Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 73


__ADS_3

Randy melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melihat kematian sang supir membuat perasaan lega di dalam hatinya. Dia merasa lega, karena akhirnya bisa memberikan hukuman yang setimpal kepada orang yang telah berani menyakiti anak dan istri-istrinya. Di perjalanan dia menatap sebuah toko bunga, dia menepikan mobilnya dan berjalan menuju toko bunga itu.


Dia membeli dua buket bunga lili dan kembali masuk kedalam mobilnya. Dia mencium kedua bunga itu dan meletakkannya di samping kursi pengemudi. Dia kembali melakukan mobilnya sambil tetap fokus menatap ke depan. Hingga akhirnya mobilnya berhenti di pemakaman umum. Dia menatap pemakaman itu sambil membuang napasnya pelan.


Sudah lumayan lama dia tidak berkunjung ke sini. Dia mengambil kedua buket dan turun dari mobilnya. Dia berjalan menelusuri pemakaman itu, hingga akhirnya dia berhenti di makam Tika. Randy berjongkok dan menatap malam Tika sambil menitikkan air matanya. Dia mencium baru nisan yang tertulis nama Tika di sana sambil menangis kesegukan.


"Kami sudah memberikan keadilan untukmu, Sayang. Kami sudah menemukan orang-orang yang telah membuatmu seperti ini," ucap Randy mengelus baru nisan Tika.


"Apa kau tau? Clara dan sahabat kita yang lainnya memberikannya hukuman yang sangat mengerikan. Bahkan mereka menyiapkan satu kantongan cabai rawit yang sudah di haluskan. Mereka meluapkan semua kesedihan mereka atas kehilanganmu kepada supir itu. Dia menghajar supir itu habis-habisan lalu menumpahkan cabe rawit itu ke tubuhnya. Bahkan para suami mereka menjadi kewalahan untuk memenangkan amarah mereka," ucap Randy terkekeh kecil mengingat kehebohan para emak-emak tadi.


"Bahkan Clara sampai menembak supir itu sampai tewas, Sayang. Hatinya sangat terluka atas kehilanganmu, sehingga membuatnya menjadi gelap mata. Jika kau ada di sana, kau pasti merasa sangat kagum atas kasih sayang mereka kepadamu. Mereka semua sangat menyayangimu walaupun kau sudah pergi meninggalkan kami. Tapi aku yakin, aku yakin suatu saat nanti kita semua akan berkumpul lagi. Kau yang tenang di sana ya, tunggu kami. Kami akan menyusulmu, Sayang," ucap Randy menghapus air matanya.

__ADS_1


"Ini aku bawa bunga untukmu. Kau terima ya, kau pasti bertanya untuk siapa bunga yang satu lagi ini 'kan? ini aku sengaja beli dua bunga, yang satu untukmu dan yang satu lagi untuk Rania. Wanita yang telah kau pilihkan untukku. Kau benar! dia memang wanita yang sangat baik. Terima kasih karena telah meninggalkan dia untukku. Ya sudah, aku pulang dulu ya. Besok aku akan ke sini lagi bersama Rania dan putri kita. Aku yakin kau sudah merindukan mereka 'kan? Aku pamit ya," ucap Randy meletakkan satu buket bunga lili di atas gundukan makam Tika.


Tidak lupa sebelum pergi dia mencium baru nisan Tika terlebih dulu. Dia juga mengirimkan doa untuk Tika, dengan harapan Tika bisa tenang di alam sana. Randy berlahan bangkit sambil menatap makam Tika dengan mata berkaca-kaca. Dia melangkahkan kakinya walaupun terasa berat. Dia ingat jika Rania dan Cheesy pasti sudah menunggunya. Apalagi dengan keadaan Rania saat ini, membuatnya tidak tega meninggalkan Rania terlalu lama.


Dia kembali ke mobilnya dan mengemudikan nya menuju rumah sakit. Dia menatap lurus ke depan dan pandangan yang tertuju kepada jalanan kota. Walaupun sudah berlalu, akan tetapi kejadian tadi terus terbayang di pikirannya. Dia membuang napasnya kasar lalu melupakan semua kejadian yang datang menimpanya. Dia akan membuka lembaran baru bersama Rania dan juga Cheesy putri Kecilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Randy langsung menuju ke ruang rawat Rania. Dia melihat Cheesy yang sudah tertidur bersama para bocil dengan sangat lelapnya. Sedangkan Rania duduk di ranjangnya sambil terdiam memikirkan sesuatu. Melihat keadaan Rania yang terus melamun, Randy hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia berjalan mendekati Rania dan duduk di sampingnya.


"Bagaiamana keadaan Arin? apa dia sudah sadar?" tanya Rania menatap Randy dengan tatapan kosong.


"Arin sudah membaik. Namun, dia belum sadar juga. Kau tenanglah, Arin pasti baik-baik saja," ucap Rania menenangkan Rania.

__ADS_1


"Kenapa dia menolongku? seharusnya dia membiarkanku,"


Belum selesai mengucapkan kata-katanya, Randy langsung menutup mulut Rania mengunakan jari telunjuknya. Dia menatap Rania dengan tatapan penuh kekecewaan. Dia sudah kehilangan Tika, bagaiamana mungkin dia akan bisa kehilangan Rania lagi.


"Kenapa kau bicara seperti itu? apa kau tidak memikirkanku dan juga Cheesy. Kami sudah kehilangan Tika. Tapi sekarang kenapa kau ingin meninggalkan kami juga?" tanya Randy sambil menitikkan air matanya.


"Maafkan aku!" ucap Rania menyadari kebodohannya.


"Jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Aku yakin Arin akan sadar dan bisa berkumpul lagi dengan kita. Kau tidak perlu terlalu cemas seperti ini. Aku yakin, di balik semua ini akan ada sebuah rahasia yang kita tidak tau. Sebuah rahasia yang telah Allah siapkan untuk kita maupun Arin. Percayalah, di balik sebuah ujian akan ada hadiah yang akan menanti kita," ucap Randy tersenyum.


"Aamiin! semoga Arin bisa segera mendapatkan kebahagiaannya," ucap Rania tersenyum lalu menengelamkan wajahnya di dada bidang Randy.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2