
Mendengar Rania dan Clara menyelidiki masalah penyeludupan barang restoran, Randy langsung menghubungi Rania. Jujur saja dia tidak mau kehilangan wanita yang sangat dia cintai untuk yang kedua kalinya. Perasaan cemas terus melanda perasaan Randy sehingga membuat Rayyan dan Rafi menatapnya dengan penuh iba.
"Bagaimana? apa Rania tidak mengangkat pangilanmu?" tanya Rafi mendekati Randy.
"Tidak! apa lebih baik aku menghampirinya saja?" tanya Randy khawatir.
"Tidak usah! para bocil ikut bersama mereka. Aku sudah menghubungkan panggilan darurat dari ponsel Gibran ke ponselku. Jika terjadi sesuatu sudah pasti Gibran menghubungiku," ucap Rayyan mengingat kejeniusan putranya itu.
"Jika kau tidak yakin, biar aku hubungi Clara dulu ya," ucap Rafi merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih itu di dalam sana.
Rafi langsung menghubungi Clara untuk memastikan jika mereka baik-baik saja. Tidak menunggu lama sambungan pangilannya langsung terhubung.
"Apa, Pa? apa papa elpon ami. Papa angin aja, apa papa ndak au ika ami emang ibuk," ucap suara cendel Fiona dari seberang sana.
"Fiona! mama mana? kenapa ponsel mama ada samamu?" tanya Rafi mengerutkan keningnya binggung.
"Ami edang akan! mama agi i oilet," ucap Fiona simple.
"Makan? memangnya kalian ada di mana?"
"I ade isa! ante Lania teraktir ami. Papa atang aja, akan annya asih anyak,"
"Baiklah! papa akan ke sana. Lalu bagaimana dengan tugas kalian?"
"Hallo paman! paman tenang saja, tugas kami sudah berjalan dengan lancar. Apa paman tidak mau menonton film eksen sebentar lagi?" ucap Aulya mengambil alih ponsel Fiona.
__ADS_1
"Film eksen?" tanya Rafi binggung.
"Ia! paman ke sini saja. Paman ajak papa dan paman Randy ya. Awas jangan sampai kalian ketinggalan,"
"Ia! kami akan ke sana," ucap Rafi mengerutkan keningnya binggung karena tidak mengerti apa yang di bicarakan Aulya.
"Sudah! kami mau lanjut makan dulu. Dadah paman tampan," ucap Aulya dengan mentelnya lalu mematikan sambungan telepon mereka.
"Dasar Aulya!" ucap Rafi terkekeh kecil mendengar rayuan Aulya.
"Bagaimana?" tanya Randy dan Rayyan menatap Rafi.
"Kita di suruh ke cafe biasa. Katanya akan ada film eksen. Tapi aku tidak mengerti apa itu," ucap Rafi.
"Apa lagi rencana para bocil itu?" tanya Rayyan memukul jidatnya pelan mengingat kejahilan para bocil.
"Tapi aku rasa kejahilan mereka juga ada untungnya. Jadi kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk memberi pelajaran pada wanita itu," ucap Rayyan kembali.
"Sudah! lebih baik kita ke sana sekarang. Sebelum kita terlambat menonton pertunjukan mereka," ucap Bisma melangkahkan kakinya menjauhi ketiga papa muda itu.
"Kau mau ikut juga? lalu bagaimana dengan montir itu?" tanya Randy.
"Kau tenang saja! aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjaganya. Sekarang ayo, apa kau tidak mau melihat orang yang membunuh istrimu menderita. Para bocil itu tidak akan mau menunggu lama untuk melancarkan kenakalan mereka," ucap Rafi menarangkul Randy.
"Baiklah! ayo kita lihat pembalasan apa yang di berikan para bocil itu," ucap Randy melangkahkan kakinya mengikuti para sahabatnya.
__ADS_1
...----------------...
"Apa, Dok! jadi aku hamil?" tanya Arin melihat hasil pemeriksaan kandungannya.
"Ia, Nyonya! anda sedang mengandung dua minggu. Saya harap nyonya bisa menjaga kandungan anda dengan baik. Anda harus menjaga waktu istirahat anda jangan sampai anda kelelahan," jelas Dokter itu.
"Saya perhatikan nyonya sedang banyak pikiran. Jika nyonya terus seperti ini saya takut akan berpengaruh kepada janin nyonya. Ini saya buatkan resep obat beserta vitamin untuk nyonya. Nyonya juga harus menjaga asupan nutrisi kandungan nyonya. Ingat kandungan nyonya masih sangat muda. Jadi di usia kandungan seperti ini masih sangat rentan," ucap Dokter itu menatap iba Arin.
"Ia, Dok! Terima kasih ya, Dok. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Arin menerima resep obat pemberian dokter itu.
"Baiklah! jangan lupa terus periksa kandungannya ya nyonya," ucap Dokter itu tersenyum ramah.
"Baik, Dok. Kalau boleh tau apa dokter Randy sedang tidak masuk kerja hari ini?" tanya Arin mengingat jika dia belum melihat Randy sedari tadi.
"Dokter Randy sedang libur hari ini, Nyonya. Mungkin besok dia akan masuk bekerja lagi,"
"Oh! baik, Dok. Terima kasih ya, Dok," ucap Arin tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
"Sama-sama, Nyonya," ucap dokter itu tersenyum.
Arin berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan pikiran kosong. Dia meraba perutnya yang masih datar sambil menitikkan air matanya. Kehamilan yang seharusnya membawa kebahagiaan malah membawa luka pada hatinya. Dia tidak tau bagaimana nasibnya dengan bayinya setelah ini. Karena dia tau jika Dirga tidak pernah mengharapkan kehadirannya dan juga calon bayinya.
"Sayang! kamu yang kuat di dalam ya, aku yakin kita akan kuat menghadapi semua ini," ucap Arin mengusap air matanya.
Bersambung....
__ADS_1