
"Hahaha.... Ia ingcan," ucap Fiona tertawa geli melihat Mila yang tergeletak di lantai.
"Apa benar dia pingsan? dia tidak matikan?" ucap Rania mengoyangkan tubuh Mila mengunakan kakinya.
"Tentu saja tidak, Tante. Mana mungkin iblis seperti dia mati dengan mudah," ucap Gibran turun dari tumpukan barang.
"Kau benar juga," ucap Rania membuka rambut palsu yang dia gunakan untuk menyempurnakan penampilannya.
"Jangan di lepas dulu, Tan. Kita foto dulu," ucap Aulya tidak mau membuang kesempatan untuk berselfie.
"Haha... boleh juga," ucap Rania lalu berfoto dengan dua kuntilanak kecil itu.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya para papa muda mengetuk pintu.
"Sudah! tunggu sebentar," ucap Gibran dan Erlan menyeret tubuh Mila agar papa mereka bisa membuka pintu.
"Ante ini au apa ya?" tanya Fiona mencium aroma yang aneh.
"Bau apa?" tanya Rania meneruskan keningnya.
"Ssstt! papa mau datang. Ayo kita sembunyi," tanya Aulya tersenyum sinis sambil menarik tangan Fiona dan Rania.
"Bagaimana?" tanya Rafi dan Rayyan membuka pintu di ikuti Bisma, Clara dan Randy di belakangnya.
"Papa lihat aja sendiri," ucap Gibran menunjuk ke arah Mila.
"Ha... ha... Ternyata setan takut juga sama setan jadi-jadian ya," ucap Bisma terkekeh geli melihat Mila yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai.
"Ini apa? kenapa basah?" ucap Clara merasakan ada yang banjir di kakinya.
"Ini seperti," ucap Randy menatap ke bagian celana Mila.
"Arghh! jorok," teriak Clara langsung melompat ke arah Rafi.
"Argh! Sayang sepatu mahalku," ucap Rafi ketika sepatunya terkena air ******** Mila.
__ADS_1
"Sepertinya setelah ini kita harus mandi kembang," ucap Bisma terkekeh geli.
Di saat semua orang sibuk menertawakan Mila yang mengompol, Randy malah sibuk celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu. Sedangkan Rayyan yang berada di belakang Bisma tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya.
"Kau tidak usah menakut-nakuti papa. Papa ini rajanya setan, jadi kau tidak akan bisa menakut-nakuti papa," ucap Rayyan ketus sambil menatap Aulya yang mencoba menakut-nakutinya.
"Yah! papa gak asik," ucap Aulya memayunkan bibirnya kesal.
"Ha... ha... kau cocok sekali seperti itu Aulya. Sangat cantik," ucap Clara terkekeh geli melihat penampilan Aulya yang sangat menyeramkan.
"Tante!" ucap Aulya kesal.
"Ayo kita selfie dulu," ucap Bisma langsung bergaya.
"Ayo, Sayang," ucap Randy merangkul Rania lalu bergabung untuk berfoto bersama.
"Kalian mau berfoto atau mau menyelesaikan wanita ini?" tanya Erlan kesal.
"Ok! baiklah. Sudah cukup berfotonya. Lebih baik kita urus saja dia," ucap Bisma.
"Kenapa aku?" tanya Bisma menatap kesal Rayyan.
"Kau 'kan tampan dan bijaksana. Jadi kaulah yang mengedongnya," ucap Rafi tersenyum lalu merangkul pinggang Clara keluar dari gudang itu.
"Ran!" ucap Bisma menatap Randy.
"Sayang! bagaimana Cheesy? pasti dia sudah merindukan kita," ucap Randy mengalihkan pembicaraan sambil merangkul Rania keluar dari gudang itu.
"Sudah! lebih baik paman nikmati saja penderitaan paman," ucap Gibran dan Erlan bijaksana.
"Jadi mau gimana lagi?" ucap Bisma mengusap wajahnya kasar.
"Ternyata kau sangat berat. Pasti ini karena dosamu yang terlalu banyak," oceh Bisma sambil membawa Mila kedalam gendongannya.
"Argh! bukan hanya berat. Tapi kau juga sangat bau. Jika bukan karena ingin bersenang-senang lebih lama lagi, aku tidak akan mau mengendongmu seperti ini," ucap Bisma terus mengoceh kesal karena mencium aroma tidak sedap dari celana Mila.
__ADS_1
"Paman, ini masker!" ucap Gibran memberikan masker kepada Bisma.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" tanya Bisma.
"Kenapa paman menyalahkanku? paman sih kebanyakan mengoceh, bukannya berpikir," ucap Gibran ketus.
"Sudah! paman berjongkok dulu. Biar aku pasangkan," ucap Gibran menatap kasihan Bisma.
Mendengar ucapan Gibran, Bisma langsung berjongkok. Dia membiarkan Gibran memasangkan masker untuk menutup hidungnya. Karena dia juga sudah tidak tahan lau mencium aroma tidak sedap itu yang terus menggangu indra penciumannya.
...----------------...
Setelah menyelesaikan rencana mereka, Randy dan Rania langsung pulang bersama. Randy terus melajukan mobilnya melewati jalanan kota dengan keheningan. Dia terus diam sambil terus pokus menatap ke depan. Rania yang melihat itu memilih untuk diam sambil menatap ke kaca jendela. Dia tidak tau apa yang ada di dalam pikiran Randy saat ini. Sehingga dia memilih untuk diam dan akan membicarakannya sesampainya di rumah.
Saat Rania sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Randy menghentikan mobilnya. Rania yang melihat itu langsung menatap Randy binggung. Terlihat Randy memijit keningnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Rania mencoba memberanikan diri.
"Tidak apa-apa! kepalaku hanya pusing saja," ucap Randy menyandarkan tubuhnya.
"Biar aku yang mengemudikan mobilnya. Kau istirahat saja,"
"Tidak! aku hanya membutuhkan sesuatu," ucap Randy tersenyum sambil menatap bibir mungil Rania.
"Membutuhkan sesuatu?" tanya Rania binggung.
"Em! aku membutuhkan dirimu," ucap Randy tersenyum sambil mendekatkan tububnya dengan tubuh Rania.
"Apa boleh?" tanya Randy sambil menyentuh bibir Rania mengunakan ibu jarinya.
"Apa yang ada di tubuhku adalah milikmu. Jadi kau berhak melakukan apapun sesukamu," ucap Rania tersenyum sambil menatap wajah tampan Randy.
Mendengar ucapan Rania, Randy langsung tersenyum kecil. Dia membelai lembut wajah Rania sambil menelan ludahnya kasar. Rania yang melihat Randy semakin mendekatkan wajahnya lansung memejamkan matanya. Randy langsung mencium bibir Rania dengan penuh kelembutan.
Bersambung......
__ADS_1