
Arin memijit kepalanya pelan. Dia tidak tau kenapa beberapa hari ini kepalanya sering terasa berat. Bahkan selera makannya juga berkurang. Arin mencoba melihat kalender yang terpajang di meja dan memeriksa tanggal dengan teliti.
"Apa! aku sudah telat selama seminggu. Apa jangan-jangan," batin Arin terkejut mengingat kejadian pada malam Dirga yang tidak sengaja menyetubuhinya.
"Maaf! aku tau kau belum makan. Jadi aku masakkan nasi goreng untukmu," ucap Dirga tiba-tiba datang.
Dia membawa mampan yang berisi sepiring nasi goreng lengkap dengan air mineralnya. Melihat itu, Arin langsung menyembunyikan kalender yang ada di tangannya dan menatap Dirga binggung.
"Maaf! aku hanya memasak nasi goreng sederhana ini. Karena aku lihat bahan masakan di kulkas hanya terbatas," ucap Dirga meletakkan mampan itu di depan Arin.
"Maaf! aku lupa belanja kebutuhan dapur," ucap Arin gugup.
"Tidak apa-apa. Besok kau boleh belanja. Sekarang lebih baik kau makan saja,"
Mendengar ucapan Dirga, Arin hanya tersenyum mengangguk. Dia berlahan meraih nasi goreng itu dan mencicipi nya. Di suapan pertama, mata Arin langsung membulat seketika. Dia menatap Dirga dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
"Kenapa?" tanya Dirga melihat tatapan Arin.
"Ternyata kau pintar memasak ya. Masakanmu sangat enak," ucap Arin langsung menyantap nasi goreng itu dengan lahapnya.
"Kau habiskan saja. Aku mau istirahat," ucap Dirga membaringkan tubuhnya di samping Arin.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dirga, Arin hanya mengangguk kecil lalu kembali melahap nasi gorengnya sampai habis. Setelah selesai Arin langsung menyimpan piring kotornya dan kembali ke kamarnya. Dia menatap Dirga yang telah tertidur dengan pulas.
Melihat perhatian kecil dari Dirga, hati Arin merasa sangat bahagia. Dia tidak menyangka jika ternyata Dirga masih perduli dengannya. Walaupun hanya perhatian yang sangat sederhana, akan tetapi dia tetap bersyukur.
"Apa aku menerima tawaran papa ya. Jika aku lihat Rania sepertinya wanita yang sangat baik. Bahkan papa sepertinya sangat mengenalnya," batin Arin mengingat nasehat Bima.
Arin berlahan mengambil ponselnya dan mencari akun media sosial Rania. Di sana dia melihat kebersamaan Rania dengan Tika dan juga sahabatnya yang lain. Melihat kedekatan mereka semua, Arin merasa sangat yakin jika Rania tidak seperti yang dia pikirkan. Apalagi melihat Rania yang rela menjadi ibu sambung putri dari sahabatnya sendiri. Arin yakin, hanya wanita yang berhati luas yang mampu melakukan itu.
Setelah puas memeriksa akun media sosial Rania, Arin kembali mengingat perubahan moodnya belakangan hari ini. Berlahan dia memegang perutnya yang masih datar sambil menatap Dirga yang telah tertidur pulas di sampingnya.
"Jika aku benaran hamil. Apa kau mau menerima kehadiran bayi ini, Mas? atau kau juga akan mengacuhkannya seperti kau mengacuhkanku selama ini?" batin Arin menatap Dirga dengan mata berkaca-kaca.
...----------------...
"Apa kau yakin dia orangnya?" tanya Rafi menatap foto pemuda yang di berikan detektif yang mereka sewa.
"Benar, Tuan. Saya sudah mencocokkan sidik jarinya. Bahkan kami juga sudah mendapatkan hasil rekaman CCTV yang ada di jalan depan rumah dokter Randy," ucap Ditektif itu sambil menghubungkan plashdisck yang berisi rekaman CCTV di sekitar perumahan.
"Tuan lihat perhatikan ini dengan baik," ucap Ditektif itu sambil memutar rekaman CCTV itu.
"Kau benar! memang dia orangnya. Kita harus segera menangkapnya," ucap Rayyan terus memperhatikan CCTV itu.
__ADS_1
"Sebaiknya tuan bertindak dengan hati-hati. Karena mereka sangat licik. Bahkan mereka juga sempat berhasil menghapus rekaman ini. Untuk saja kita memiliki hacker yang hebat untuk memulihkan rekaman itu," ucap Ditektif itu.
"Tentu dong! asisten siapa dulu," ucap Rafi dengan bangganya mengingat kini kerja Bisma yang berhasil memulihkan rekaman CCTV itu.
"Asistenmu memang yang nomor satu dalam urusan ini. Bukan hanya itu, dia juga telah berhasil membuat keponakanku tergila-gila kepadanya," ucap Rayyan terkekeh kecil.
"Maksudmu Sania?" tanya Rafi mengerutkan keningnya binggung.
"Tentu saja! jadi siapa lagi?" ucap Rayyan kembali fokus ke rekaman CCTV itu.
"Kita harus menangkapnya terlebih dulu, Tuan. Setalah itu kita baru bisa mencari dalang yang sebenernya," ucap Detektif.
"Kau benar! kita harus bertindak cepat," ucap Rayyan melangkahkan kakinya sambil menarik kerah baju Rafi.
"Eh! bajuku. Tidak perlu kau menyeretku seperti itu. Kau kira aku ini maling apa," ucap Rafi kesal aambil merapikan kemejanya.
"Ups! maaf," ucap Rayyan terkekeh tanpa dosa lalu kembali melangkahkan kakinya.
"Dasar tuan muda sedeng," gumam Rafi kesal lalu melangkahkan kakinya mengikuti Rayyan.
Melihat kelakukan kedua sahabat itu, Ditektif yang ada di belakang mereka hanya menggeleng kecil. Walaupun mereka adalah pria sukses dan ternama, bahkan sudah menjadi papa dari para bocah-bocah yang sangat pintar. Namun, kelakuan mereka tidak jauh beda dengan anak kecil yang selalu bertengkar karena masalah sepele.
__ADS_1
Bersambung....