Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 104


__ADS_3

Arin duduk terdiam di kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil memeluk boneka pemberian Dirga. Dia tidak tau jalan mana yang harus dia pilih. Apakah dia harus terus melangkah mengikuti tujuan awalnya, ataukah memilih berhenti dan membuka lembaran baru bersama Dirga. Memang dia masih mencintai Dirga, bahkan tidak ada sedikitpun rasa cintanya berkurang untuk Dirga.


Namun, mengingat semua kenangannya selam hidup bersama Dirga membuatnya takut salah memilih jalan. Jujur dia masih takut jika Dirga belum bisa menerima kehadirannya dan melupakan Rania. Arin butuh kepastian, dia butuh perjuangan. Dia ingin melihat apakah benar Dirga sudah menyadari kesalahannya, atau hanya menuruti keinginan mamanya saja.


Bu Nasri yang melihat Arin hanya bisa menatap haru putrinya itu. Dia tau jika Arin sedang berada di dalam dilema yang sangat besar. Dia berlahan mendekati Arin dan mencoba berbicara dengannya. Sebagai seorang ibu, Bu Nasri dapat melihat penyesalan yang besar dari mata Dirga saat menatap Arin. Dia berharap jika dia berbicara dengan Arin, Arin bisa menentukan pilihannya dengan baik.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Bu Nasri duduk di tepi rajang Arin lalu membelai lembut rambut panjang putrinya itu.


"Aku tidak tau harus melangkah ke mana, Ma. Aku tidak tau harus berhenti atau terus melangkah," ucap Arin menitikkan air matanya.


"Nak! jika mama boleh memberi saran, lebih baik kau maafkan Dirga. Kembalilah kepadanya. Mama bisa melihat penyesalan yang terpancar di matanya. Dia telah menyadari semua kesalahannya dan ingin membuka lembaran baru bersamamu," ucap Bu Nasri tersenyum lembut.


"Pikiranlah bayimu, Nak. Dia juga membutuhkan sosok ayah yang berada di sampingnya. Lagipula mama bisa melihat jika Dirga adalah sosok ayah yang baik. Dia juga pria yang bertanggung jawab, bahkan dulu saat masih menjadi suamimu dia tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya sebagai suami. Hanya saja dia selalu di hantui rasa cintanya kepada Rania. Sehingga dia tidak bisa menerima kehadiranmu di sisinya. Tapi bukankah sedari awal kau sudah mengetahui itu? Kau sudah tau jika Dirga sangat mencintai Rania. Tapi kau tetap mau terus melangkah walaupun tanpa ada cinta darinya," ucap Bu Nasri kembali sambil menatap lekat wajah Arin.


Mendengar ucapan Bu Nasri, Arin langsung terdiam. Apa yang di katakan Bu Nasri memang benar apa adanya. Dulu dia yang terus berjuang untuk mendapatkan cinta Dirga. Namun, kenapa sekarang dia harus berhenti ketika dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Jika kau masih binggung, pergilah ambil wudhu. Bersujudlah dan minta petunjuk darinya. Karena hanya dia yang tau apa yang terbaik untuk setiap hambanya. Mama yakin setelah ujian yang telah kau lalui akan ada kebahagiaan yang akan menantimu," ucap Bu Nasri tersenyum.


"Mama keluar dulu. Jangan kau pendam kesedihanmu seorang dir, ataupun sibuk berkoar-koar kesana kemari. Lebih baik kau tumpahkan semua bebanmu di setiap sujudmu. Katakan semua beban yang ada di hatimu kepadanya. Mama yakin akan ada jalan terbaik untukmu, Nak," ucap Bu Nasri memeluk Arin dengan hangat lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Arin.


Arin hanya diam mengantuk sambil menatap kepergian Bu Nasri. Setelah melihat Bu Nasri keluar dari kamarnya, Arin langsung menatap mukenah yang tersusun rapi di lemari pakaiannya. Dia berlahan mengambil mukenah itu dan meletakkannya di atas ranjangannya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu.


Arin sholat dengan begitu khusyuknya. Tidak lupa dia menumpahkan semua kesedihan yang dia pendam di dalam doanya. Dia meminta petunjuk untuk jalan yang harus dia tempuh selanjutnya. Dia berharap agar Allah bisa memberikan petunjuk yang terbaik untuknya dan juga Dirga.


...----------------...


Sedangkan Dirga duduk termenung di balkon kamarnya. Dia menatap langit gelap yang di penuhi bintang-bintang dengan tatapan kosongnya. Dia tidak tau harus berbuat apa saat ini, rasa rindunya kepada Arin telah berhasil menghantui pikirannya. Apalagi setelah berinteraksi dengan calon bayinya yang ada di kandungan Arin. Membuatnya semakin yakin untuk terus berjuang untuk mendapatkan Arin kembali.


Bima yang tidak sengaja melihat itu, hanya bisa menatap putranya dengan penuh haru. Dia berjalan mendekati Dirga dan mencoba menemani putranya itu. Bima tau apa yang sedang berada di pikiran Dirga saat ini. Dia yakin jika Dirga sedang merindukan Arin dan juga calon bayi mereka.


"Kau sedang apa, Nak?" tanya Bima duduk di samping Dirga.

__ADS_1


"Papa! papa belum tidur?" tanya Dirga sambil menyeka air matanya yang tergenang di sudut matanya.


"Papa tidak bisa tidur. Kau juga kenapa belum tidur juga? apa kau sedang memikirkan sesuatu?"


Mendengar pertanyaan Bima, Dirga hanya mengangguk kecil. Dia menatap bintang di langit sambil membayangkan senyuman Arin. Senyuman yang penuh keteduhan dan juga semangat untuknya. Walaupun dulu dia tidak tau makna dari senyuman itu. Namun, sekarang dia telah sadar jika senyuman Arin adalah semangat dan kekuatan untuknya.


"Dirga merindukan Arin, Pa! Dirga sangat merindukannya. Kenapa ya, Pa? dulu saat dia ada di samping Dirga, Dirga tidak pernah menghargainya. Bahkan Dirga menganggapnya sebagai penghalang hubunganku dengan Rania. Tapi sekarang," ucap Dirga menunduk sedih.


"Sekarang dia telah pergi meninggalkanku. Dan di saat itu pula aku baru sadar jika aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku sadar jika dia adalah wanita yang berharga. Aku menyesal! Aku menyesal telah menyakitinya, Pa," ucap Dirga menitikkan air matanya.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Nak. Sekarang lebih baik kau terus berjuang. Kejarlah Arin, tunjukkan kepadanya jika kau telah berubah. Buktikan jika kau memang telah menyesalli semua perbuatanmu," ucap Bima menepuk punggung Dirga pelan.


"Kau tenag saja. Papa akan membantumu, papa akan membantumu sekuat tenaga papa. Karena bagi papa kebahagiaanmu adalah segalanya untuk papa," ucap Bima kembali.


"Terima kasih, Pa! semoga saja Dirga bisa membawa menantu dan cucu papa kembali,"

__ADS_1


"Aamiin! doa papa akan selalu bersamamu,"


Bersambung......


__ADS_2