Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 41


__ADS_3

"Apakah ini rumahnya?" tanya Rayyan menunjuk ke salah satu perumahan yang ada di depannya.


"Ya! dia tinggal di perumahan itu. Lebih baik kita turun dan melihatnya saja," ucap Rafi turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah montir yang telah menyabotase mobil Tika.


"Ini motornya. Pasti dia di dalam," ucap Rayyan melihat sepeda motor yang terparkir di depan rumah itu.


"Ternyata tugas kita sangat mudah. Lihat, rumahnya tidak di kunci," ucap Rafi langsung masuk ke rumah itu.


"Tunggu aku!"


"Sstt! kau bisa diam tidak?" bisik Rafi penuh penekanan.


"Upss! maaf," ucap Rayyan tersenyum kecil lalu mengikuti Rafi.


Tiba-tiba mereka mendengar suara yang sangat menganggu pendengaran mereka. Berlahan mereka berjalan menuju sumber suara itu. Dimana suara aneh itu berasal dari kamar yang ada di rumah itu.


"Raf! kau yakin?" tanya Rayyan melihat Rafi yang ingin masuk ke dalam kamar itu.


"Tidak! yakinlah. Apa kau mau dia terus bersenang-senang di dalam. Sedangkan Tika belum tenang di sana, karena pembunuhnya belum tertangkap juga," ucap Rafi kesal.


"Baiklah! setelah itu kita langsung pulang ya," ucap Rayyan menelan ludahnya kasar.


"Kau tenang saja. Aku juga mau langsung pulang. Milikku juga sudah bangun," ucap Rafi terkekeh kecil sambil menunjuk ke celananya yang mulai menonjol.


"Ayo cepatlah!" ucap Rayyan langsung membuka pintu.


Saat membuka pintu, bukan hanya mata mereka yang ternoda. Namun, pendengaran mereka juga rusak karena mendengar ******* kedua anak muda yang sedang menjalin asmara.


"Siapa kalian?" tanya pria itu langsung mengeluarkan miliknya dari sarangnya.


"Apa kau sudah selesai bersenang-senangnya? jika sudah cepat kenakan pakaianmu. Atau kami akan menyeretmu dengan keadaan seperti itu," ucap Rayyan dingin sambil mengeluarkan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Sayang! siapa mereka?" tanya wanita yang sedang berkencang buta dengan montir itu.


Wanita itu terlihat ketakutan sambil bersembunyi di belakang montir itu. Rayyan dapat melihat tubuh wanita itu yang putih mulus. Walaupun wanita itu telah menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Namun, Rayyan dan Rafi masih dapat melihat tangan dan batu wanita itu.


"Jaga matamu! ingat tujuan kita," ucap Rafi melihat tatapan Rayyan.


"Kau kira aku pria apaan. Kalau aku mau aku bisa langsung menemui istriku. Aku yakin istriku jauh lebih nikmat dari dia," ucap Rayyan sambil membuang napasnya kasar.


"Hai! kau cepatlah! apa kau mau kami menyeretmu keluar seperti itu?" tanya Rafi meninggikan suaranya ketika melihat montir itu hanya diam saja.


"Siapa kalian! apa yang kalian mau dariku?" tanya Montir itu menatap Rayyan dan Rafi sambil terus berusaha melindungi kekasihnya.


"Aku Rayyan Ardinata dan dia Rafi Alexander. Kami adalah sahabat dokter Randy, suami dari wanita yang telah kau celakai enam bulan lalu," ucap Rayyan tersenyum sinis.


"Ra... Rayyan!" ucap montir itu gugup sambil mengusap wajahnya kasar.


"Sekarang cepat kenakan pakaianmu!" ucap Rafi melemparkan pakaian montir itu yang tergeletak di lantai.


"Ba.. baik, Tuan!" ucap Montir itu menunduk ketakutan.


Bughh...


Arghh....


Teriak kekasih montir itu, ketika Rayyan terjatuh dan menarik selimut yang menutupi tubuh wanita itu. Rafi dapat melihat tubuh polos wanita itu dengan sangat jelas.


"Wau! montok," ucap Rafi membulatkan matanya.


"Montok kepalamu! lihat dia sudah kabur," ucap Rayyan kesal sambil berusaha untuk berdiri.


"Oh, ia! aku akan mengejarnya," ucap Rafi langsung berlari mengejar montir itu.

__ADS_1


"Montok! tapi sayang, lebih montok istriku," ucap Rayyan melihat tubuh polos wanita itu lalu melemparkan selimut yang ada di tangannya.


"Ternyata bukan hanya pembunuh. Tapi ternyata kekasihmu itu juga tidak bertanggung jawab," ucap Rayyan tersenyum sinis lalu menyusul Rafi.


Mendengar ucapan Rayyan, wanita itu hanya terdiam. Dia mengepalkan tangannya geram karena montir itu meninggalkannya seorang diri. Seharusnya montir itu melindunginya, bukan malah kabur dan menyelamatkan dirinya sendiri.


Bughhh....


Rafi melempar balok yang terletak di dekatnya dan mengenai punggung montir itu. Montir itu langsung terjatuh tersungkur di tanah. Rafi dengan cepat menangkap montir dan tidak akan membiarkannya kabur lagi.


"Lepaskan aku!" teriak montir itu berusaha memberontak.


Bughh....


Satu tinju langsung melayang pada wajah montir itu. Karena kekesalan dan juga miliknya yang terus berdiri, membuat emosi Rafi semakin memburu.


"Kau jangan cari masalah. Jika kau masih ingin hidup, jangan coba-coba untuk kabur lagi," ucap Rafi geram sambil melintir tangan montir itu.


"Lebih baik kau bawa dia ke mobil. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Rayyan langsung masuk kedalam mobil.


"Cepat berdiri," ucap Rafi kesal sambil menendang bokong pria itu.


"Gara-gara permainanmu milikku jadi berdiri. Mudah-mudahan para bocil sedang tidur siang," ucap Rafi mengusap wajahnya kasar.


"Ray! kau segera hubungi Kinan. Aku mau langsung pulang," ucap Rafi duduk di samping montir itu.


"Kau tenang saja! aku juga mau minta jatah malamku siang ini saja. Mudah-mudahan para bocil masih di sekolah," ucap Rayyan menelan ludahnya kasar.


"Ini semua karenamu! lihat saja kau harus membayarnya," ucap Rayyan menatap montir itu kesal.


"Kenapa karenaku? kalian saja yang datang tidak tepat waktu. Aku saja belum melakukan pelepasan," ucap montir itu membela diri.

__ADS_1


"Oh ia! ternyata milikku juga masih berdiri," ucap Rafi terkekeh kecil sambil melihat celana montir itu yang masih menonjol.


Bersambung....


__ADS_2