan kembali dengan Arin. Dia ingin memperbaiki semua kesalahannya, dan akan mengobati setiap luka yang dia tuliskan di hati Arin. Hanya saja, apakah dia masih memiliki kesempatan akan itu?
Bersambung......