Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 95


__ADS_3

Hari ini Randy menyuruh Rania untuk datang ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Kebetulan Fiona yang sedang berada di titipkan oleh Clara kepadanya. Karena melihat Bik Inah yang sedang sibuk, akhirnya Rania memilih untuk membawa Fiona dan Cheesy untuk ikut bersamanya.


"Fiona! Cheesy, kalian mau ikut ngak?" tanya Rania menatap Cheesy dan Fiona yang sedang bermain bersama.


"Mama!" ucap Cheesy langsung berlari kecil mendekati Rania.


"Ante au ana?" tanya Fiona menarap penampilan Rania yang telah rapi.


"Tante mau ke rumah sakit. Kau ikut tante ya, nanti jaga adik Cheesy di sana," ucap Rania tersenyum.


"Umah akit! ante agi akit ya?" tanya Fiona meletakkan tangannya di kening Rania.


"Tidak! Tante tidak sakit. Tante ingin mengecek kandungan tante,"


"Cek andungan!"


"Ia, Sayang! tante ingin melihat apakah bayi yang ada di dalam perut tante sehat atau tidak,"


"Anti ita ica iat adiknya ya ante?"


"Ia! nanti Paman Randy akan menujukkan bayinya kepada kita,"


"Holee! alau itu Iona au ikut. Iona au iat adik ayi," ucap Fiona penuh semangat.


"Kalau begitu ayo! nanti jangan nakal di sana ya. Nanti paman Randy marah lho,"

__ADS_1


"Siap ante! Iona anji ndak atan akal,"


Rania langsung menuntun Fiona dan Cheesy menuju mobil. Dia mendudukkan kedua gadis kecil itu di kursi belakang. Setelah memastikan kedua gadis cantik itu sudah duduk dengan nyaman, Rania langsung menuju ke kursi pengemudi. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sesang sambil sesekali melirik ke kaca spion depan untuk melihat Cheesy dan Fiona.


Sepanjang perjalanan, Rania melihat jika Cheesy dan Fiona nampak bernyanyi bersama. Walaupun hanya mereka berdua yang mengerti lagu apa yang sedang mereka nyanyikan. Rania hanya bisa tersenyum menatap kebahagiaan keduanya. Bahkan sesekali Rania juga beryanyi mengikuti irama lagi Fiona dan Cheesy.


Setelah seharian mengurus Cheesy dan Fiona secara bersamaan. Rania merasa jika merawat dia anak sekaligus tidak terlalu repot. Walaupun kita bisa menjadi iblis dan ibu peri dalam sekejab. Namun, setelah melihat senyuman dan tawa keduanya, rasa lelah Rania langsung menghilang seketika.


"Kau yang sehat di dalam ya, Nak," gumam Rania menatap perut datarnya.


Setelah sampai di rumah sakit, Rania langsung menepikan mobilnya dan menurunkan Cheesy dan Rania secara bergantian. Karena Cheesy yang belum lancar berjalan, Rania memilih untuk menggendongnya. Sedangkan Fiona berjalan sambil memegang tangannya.


Mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil berbincang-bincang kecil. Melihat Rania datang bersama kedua gadis yang mengemaskan itu, para rekan kerja Randy langsung menyapanya dengan hangat. Bahkan ada juga yang menyempatkan diri untuk mencium wajah gembul Cheesy dan Fiona.


"Ante! ihat itu!" ucap Fiona menujukkan sederetan wanita hamil yang sedang mengantri.


"Enapa elut eleka ecal ante?" tanya Fiona melihat perut para ibu hamil itu.


"Em! nanti kau tanyakan saja kepada pamanmu," ucap Rania tidak mengerti harus menjawab apa.


"Aman Andy!" ucap Fiona langsung melepas gengaman tangan Rania.


Dia melihat Randy yang ingin masuk ke dalam ruangannya. Melihat pamannya itu, Fiona langsung tidak sabar untuk melontarkan pertanyaannya. Karena asik berlari dia sampai tidak segaja kesandung gamis seorang pasien yang juga sedang duduk mengantri.


"Aduh! aaf ante. Iona ndak engaja," ucap Fiona menatap wanita yang mengunakan cadar itu.

__ADS_1


"Fiona, Sayang. Kenapa berlarian seperti itu?" tanya Randy mencoba membantu Fiona.


"Maaf! keponakan saya memang tidak bisa diam," ucap Rania meminta maaf kepada wanita di depannya.


"Arin! ini aku bawakan minum untukmu," ucap Denis tiba-tiba datang sehingga Rania langsung menatap wanita bercadar itu dengan lekat.


"Arin! ini kau?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar pertanyaan Rania, Arin langsung bangkit dari duduknya. Dia berusaha untuk kabur agar terhindar dari pertanyaan Rania. Namun, Rania langsung menahannya dan tidak membiarkannya untuk pergi..


"Arin! kau Arin sahabatku 'kan? aku tau kau Arin sahabatku. Kenapa kau pergi meninggalkanku?" tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf! mungkin kau salah orang. Dia adalah istriku," ucap Denis mencoba membantu Arin.


"Tidak! kau pasti berbohong. Aku tau kau Arin sahabatku," ucap Rania penuh keyakinan lalu menatap jari jemari Arin.


"Ini! ini buktinya. Ini adalah cincin pernikahanmu dengan Dirga. Kau tidak perlu berbohong lagi. Aku tau kau Arin," ucap Rania menatap cincin pernikahan yang melingkad di jari manis Arin.


"Ante Alin! enapa kau elgi? enapa kau enolong ante Ania ika kau alah embuatnya di salahkan. Apa kau au ika dia di salahkan kalena au elgi. Enapa au angat ahat ama Ante Alin?" ucap Fiona menatap tajam Arin.


"Ibu Arin! silahkan masuk," ucap suster memanggil nama Arin.


"Arin! ayo kita bicarakan di dalam. Aku tau ini kau. Kau tidak perlu berbohong lagi," ucap Randy dengan tegas.


"Apa kau tidak dengar apa kata Fiona? kenapa kau menolongku jika kau malah membuatku semakin di benci? dan masalah kandunganmu? kandunganmu baik-baik saja. Tapi apa kau tau. Karena kau menolongku aku sudah di cap sebagai pembunuh. Bahkan bukan hanya mama mertuamu, tapi juga orang di luar sana. Kenapa kau menolongku jika kau hanya ingin membuatku di benci? lebih baik kau membiarkanku ketabrak mobil itu saja," ucap Rania dengan bibir bergetar karena menahan tangisnya.

__ADS_1


Memang setelah kejadian itu, banyak sindiran pedas yang terlontar kepada Rania. Bagaiamana tidak, karena demi menolong mantan kekasih suaminya, Arin harus kehilangan bayinya. Bukan hanya itu, dia juga pergi dan mengingat suaminya. Mendengar berita itu, banyak yang menduga jika Arin pergi karena Rania. Walaupun Rania sudah bersetatus menjadi istri Randy. Akan tetapi sindy pedas para netijen tetap terlontar kepadanya.


Bersambung....


__ADS_2