Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 86


__ADS_3

Randy duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup dengan rapat. Sudah begitu lama Rania berasa di dalam kamar mandi itu, akan tetapi kenapa dia belum keluar juga. Berbagai pertanyaan langsung melayang di pikiran Randy. Jujur saja dia sangat menghawatirkan keadaan istrinya itu.


"Sayang! apa masih lama?" tanya Randy.


"Tidak! tunggu sebentar lagi," ucap Rania gugup.


Mendengar suara gugup istrinya, Randy hanya mengerutkan keningnya binggung. Sedangkan Rania masih diam mematung di depan cermin. Dia menatap pantulan dirinya yang hanya mengunakan lingrie tipis pemberian Clara. Walaupun sudah melakukannya berapa kali dengan Randy, akan tetapi dia tetap merasa gugup jika harus mengunakan lingrie itu di depannya.


"Sayang! kau sedang apa?" tanya Randy mengetuk pintu.


"Ia, Sayang. Aku sudah siap kok," ucap Rania gugup lalu memberanikan diri untuk membuka pintu.


Melihat penampilan Rania, Randy langsung membulatkan matanya terkejut. Dia menatap tubuh indah Rania yang masih terlihat karena pakaiannya yang tembus pandang. Randy langsung mendekati Rania sambil tersenyum kecil. Rania yang gugup mencoba untuk mengontrol dirinya. Dia menatap Randy sambil tersenyum dan berusaha menepis rasa kegugupan nya.


"Terima kasih kasih, Sayang," bisik Randy di telinga Rania lalu membawanya ke dalam gendongannya.


Randy membawa tubuh Rania ke atas ranjang yang masih di taburi taburan bunga mawar. Menyentuh seluruh tubuh Rania dengan lembut tanpa ketingalan sedikitpun. Rania hanya diam dan meresapi setiap sentuhan yang di berikan Randy. Sebagai seorang istri, dia berusaha melakukan yang terbaik agar bisa memuaskan suaminya.


Hingga akhirnya mereka larut dalam permainan panas yang menguras seluruh tenanga mereka. Terlebih lagi Cheesy yang di jaga oleh Clara, membuat mereka bebas melakukan hal itu sepuasnya. Randy melakukannya berulang kali hingga membuat Rania menjadi kewalahan sendiri. Setelah berpuasa sekian lama membuat gairah Randy menjadi tidak terkendali. Memang mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya. Namun, mereka tidak sebebas ini karena takut Cheesy yang terbangun.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan di kamar lain, Fiona dan para bocil sibuk bermain dengan cheesy. Walaupun hari sudah larut malam, akan tetapi tidak membuat mereka lelah dan beristirahat. Mereka terus aktif berlarian di kamar sambil bercanda gurau bersama. Terlebih lagi mata Cheesy yang masih cerah membuat mereka semakin asik bermain.


"Lya, aku penasaran. Malam pertama itu apa sih? kenapa tadi papa dan yang lainnya mengatakan ini malam pertama Tante Rania dan Paman Randy?" tanya Sania dengan polosnya.


"Againa ika ita iat aj! ita elgi e amal meleka," bisik Fiona pelan agar Gibran dan Erlan tidak mendengarnya.


"Aku setuju! kita lihat aja yuk," ucap Aulya semangat.


"Nanti jika mama dan yang lainnya tau pasti kita kena marah," ucap Yuki.


"Itu 'kan kalau mereka tau. Makanya kita harus hati-hati. Jika mereka tidak tau, pasti mereka tidak marah," ucap Aulya dengan bijak.


"Kau benar juga. Jika mereka tidak tau mereka pasti tidak akan marah." ucap Yuki terpengaruh.


"Adik Ecy againa?" tanya Fiona melihat Cheesy yang sendiri.


"Kak Gibran! tolong jaga Cheesy sebentar ya," ucap Sania penuh permohonan.


"Kalian mau ke mana? jangan bilang mau menganggu Paman Randy," ucap Gibran menatap Aulya dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak! siapa bilang," ucap Aulya berusaha meyakinkan.

__ADS_1


"Ama! Apa!" ucap Cheesy terbata-bata mendengar nama Mama dan Papanya di sebut.


"Itu Cheesy yang bilang," ucap Gibran.


"Kakak ini! mana ada ya, orang Cheesy cuman panggil mama dan papa," ucap Aulya memayunkan bibirnya kesal.


Meyakinkan Gibran adalah tugas yang paling sulit untuk mereka. Selain Gibran yang tertua di antara mereka, Gibran juga mengerti watak jahil para adik-adiknya itu. Jika dia membiarkan Aulya dan yang lainnya pergi dan membuat onar. Sudah di pastikan dia juga akan ikut kena hukum karena ulah para adik-adiknya itu.


"Iona au ipis lo, Kak! dah gak ahan ni," ucap Fiona merapatkan kakinya sambil memegang miliknya seperti orang yang sedang sesak pipis.


"Bohong! kalau mau pipis itu ada kamar mandi. Ngapain kalian ke luar?" tanya Erlan ikut membantu Gibran.


"Benar! kalau mau pipis ke kamar mandi sana. Kami ngantuk mau tidur," ucap Gibran kembali membaringkan tubuhnya.


"Ada apa ini?" tanya Clara dan Zhia yang ingin melihat para bocil itu.


"Ndak ada! ami elah au idul," ucap Fiona ketus lalu ikut bergabung dengan Gibran dan Erlan.


Mendengar ucapan ketus putrinya, Clara langsung mengerutkan keningnya binggung dan menatap Aulya, Sania, dan Yuki yang masih duduk di samping Cheesy.


"Kami juga lelah. Kami mau tidur, tante tidurkan Cheesy ya," ucap ketiganya serentak sebelum di lempari pertanyaan-pertanyaan yang mematikan.

__ADS_1


"Pasti rencana mereka untuk membuat ulah gagal," tebak Zhia yang memang benar seratus persen.


Bersambung.....


__ADS_2