
"Benar! aku melihat Arin. Aku yakin itu adalah Arin. Dia masih mengandung," ucap Shinta kepada seluruh sahabatnya.
Mendengar cerita Shinta yang mengatakan dia melihat Arin, Wildan langsung bergerak cepat. Dia langsung mengubungi Rayyan dan yang lainnya dan menyuruh mereka berkumpul di kediamannya. Mendengar itu Rabia dan para istri yang lainnya juga ikut berkumpul bersama para suami mereka.
"Dia masih mengandung. Tapi kenapa dokter mengatakan jika dia keguguran?" tanya Rania nampak berpikir.
"Mungkin Arin yang menyuruhnya. Dia sengaja ingin menyembunyikan kehamilannya, agar dia bisa berpisah dengan mudah. Jika Bu Bima tau jika Arin menggungat Dirga, saat dia mengandung. Pasti Bu Bima tidak akan setuju," ucap Rayyan.
"Lebih baik kita bicarakan ini kepada Dirga. Karena hanya dia yang bisa mengambil jalan selanjutnya. Tapi kita akan terus mencari Arin di sekitar lokasi itu. Aku yakin kita akan menemukan jalan untuk bertemu dengannya. Jika Dirga tau jika kandungan Arin baik-baik saja, aku yakin dia akan sangat bahagia. Walaupun dia pernah tidak menganggap kehadirannya," ucap Kinan.
"Sayang! apa kau tau sesuatu?" tanya Rania melihat Randy hanya diam saja.
"Memang dulu saat Arin sadar aku sempat memegang perutnya. Aku merasakan jika ada dalam yang jangal di balik kegugurannya. Tapi karena terlalu senang atas kesembuhannya, aku malah tidak menghiraukan itu. Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal," ucap Randy merasa bersalah.
"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Karena ini adalah jalan yang terbaik. Lihatlah! setelah kepergian Arin, Dirga bisa langsung sadar jika dia tidak bisa hidup tanpanya. Di tambah lagi dengan kebenaran soal kandungan Arin. Aku yakin ada sesuatu di balik ini semua," ucap Rafi menepuk bahu Randy.
"Baiklah! biar aku dan Rayyan yang akan menemui Dirga. Kau Bis, gerakkan seluruh anggotamu," ucap Kinan.
"Sebenarnya aku ini asisten pribadi atau detektif, Sih?" ucap Bisma kesal melihat setiap ada masalah pasti dia yang di suruh untuk terjun langsung.
__ADS_1
"Kau itu bukan detektif ataupun asisten pribadi. Tapi kau itu calon mantunya Kinan Wirawan," ucap Wildan terkekeh.
Mendengar ucapan Wildan, Kinan langsung melemparkan tatapan tajamnya. Melihat tatapan tajam Kinan, Wildan langsung menunduk pura-pura lupa dengan perkataannya.
"Jangan sekali-kali kau memanfaatkan obsesi putriku ke padamu. Jika kau tidak mau mati di tanganku," ucap Kinan menatap tajam Bisma.
"Hai! kau tidak boleh seperti itu sama calon menantumu. Lagi pula aku setuju jika Sania bersama Bisma. Karena kita sudah mengenal dengan jelas sifat Bisma," Ucap Rissa membela Bisma.
"Aku setuju! aku tidak keberatan jika keponakanku nanti nikah sama Bisma. Nanti jika Bisma macam-macam! aku yang akan turun tangan sendiri," ucap Zhia sambil mengepalkan tangannya.
Mendengar ucapan Zhia, Bisma langsung menelan ludahnya kasar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sampai dia menyakiti Sania. Memang Sania adalah anak yang baik dan juga cerdas. Bahkan dia hanya genit kepada Bisma saja. Akan tetapi Bisma merasa tidak pantas bersanding dengan Sania nantinya.
...----------------...
Dirga sedang melakukan rapat dengan rekan bisnisnya. Namun tiba-tiba dia sangat menginginkan rujak. Itu memang sering terjadi kepadanya. Bahkan dia sering makan mangga muda dan berbagai jenis makanan yang aneh-aneh. Bahkan orang-orang yang mengetahui itu merasa sangat aneh melihat tingkah Dirga.
Dirga menatap sekertarisnya yang berada tidak jauh darinya. Melihat tatapan bosnya itu, sekertarisn Dirga langsung menghampirinya. Karena tidak tahan lagi ingin memakan rujak dia mencoba memberanikan diri untuk menyuruh sekertarisnua itu untuk membelinya.
"Kau belikan aku rujak yang pedas. Jangan lupa bayakin mangga muda dan juga kedongdongnya," Bisik Dirga pelan.
__ADS_1
"Apa, Tuan? rujak!" ucap sekertarisnya, sehingga membuat semua orang yang ada di ruang rapat itu langsung menatap ke arah Dirga.
Bahkan Bima juga menatap aneh putranya itu. Dia memang sering memergoki Dirga memakan buah-buahan yang asam. Namun, dia memilih untuk tidak menghiraukannya. Karena mengangap jika Dirga ingin menghilangkan stressnya saja. Akan tetapi mendenfat Dirga yang meminta rujak di jam rapat seperti ini membuatnya semakin binggung.
Melihat semua orang yang menatapnya. Dirga langsung melempar tatapan tajamnya kepada sekertarisnya itu. Padahal dia sudah berbicara sangat pelan agar tidak ada yang mendengarnya. Namun, sekertarisnya itu main nyerocos saja tanpa memikirkan akibatnya.
"Kau belikanlah apa yang dia inginkan," perintah Bima.
"Baik, Tuan!" ucap sekertaris Dirga menunduk patuh lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Dia berjalan menunduk tidak berani melihat tatapan tajam Dirga. Dia hanya bisa berdoa agar ada keajaiban, sehingga pekerjaannya bisa aman.
"Ayo kita lanjutkan," ucap Bima.
Mendengar ucapan Bima, semua yang ada di ruangan itu kembali fokus ke topik pembicaraan mereka. Sedangkan Dirga hanya diam memperhatikan dengan wajah memerah nya.
"Mati aku! kenapa mulut ini tidak bisa di ajak kompromi, sih? Mudah-mudahan saja ada mukjizat yang datang dan merubah suasana hati Tuan Muda. Jika tidak! maka matilah aku," gumam sekertaris itu mengomeli dirinya sendiri.
Bersambung.....
__ADS_1