
"Hai, Ran!" ucap Clara main masuk saja dan menghentikan pembicaraan Rania dan Nur.
"Hai! ante," ucap Fiona dan Fillio serentak.
"Hai, Fillio dan Fiona! kalian makin mengemaskan saja," ucap Rania dan Nur serentak sambil mencubit gas wajah gembul kedua bocah kembar itu.
"Cheesy! kamu santai sekali sayang," ucap Clara melihat Cheesy yang sedang bermain di pangkuan Nur.
Dengan cepat Clara mengambil Cheesy dan menciumi wajah gembul nya dengan gemas. Tidak mau kalah, Fillio dan Fiona juga berebut untuk mencium Cheesy.
"Ama! Iona uga au ium adek Ecy," ucap Fiona sambil melompat kecil.
"Aku ulu! aku tan kakak," ucap Fillio dengan angkuh.
"Enak aja! akak uman ua belapa enit aja," ucap Fiona ketus.
"Sudah! kalian jaga adik Cheesy dulu ya. Mama harus bicara hal penting dengan Tante Rania," ucap Clara meletakkan Cheesy di lantai.
"Eh! kok Cheesy di taruh di lantai? tunggu aku ambil ambal dulu. Aku juga menyimpan mainan Elran di sini," ucap Nur bangkit dari duduknya.
Dia mengambil ambal yang biasa di gunakan Erlan untuk bermain. Sedangkan Fiona dan Fillio membantu membawakan keranjang mainan Erlan yang begitu banyak.
"Sini biar aku bantu," ucap Clara membantu Nur.
"Sudah siap! sekarang kalian main di sini ya. Bawa adik Cheesy bermain juga. Jika sampai adik Cheesy nangis. Maka, kalian yang salah," ucap Clara dengan tegas.
"Enapa ita ang alah, Ma?" tanya Fiona dengan polosnya.
"Ya karena kalian tidak bisa menjaga adik kalian dengan baik," ucap Clara.
"Alau ami ica aga adik Ecy engan aik. Mama aci kami adik ayo ya," ucap Fillio dengan polosnya.
Mendengar ucapan Fillio dan Fiona, Nur dan Rania langsung terkekeh kecil. Mereka langsung mengingat kelakuan Clara saat sedang hamil yang selalu membuat heboh. Bahkan selalu membuat Rafi pusing tujuh keliling.
"Tante setuju. Fiona dan Fillio 'kan sudah besar. Jadi sudah pantas punya adik bayi," ucap Nur semangat.
"Enak saja. Kakak juga sudah bisa buat adik untuk Erlan," ucap Clara tidak terima. Bagaimana tidak, dia masih dapat membayangkan bagaimana sakitnya saat melahirkan.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku dan Ardiyan sedang mempersiapkannya. Jadi kau dan juga sudah bisa untuk hamil lagi," ucap Nur terkekeh geli.
Mendengar pembicaraan Nur dan Clara, Rania hanya tersenyum kecil. Dia merasa bahagia karena kedua sahabatnya itu bisa merasakan kebahagiaan rumah tangga yang sesungguhnya. Sedangkan dia.
"Tidak! seharusnya ada yang lebih pantas hamil duluan di banting kita," ucap Clara tersenyum sambil menatap Rania.
Melihat tatapan Clara, Rania langsung terlihat gugup. Dia terkekeh kecil sambil berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Kau ini bisa saja. Cheesy masih kecil, jadi aku masih menundanya," ucap Rania tersenyum kecil.
"Tapi kau bilang mau bicara. Memangnya kau ingin membicarakan apa?" tanya Nur.
"Oh ia! aku hampir saja lupa," ucap Clara baru mengingat tujuannya menemui Rania.
"Aku baru mendapat kabar dari direktif yang kita suruh untuk menyelidiki kecelakaan Tika," ucap Clara.
"Lalu bagaimana? apa dia sudah menemukan siapa orangnya?" tanya Rania.
"Benar! kita harus memberi pelajaran yang setimpal. Lihat saja, dia tidak tau saja siapa kita," ucap Nur geram.
"Belum! tapi dia sudah menemukan sidik jari orang yang menyabotase mobil Tika. Dari sana sudah jelas jika ada campur tangan orang lain di balik kecelakaan Tika. Aku yakin jika dugaan kita benar," ucap Clara.
"Tidak! dia ternyata sangat licik. Dia membayar orang lain untuk menyabotase mobil Tika. Bahkan dia melakukan peran yang sangat bagus, sehingga kita percaya jika kecelakaan Tika itu kecelakaan normal. Tapi dia tidak tau saja kita jauh lebih licik darinya," ucap Clara.
"Lebih baik untuk urusan orang bayaran itu kita serahkan saja kepada Rayyan. Kalian tau sendiri 'kan dia paling ahli dalam urusan ini," ucap Nur.
"Kakak benar. Tapi," ucap Rania menunduk.
"Tapi apa, Ran?" tanya Clara menatap bingung Rania.
"Aku rasa lebih baik kita bicarakan masalah ini kepada Mas Randy. Karena bagaimanapun dia yang lebih berhak memberikan hukuman kepada para penjahat itu. Aku yakin Mas Randy juga merasakan hal yang sama seperti kita. Hanya saja dia tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa," ucap Rania.
"Kau benar! lebih baik kau bicarakan masalah ini kepada Randy," ucap Clara tersenyum.
"Tapi ingat! kita tidak boleh gegabah. Kita harus terlihat seperti biasa. Agar mereka tidak tau jika kita terus melanjutkan penyelidikan. Karena kita tidak tau siapa saja dalang di balik kecelakaan Tika. Aku yakin jika Mila ikut terlibat dalam masalah ini," ucap Nur.
"Apa! adi ante Ila ang inih ante Ika," ucap Fillio dan Fiona yang sengaja menguping pembicaraan Clara.
__ADS_1
"Ita ndak oleh iam. Ita halus membalasnya," ucap Fiona mengepalkan tangannya geram.
"Esok ita ajak Tak Lya ke lestolan. ita akan beli pelajaran ada ante agar itu," ucap Fillio.
"Api Tak Lya tan ekolah. Agaimana ita engajaknya?"
"Ecok tan hali inggu. Adi Tak Lya ndak ekolah. asal isoh. itu aja ndak au," ucap Fillio menjitak kecil kening Fiona.
"Atak ang odoh. Iona tan ilang agaimana ita ajak Tak Lya ke estolan. Umah ita an Tak Lya tan auh," ucap Fiona kesal.
"Ingat epon Iona. Ita ambil aja HP papa dan epon aman Ayyan,"
"Oh! ia ya. Iona upa," ucap Fiona terkekeh kecil.
Karena terlalu asik menguping pembicaraan orang dewasa. Kedua bocah itu sampai lupa memperhatikan Cheesy. Cheesy yang sudah mulai belajar merangkak berlahan merangkak mendekati Rania tanpa sepengetahuan Fillio dan Fiona.
"Eh! Adik Ecy ana?" tanya Fiona setelah sadar jika Cheesy tidak ada lagi bersama mereka.
"Aduh! ampus ita. Asti mama alah. Ayo ita cali," ucap Fillio panik.
"Angan-angan Adik Ecy i ulik," ucap Fiona.
"Asal! enyakan onton dlama," ucap Fillio ketus.
"Fiona, Fillio! kenapa kalian tidak jaga Adik Cheesy?" tanya Clara menatap geram kelakuan kedua anaknya itu.
"Emangnya Adik Ecy ana?" tanya Fiona dengan polosnya.
"Sudah! Cheesy memang tidak bisa diam. Jadi kau tidak perlu memarahi mereka," ucap Rania menenangkan Clara.
"Mama ndak oleh alah. Anti epat ua lho," ucap Fillio.
"Ia! alau mama tua. Anti papa ali mama balu," ucap Fiona.
"Fiona!" teriak Clara geram mendengar ucapan Fiona.
"Ante!" ucap Fiona langsung mencari perlindungan kepada Rania.
__ADS_1
Melihat tingkah Clara dan Fiona yang selalu bertengkar Rania dan Nur hanya terkekeh kecil.
Bersambung....