
"Rin! Kau percaya tidak jika orang yang sudah mati bisa gentayangan?" Tanya Mila menatap Arin dengan penuh kecemasan.
"Maksudmu apa? Kau masih percaya hal takhayul seperti itu?" Tanya Arin sambil terkekeh kecil.
"Aku tidak bercanda, Rin!" Ucap Mila mengendus kesal.
"Ok! Maaf," ucap Arin tersenyum.
"Memangnya kenapa? Kenapa tiba-tiba kau membicarakan hal mistik seperti itu?" Tanya Arin menatap Mila.
"Aku diteror Tika!"
"Apa! Kenapa bisa?"
"Aku tidak tau! Tapi dia terus mengangguku. Mulai dari gudang, telepon, ketukan pintu misterius. Semuanya, membuatku gila," Ucap Mila frustasi.
"Tunggu dulu. Tika mengangumu, bukankah dia sudah meninggal. Lalu bagaimana mungkin dia bisa mengagnggumu," Ucap Arin binggung.
"Aku tidak tau. Tapi dia beberapa hari ini dia terus mengangguku,"
"Tidak mungkin dia mengangguku secara tiba-tiba. Atau mungkin?" Tanya Arin menatap Mila dengan tatapan penuh selidik.
"Kau menuduhku? Mana mungkin aku melenyapkan nya. Lagian aku tidak ada urusan dengannya,"
Mendengar ucapan Mila, Arin langsung menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dia memang tau jika Mila terlibat dalam kecelakaan Tika. Namun, dia tidak bisa mengatakannya secara langsung kepada Mila. Karena dia tau betul bagaimana sikap sahabatnya yang satu itu.
"Aku tidak menuduhmu? Memangnya aku ada mengatakan jika kau yang," Ucap Arin menghentikan ucapannya.
"Gila! Kenapa pertanyaan Arin seperti sedang mengintimidasi diriku?" Batin Mila merasa terpojok dengan pertanyaan Arin.
"Sudahlah! Kita tidak perlu membicarakan hal itu. Aku selalu sendirian di rumah. Jadi aku tidak mau karena pembicaraan konyol ini aku jadi tidak bisa tidur," Ucap Arin menggidik ngeri membayangkan apa yang di alami Mila.
"Memangnya suamimu itu masih mengabaikanmu? Aku penasaran bagaimana sih wajah suamimu yang sok tampan itu. Kenapa dia bisa mengabaikan istri secantik dirimu," Ucap Mila mengepalkan tangannya geram mengingat masalah rumah tangga sahabatnya itu.
__ADS_1
"Suatu saat nanti kau pasti mengenalnya," Ucap Arin tersenyum.
"Kenapa kau seperti merahasiakan suamimu kepadaku?" Tanya Mila menatap Arin dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak apa-apa. Lagian aku tidak tau rumah tanggaku akan berlangsung sampai kapan. Jadi untuk apa aku memperkenalkannya kepadamu. Dia saja tidak memperdulikanku," Jelas Arin tersenyum kecil.
"Kau benar juga! Untuk apa kau memikirkannya jika dia juga tidak memikirkanmu sama sekali," Ucap Mila melahap makanan yang ada di depannya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Maksudnya?" Tanya Mila mengerutkan keningnya binggung mendengar pertanyaan Arin.
"Apa kau masih ingin mengejar cintamu itu?"
"Em! Tentu saja. Selagi aku masih hidup, aku akan tetap memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku," Ucap Mila tidak menyerah.
"Apa kau tidak takut?" Tanya Arin tersenyum.
"Em! Sudah. Kita tidak perlu membahas itu lagi. Lebih baik sekarang kita memanjakan perut kita saja," Ucap Mila mengalihkan pembicaraan.
...****************...
Rania duduk terdiam di dalam kamarnya. Dia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya sambil termenung seorang diri. Ntah apa yang ada di dalam pikiran Rania saat ini, yang pasti dia sedang memikirkan sesuatu.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Rania sampai tidak sadar jika Randy telah pulang. Randy yang melihat Rania sedang termenung sendiri langsung mengerutkan keningnya binggung. Karena tidak biasanya Rania termenung sampai seperti ini. Randy mencoba memperhatikan apa yang sedang di tatap Rania.
Hingga akhirnya Randy sadar jika Rania sedang menatap cincin Tika yang dia berikan. Berlahan Randy juga menatap cincin yang melingkar di jarinya sambil berpikir sejenak. Dia menatap foto pernikahannya yang terpajang di dinding lalu menatap ke arah Rania kembali. Randy tau sebagai seorang istri, Rania pasti ingin menjadi wanita satu-satunya di hati suaminya.
"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Randy mendekati Rania dan duduk di sampingnya.
"Kau sudah pulang, Mas! Maaf, aku tidak mendengar suara mobilmu tadi," Ucap Rania merasa bersalah.
"Tidak apa-apa! Tumben Cheesy cepat tidur," Ucap Randy menciun wajah gembul Cheesy yang sedang tertidur dengan lelapnya.
__ADS_1
"Mas! Dia baru saja tidur. Kau jangan mengangunya seperti itu. Lebih baik kau mandi saja, setelah itu kita makan malam bersama," Ucap Rania.
"Baik, Sayang! Aku mandi dulu ya," Ucap Randy tersenyum sambil mengacak-acak rambut Rania.
"Tunggu! Aku siapkan air hangat dulu ya," Ucap Rania bangkit dari duduknya lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Randy hanya tersenyum sambil mengikuti Rania dari belakang. Dia menatap Rania sambil tersenyum kecil. Berlahan Randy memberanikan dirinya untuk melingkarkan tangannya di perut Rania. Dia juga menengelamkan wajahnya di leher jenjang Rania, sambil menghirup aroma tubuh Rania yang begitu menenangkan pikirannya.
"Sayang!" Ucap Randy sambil mencium leher jenjang Rania.
"Hem!" Dehem Rania sambil berusaha mengatur detak jantungnya.
"Setelah masalah Tika selesai. Kita akan meresmikan pernikahan kita ya,"
Mendengar ucapan Randy, Rania hanya tersenyum kecil. Namun, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang bergerak di bokongnya. Sesuatu yang sangat keras yang terasa menyentuh tubuhnya.
"Mas!"
"Hem!"
"Apa yang menyentuh bokongku,"
"Kau mau tau?" Tanya Randy tersenyum kecil sambil menyentuh tangan Rania.
"Apa?" Tanya Rania mengerutkan keningnya binggung.
"Ini!" Ucap Randy menuntun tangan Rania untuk menyentuh benda pusakanya.
Ketika tangannya menyentuh sesuatu yang besar dan panjang itu, wajah Rania langsung berubah menjadi seperti tomat. Dia menunduk malu, lalu berlari kecil meninggalkan Randy. Melihat itu, Randy langsung tersenyum kecil sambil menatap kepergian Rania.
"Apa kau tidak mau melihatnya?"
"Tidak!"
__ADS_1
Bersambung.....