
Melihat Rani sudah sadarkan diri, Clara dan Zhia langsung mendekatinya dengan penuh kebahagiaan. Mereka langsung memeluk Rania dan terus mengucapkan syukur. Melihat keadaan Rania, suatu keajaiban dia bisa sadar secepat ini. Apa lagi melihat luka yang ada di kepadanya. Akan tetapi Rania kini sadar tanpa ada kekurangan apapun. Bahkan wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Aku sudah sadar! kalian jangan sedih seperti itu dong," ucap Rania melihat Zhia dan Clara terus menangis memeluknya.
"Kau jahat! gara-gara kau aku jadi takut. Aku tidak bisa membayangkan jika aku akan kehilangan kau juga," ucap Clara menahan isak tangisnya sambil terus memeluk Rania.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu. Jika aku pergi siapa yang akan kau omelin setiap harinya," ucap Rania tersenyum sambil mengoda Clara.
"Cheesy mana? apa dia baik-baik saja?" ucap Rania mencari keberadaan Cheesy.
Saat Rania memanggil namanya, Cheesy langsung terbangun dari tidurnya. Seakan dia tau jika Rania sedang menghawatirkannya. Dengan cepat Zhia mengambil Cheesy dari ranjangnya lalu memberikannya kepada Rania.
"Lihat! dia baik-baik saja," ucap Zhia meletakkan Cheesy dalam pangkuan Rania.
Walaupun punggungnya masih terasa sakit karena terkena benturan. Namun, semua rasa sakitnya langsung menghilang ketika melihat wajah Cheesy. Rania langsung membawa tubuh mungil Cheesy kedalam pelukannya. Dia mencium wajah gembul Cheesy sambil menitikkan air matanya. Dia merasa gagal dalam menjaga Cheesy karena telah membuat Cheesy terluka.
"Tangan Cheesy kenapa?" tanya Rania ketika melihat tangan Cheesy yang di perban.
"Tangan Cheesy terkilir. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia sudah membaik sekarang," ucap Randy mengelus rambut panjang Rania.
"Lalu Arin?" tanya Rania sehingga membuat semuanya langsung terdiam. Clara, Zhia dan Randy langsung saling lempar pandangan. Mereka tidak tau harus bagaimana menceritakannya kepada Rania.
__ADS_1
"Em! Arin belum sadar, Ran. Dia masih berada di ruang ICU," ucap Clara pelan.
"Lalu kandungannya? kandungannya baik-baik saja 'kan?"
"Kandungannya tidak bisa di selamatkan," ucap Randy menunduk.
Tes!
Air mata Rania langsung menetes mendengar ucapan Randy. Dia merasa bersalah karena demi menyelamatkannya, Arin harus kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya. Baru saja hubungannya dan Arin membaik. Namun, sekarang cobaan yang begitu berat kembali datang menerpa hubungan di antara mereka.
"Apa bisa kau antar aku menemui Arin. Aku ingin melihat keadaannya," ucap Rania menatap Randy penuh permohonan.
"Tapi!" ucap Randy mengingat jika Bu Bima ada di sana. Dia tidak mau melihat istrinya di caci maki oleh nenek sihir itu.
Melihat tatapan Rania, Randy hanya mengusap wajahnya kasar. Bagaimanapun Rania memang harus menemui Arin. Karena jika bukan karena Arin, mungkin Rania yang sekarang berada di ruang ICU itu. Mau tidak mau, Randy akhirnya setuju untuk menemani Rania untuk menemui Arin.
"Baiklah!" ucap Randy membuang napasnya kasar.
Dia mengambil kursi roda dan memindahkan tubuh Rania ke kursi roda itu dengan cara menggendongnya. Randy mendudukkan Rania di kursi roda itu dan meletakkan botol infus Rania di besi yang ada di kursi roda itu.
"Zhi! tolong jaga Cheesy ya. Aku tidak mau jika Cheesy mendengar mamanya di hina," ucap Randy kepada Zhia.
__ADS_1
"Baiklah! kalian pergi saja. Biar Cheesy aku yang jaga," ucap Zhia mengendong Cheesy.
"Ran! aku ikut dengan kalian ya. Jika nanti nenek peyot itu macam-macam, biar aku yang menghadapinya," ucap Clara.
"Baiklah! tapi ingat jaga ucapanmu. Walaupun seperti itu, dia tetap lebih tua dari kita," ucap Rania tersenyum.
"Ok! tapi jika aku tidak keceplosan ya," ucap Clara santai lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rania.
Mendengar ucapan Clara, Rania hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan. Randy berlahan mendorong kursi roda Rania menuju ruang rawat Arin. Dia terus berusaha tenang untuk menghadapi ucapan pedas yang akan datang menerpa isterinya.
Sesampainya di ruangan Arin, mereka langsung melihat tatapan tajam Bu Bima. Melihat kedatangan Rania, Bu Bima langsung melancarkan tatapan tidak sukanya. Dia menatap Rania dengan tatapan penuh kebencian. Bahkan tatapan itu jauh lebih tajam dari tatapannya yang sebelumnya.
"Kenapa kau datang ke sini? apa kau ingin menertawakan keadaan menantuku? sekarang kau sudah puas 'kan? bukan hanya mengambil hari suaminya, sekarang kau juga merebut hartanya yang paling berharga," ucap Bu Bima menatap tajam Rania.
"Aku tidak ada sedikitpun niat jahat untuk Arin. Tante saja yang selalu mengangap buruk diriku. Aku tau jika aku dulu sering berbuat jahat. Tapi tidak selamanya aku seperti itu, bahkan aku juga sudah mengiklaskan Dirga untuk menikah dengan Arin," ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Alasan! hitam tetaplah hitam. Tidak akan pernah menjadi putih. Kau terlahir dari orang yang serakah dan tidak punya hati. Jadi darah itu akan tetap mengalir di tubuhmu," ucap Bu Bima kesal.
"Darah yang mengalir di dalam tubuh kita tidak bisa menentukan bagaimana sifat kita. Apa anda lupa jika kita semua bukanlah malaikat? Kita hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa," ucap Clara menatap tajam Bu Bima.
"Anda bisa melihat kesalahan sahabat saya. Lalu bagiaman dengan anda? apakah anda orang suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Lalu bagaimana anda yang tidak pernah menjaga mulut Anda yang berbisa itu. Jika anda melihat kesalahan orang lain, maka koreksi lah kesalahan anda terlebih dahulu. Ingat, perkataan anda adalah cerminan dari diri anda sendiri," ucap Clara tersenyum sinis sambil menatap tajam Bu Bima.
__ADS_1
Bersambung.......