Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 36


__ADS_3

Arin menghentikan mobilnya di depan apartemen Mila. Dia melihat mobil Mila sudah terparkir di depan apartemennya. Melihat itu dia yakin jika Mila sedang berada di apartemennya.


"Mobil Mila ada di sini. Pasti dia ada di dalam," ucap Arin melangkahkan kakinya menuju apartemen Mila.


Sesampainya di depan apartemen Mila, Arin langsung menekan bel yang ada di samping pintu. Tidak menunggu lama Mila langsung membuka pintu untuknya.


"Hai, Rin! ayo masuk," ucap Mila langsung menyambut hangat kedatangan Arin.


"Kau baru pulang?" tanya Arin langsung masuk dan duduk di sofa.


"Ia! aku baru saja pulang. Kau mau minum apa?"


"Apa saja,"


"Baiklah," ucap Mila tersenyum lalu berjalan ke dapur.


Sepeningalan Mila, Arin menatap semua foto yang terpajang di ruang tamu Mila. Dia melihat foto kebersamaannya dengan Mila yang di penuhi kebahagiaan. Dia merasa bahagia karena Mila masih menyimpan semua foto kenangan mereka.


"Kau masih ingat masa-masa itu?" tanya Mila tersenyum sambil meletakkan mampan yang berisi dua gelas teh di atas meja.


"Masih! aku masih sangat mengingatnya. Ini adalah foto kebersamaan kita sebelum aku pergi ke luar negeri,"

__ADS_1


"Dan sekarang akhirnya kita bisa bersama kembali. Walaupun kita tidak bisa selalu bersama seperti dulu. Tapi setidaknya kita masih bisa meluangkan waktu kita sedikit," ucap Mila tersenyum sambil merangkul Arin.


Mendengar ucapan Mila, Arin hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang Mila.


"Tapi tunggu dulu. Ada apa kau datang malam-malam seperti ini. Lalu tadi siang kau juga pergi secara buru-buru. Apa kau sedang ada masalah?" tanya Mila mengingat sikap Arin di restoran tadi siang.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Arin menatap Mila dengan serius.


"Bicara denganku?" tanya Mila sambil mengerutkan keningnya binggung.


"Ia! aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Ini tentang masa depanmu,"


"Lebih baik kita duduk. Lalu kau bicara denganku dengan jelas. Tapi kau harus tersenyum dulu, jangan terlalu tegang seperti itu," ucap Mila tersenyum melihat wajah Arin yang sangat serius.


"Mil! aku serius. Aku ingin bicara serius denganmu," ucap Arin membuang napasnya kasar.


"Baiklah! kau mau bicara apa? aku akan mendengarkanmu," ucap Mila terkekeh kecil melihat ekspresi serius Arin.


"Ini soal kecelakaan Tika," ucap Arin to the point.


Mendengar ucapan Arin, ekspresi wajah Mila langsung berubah. Dia menatap Arin dengan tajam dengan raut wajah yang menegang.

__ADS_1


"Apa kecelakaan Tika ada hubungannya denganmu?" tanya Arin kembali sambil menatap lekat Mila.


Bukannya menjawab Mila hanya tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya. Dia tersenyum dan seperti membayangkan sesuatu. Melihat sikap Mila, Arin hanya mengerutkan keningnya binggung sambil menatap aneh sikap Mila.


"Ia! aku yang telah merencanakan kecelakaan Tika. Namun, aku tidak menyangka jika ternyata rencanaku berhasil dengan begitu mudah. Bahkan tanpa ada yang sadar jika kecelakaan Tika adalah bekas campur tanganku," ucap Mila tersenyum puas tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Mendengar ucapan Mila, Arin langsung mengelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Mila bisa setega itu. Bahkan tidak ada sedikitpun ada penyesalan yang terpancar di wajah Mila. Bahkan dia terlihat sangat bahagia atas kematian Tika.


"Kenapa kau setega itu Mil? padahal waktu itu Tika sedang hamil besar. Apa tidak ada sedikitpun belas kasihanmu kepada bayi yang ada di dalam kandungnya?" tanya Arin menatap Mila dengan tatapan tidak percaya.


"Aku akan menyingkirkan semua orang yang menghalangiku. Aku tidak perduli siapa orangnya. Baik itu masih dalam kandungan maupun yang sudah tua. Bahkan itu orang terdekat ku sekalipun," ucap Mila menatap tajam Arin.


"Apa kau sudah gila, Mil?"


"Ya! aku sudah gila. Aku gila karena dia. Karena dia selalu menolak ku. Jadi bukan salahku jika aku menyingkirkan istrinya. Jika aku tidak bisa memiliki Randy. Maka, aku juga tidak akan membiarkan orang lain untuk memilikinya,"


"Apa kau juga akan menyakiti Rania?"


"Tentu saja! aku juga akan menyingkirkannya. Jika perlu aku akan mengirimnya untuk bertemu dengan sahabatnya itu," ucap Mila tersenyum sinis.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2