
Denis dan Arin pergi ke rumah sakit kota mengunakan mobil Denis. Denis terus melirik Arin yang duduk terdiam di sampingnya, sambil menatap ke arah kaca jendela mobil. Denis tau jika Arin sedang merindukan Dirga.
Cek kandungan di temani oleh suami tercinta adalah impian setiap ibu hamil. Namun, itu tidak akan mungkin terjadi untuk Arin. Mengharapkan Dirga menemaninya untuk memeriksa kandungannya tinggallah impian dan mimpi belaka. Walaupun itu karena keputusannya sendiri.
Ucapan dan sikap Dirga kepadanya membuat hati Arin sangat terluka. Sehingga dia akhirnya mengambilkan keputusan yang sangat besar. Bahkan dia tidak perduli jika keputusannya itu akan menyakiti dirinya sendiri. Denis mengerti dengan perasaan Arin saat ini. Apalagi mengetahui jika Arin sangat mencintai Dirga. Walaupun Dirga terus menyakitinya. Namun, Arin tetap menyimpan namanya dengan baik di dalam hatinya.
"Jika kau merindukannya kenapa kau tidak menghubunginya saja? Bahkan dia sedang berjuang mati-matian untuk bisa bertemu denganmu," ucap Denis mengerti dengan pikiran Arin.
"Menghubunginya tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada hanya akan membuat masalah semakin besar. Biarkan dia berjuang terlebih dulu, agar dia mengerti bagaimana sakitnya tidak di anggap," ucap Arin sambil menyeka air matanya.
"Dia memang sangat keterlaluan. Dia telah mengukir indah kebencian di hatimu,
" Aku tidak Membencinya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Karena aku tau kebahagiaannya bukan bersamaku,"
"Tapi kau membuatnya menderita bukan bahagia. Dia terus berjuang mencarimu,"
"Dia pantas untuk itu. Agar dia bisa menghargai apa yang telah menjadi miliknya. Karena jika dia sudah kehilangan, baru dia tau jika apa yang telah dia buang sangat berharga untuknya. Biarkan dia berpikir dan merenungi kesalahannya. Agar dia bisa bersikap dewasa dan bisa menentukan arah kehidupannya tanpa paksaan," ucap Arin tanpa menatap ke arah Denis.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arin, Denis hanya terdiam. Apa yang di katakan Arin memang benar. Dirga harus bisa berpikir secara dewasa. Dia harus menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa paksaan dari orang lain. Dia juga harus bisa menentukan kehidupannya di masa depan.
Jika dia memilih masa depannya bersama Arin dan juga calon bayi mereka. Maka, dia harus melupakan masa lalunya dan membuka lembaran baru bersama Arin. Tanpa di hantui kenangan di masa lalu. Begitu juga sebaliknya, jika dia memilih untuk terus berasa di dalam kenangan masa lalu, maka dia harus siap kehilangan Arin dan juga calon bayinya.
"Kita sudah sampai! ayo turun," ucap Denis menepikan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Melihat rumah sakit yang berdiri kokoh di depannya, Arin hanya bisa terdiam merenung. Sejak meninggalkan rumah sakit ini, baru kali ini dia menginjakkan kakinya lagi di sini. Rumah sakit inilah yang menjadi saksi kesedihannya saat menentukan pilihannya. Di mana dia pergi meninggalkan Dirga saat dinyatakan sembuh.
Bukan hanya saksi perpisahan, Akan tetapi rumah sakit ini juga yang menjadi saksi pertama kali Dirga mencemaskan keadaannya. Pertama kali Dirga menghawatirkan keadaannya. Bahkan pertama kali Dirga menghabiskan waktunya untuk merawatnya. Rasanya kaki Arin sangat berat untuk melangkahkan kakinya.
Semua kenangan dan juga kesedihannya, selama menghabiskan waktunya di rumah sakit itu membuat bebannya terasa semakin berat. Selama bersembunyi, Arin sengaja memeriksa kandungannya di rumah sakit praktek yang ada dekat tepat tinggalnya. Namun, karena kekurangan alat, Arin harus memeriksa kandungannya ke rumah sakit itu.
"Ayo, turun! apa kau mau teru berda di sini?" tanya Denis mengulurkan tangannya.
"Ia! sabar napa," ucap Arin ketus lalu menerima uluran tangan Denis.
Dia turun dengan sangat hati-hati. Melihat Arin yang kesulitan untuk turun, Denis langsung membantunya dengan mengendongnya. Melihat aksi Denis, Arin langsung menatapnya penuh rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" ucap Denis mengusap mata Arin yang terus menatapnya.
"Ternyata kau sangat berat," ucap Denis ketus lalu melingkarkan tangannya di pinggang Arin.
"Kau saja yang lemah!" ucap Arin ketus lalu melangkahkan kakinya berlahan.
"Hati-hati," ucap Denis terus memperhatikan Arin.
Denis dengan setia menemani Arin. Dia memperlakukan Arin dengan sangat baik. Bahkan setiap orang yang melihat mereka, mengira jika pasangan suami istri. Banyak yang menatap kagum perlakuan Denis yang sangat memperhatikan Arin. Melihat tatapan orang-orang itu, Denis hanya tersenyum sambil menatap Arin yang sedari tadi menunduk. Mereka duduk di kursi tunggu untuk menunggu nomor antrian secara pendampingan. Denis melihat antrian yang begitu panjang dan melihat Arin yang sepertinya telah kelelahan.
"Kau mau minum?" tanya Denis melihat Arin hanya diam.
"Em!" ucap Arin diam mengangguk.
"Kau tunggu di sini ya. Aku akan membeli minum dulu," ucap Dirga mencari kantin untuk membeli minum untuk Arin.
"Aduh! aaf ya ante. Iona ndak engaja," seorang gadis mungil yang sangat lucu tidak sengaja kesandung gamis Arin dan terjatuh.
__ADS_1
"Fiona!"
Bersambung......